Beranda » MY STUDY » LAPORAN PRAKTIKUM PEMULIAAN TANAMAN SELEKSI MASSA

LAPORAN PRAKTIKUM PEMULIAAN TANAMAN SELEKSI MASSA

Calendar

Desember 2012
J S M S S R K
« Sep   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

       I.            TUJUAN PRAKTIKUM

  1. Memahami konsep dan tujuan seleksi massa
  2. Mengetahui tentang metode-metode seleksi massa
  3. Menguasai cara-cara penentuan tanaman yang akan diseleksi berdasarkan penampilan fenotip

 

    II.            LANDASAN TEORI

 

Kacang Koro Pedang (Canavalia gladiata)

Kacang koro pedang merupakan salah satu jenis koro yang dapat ditemukan dengan mudah di Indonesia. Kara Pedang (Canavalia gladiata), berasal dari Asia atau Afrika. Kara Pedang secara luas ditanam di Asia Selatan dan Asia Tenggara, terutama di India, Sri Lanka, Myanmar dan Indo-China. Dan kini telah tersebar di seluruh daerah tropis dan telah ternaturalisasi di beberapa daerah termasuk juga Indonesia.

(http://www.kehati.or.id/florakita/printer.php?photoid=868).

Tanaman koro pedang (Canavalia gladiata), Merupakan tanaman pemanjat bertahunan yang tumbuh cepat dan berkayu dengan panjang 3—10 m. Berdaun tiga, daun berbentuk membundar telur, melancip, berbulu jarang pada kedua sisinya. Perbungaan tandan di ketiak; bunga sering terkeluk balik berwarna putih. Buah polong, berbentuk memita-lonjong, melebar pada ujungnya, kadang-kadang melengkung dengan bubungan, berisi 8—16 biji. Biji berbentuk lonjong-menjorong, berwarna merah muda, merah, coklat kemerahan hingga hampir hitam, dan ada pula yang berwarna putih.

Nama lain kara pedang (Canavalia gladiata) adalah kara adalah kara parasman.Di Jawa Tengah, kara pedang dikenal dengan nama koro bedog, koro bendo, koro loke, koro gogok, koro wedhung, dan koro kaji ( Lahiya, 1983, dalam Handajani, 1993). Di Jawa Barat, kara pedang dikenal dengan nama kaos bakol ( Maradjo, 1976, dalam Handajani, 1993),dan dalam bahasa Inggris disebut Sword Jack Bean.

Sedangkan klasifikasi kacang kara pedang adalah sebagai berikut :

Kingdom         : Plantae (tumbuhan)

Subkingdom    : Tracheobionta (berpembuluh)

Superdivisio    : Spermatophyta (menghasilkan biji)

Divisio             : magnoliophyta (berbunga)

Kelas               : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub-kelas         : Rosidae

Ordo                : Fabales

Familia            : Fabaceae (suku polong-polongan)

Genus              : Canavalia

Spesies            : Canavalia gladiata (Jack.) DC.

Pengertian Seleksi Massa

Seleksi massa (dalam pemuliaan tanaman) atau seleksi individu (dalam pemuliaan hewan) adalah salah satu metode seleksi yang tertua untuk memilih bahan tanam yang lebih baik pada generasi berikut.(Makmur, 2000)

Seleksi massa adalah seleksi yang digunakan untuk mengembangkan varietas bergalur banyak yang populasi dasarnya mempunyai keragaman genetik tinggi yang diperoleh dari persilangan antara sejumlah varietas (Anggarini, 2011)

Seleksi Massa merupakan metode seleksi tertua. (Poespodarsono, Soemardjo, 1988)

Tujuan Seleksi Massa

Tujuan Seleksi Massa antara lain, yaitu memperbaiki populasi secara umum dengan memilih dan mencampur genotipe – genotipe superior.

Macam-macam Seleksi Massa

a.      Seleksi Massa Positif

Seleksi Massa Positif adalah pemulia mengamati penampilan fenotipe setiap individu dalam suatu populasi lalu memilih individu yang akan dipelihara keturunannya kelak.

b.      Seleksi Massa Negatif (disebut juga roguing)

Seleksi Massa Negatif, terutama untuk memelihara kemurnian sifat suatu populasi individu-individu yang menyimpang dari penampilan normal dibuang.(Makmur, 2000)

Metode Seleksi Massa

Seleksi massa (dalam pemuliaan tanaman) atau seleksi individu (dalam pemuliaan hewan) adalah salah satu metode seleksi yang tertua untuk memilih bahan tanam yang lebih baik pada generasi berikut.

Dalam program pemuliaan, seleksi ini juga merupakan yang paling sederhana dan banyak pemulia hanya mengandalkan nalurinya dalam menjalankan metode ini, meskipun dasar ilmiah untuk pelaksanaannya sudah tersedia. Dalam praktik sehari-hari, pemulia mengamati penampilan fenotipe setiap individu dalam suatu populasi lalu memilih individu yang akan dipelihara keturunannya kelak. Praktek yang demikian juga disebut seleksi massa positif. Seleksi massa negatif (disebut juga roguing) juga dapat dilakukan, terutama untuk memelihara kemurnian sifat suatu populasi: individu-individu yang menyimpang dari penampilan normal dibuang. Kalangan pemuliaan tanaman menamakan seleksi massa karena biasanya cara seleksi ini dilakukan terhadap ukuran populasi yang besar dalam pertanaman di ladang. Pemuliaan hewan mengistilahkan sebagai seleksi individu karena seleksi didasarkan atas dasar penampilan individu, bukan kerabat dari individu tersebut.

Kemajuan seleksi dalam seleksi massa adalah yang terbesar dari semua metode seleksi yang ada, namun harus memperhatikan beberapa hal. Latar belakang lingkungan harus dipertimbangkan dalam melakukan seleksi massa karena seleksi didasarkan dengan fenotipe. Masalah lainnya adalah apabila suatu sifat tidak dapat diamati langsung pada suatu individu, seperti produksi susu per hari dari sapi pejantan. Untuk mengatasinya, metode seleksi berbasis kerabat perlu dilakukan. Penggunaan seleksi dengan penanda (marker-assisted selection) berpotensi menghilangkan masalah-masalah ini.

 III.            METODE

Alat Dan Bahan

  1. Penggaris
  2. Label
  3. Rafia
  4. Tanaman koro pedang

Cara Kerja

  1. Tentukan Karakter yang digunakan untuk seleksi tinggi ≥ 60 cm
  2. Amati seluruh individu dalam populasi berdasarkan karakter yang telah dipilih
  3. Catatat bila tanaman tersebut memiliki ciri khusus atau perbedaan dari tanaman yang lainnya
  4. Lakukan analisa dari data tersebut
  5. Lakukan seleksi pada populasi tersebut berdasarkan karakter yang telah dipilih
  6. Beri tanda pada individu tersebut
  7. Kumpulkan benih dari seluruh individu terpilih dalam satu kantong untuk ditanam pada musim berikutnya

 

 IV.            HASIL PERCOBAAN

No

x

x – x̅

(x – x̅)2

1

80

13.962

194.94

2

65

1.038

1.08

3

60

6.038

36.46

4

65

1.038

1.08

5

61

5.038

25.38

6

68

1.962

3.85

7

67

0.962

0.93

8

68

1.962

3.85

9

67

0.962

0.93

10

65

1.038

1.08

11

68

1.962

3.85

12

64

2.038

4.15

13

60.5

5.538

30.67

Σ

858.5

43.538

308.23

 

x̅͞ = 66.038

 

No

x

Frekuensi

x – x̅

(x – x̅)2

F (x – x̅)2

1

60

1

6.038

36.46

36.46

2

60.5

1

5.538

30.67

30.67

3

61

1

5.038

25.38

25.38

4

64

1

2.038

4.15

4.15

5

65

3

1.038

1.08

3.24

6

67

2

0.962

0.93

1.86

7

68

3

1.962

3.85

11.55

8

80

1

13.962

194.94

194.94

 

x̅͞ = 66.038

13

 

 

 

Total populasi             = 76

Tanaman terpilih         = 13

Kriteria tanaman         = tanaman tinggi ≤ 60 cm

 

Interval

Frekuensi

60 – 65

7

66 – 70

5

71 – 75

0

76 – 80

1

Total

 

V.         ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini metode seleksi yang digunakan yaitu seleksi positif , seleksi massa positif yaitu salah satu metode seleksi yang dipilih saat panen tanpa merusak tanaman yang tidak terpilih. Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan menunjukkan jumlah tanaman yang terpilih dalam seleksi yang berkategori tinggi tanamannya ≥ 60 sejumlah 13 tanaman dengan total tanaman 76 tanaman. Sampel tanaman yang digunakan yaitu tanaman koro pedang (Canavalia gladiata). Dari hasil perhitungan diperoleh standar deviasi = 12.568

Intensitas seleksi yang diperoleh yaitu :

 = 0.17105

Kefektifan dan Ketidakefektifan Seleksi Massa

Dalam seleksi massa, maka tanaman individual yang diinginkan dipilih, dipanen dan bijinya disusun tanpa uji-coba keturunan untuk membuat generasi berikutnya. Karena seleksi itu didasarkan hanya atas induk betina, dan tidak ada pengawasan tentang penyerbukan, maka seleksi massa termasuk bentuk perkawinan acak dengan seleksi. Maksud dari seleksi massa ialah menaikkan proporsi genotype yang super dalam populasi. Efisiensi yang dipakai untuk mengerjakannya dalam system perkawinan acak dengan seleksi pertama-tama tergantung dari jumlah gen dan daya waris.

Seleksi massa efektif dalam menaikkan frekuensi gen untuk sifat yang mudah dilihat atau diukur. Pada kacang koro pedang  misalnya, mungkin dengan seleksi massa membentuk varietas yang berbeda dalam warna butir, tinggi tanaman, ukuran tongkol, tempat tongkol pada batang, tanggal kematangan, serta persentase minyak dan protein. Jadi seleksi massa telah berguna dalam membentuk varietas untuk tujuan khusus dan dalam mengubah adaptasi varietas supaya mereka cocok dengan area produksi yang baru.

Sebaliknya, seleksi massa tidak efektif dalam memodifikasi sifat seperti produksi (hasil), yang dihimpun oleh banyak gen dan tak dapat disaksikan dengan cermat atas dasar penampilan satu tumbuhan tunggal. Karena itu, metode pemuliaan ini telah terbukti tidak berkekuatan dalam mempengaruhi panen varietas yang diadaptasi paling tidak dalam proyek pemuliaan jangka pendek.

Ketidak efektifan seleksi massa dalam menaikkan produksi varietas yang diadaptasi berasal dari tiga penyebab utama, yaitu :

a)      Ketidakmampuan mengidentifikasi genotip superior dari penampilan fenotipe sebuah tanaman tunggal,

b)      Penyerbukan yang tidak diawasi, sehingga tumbuh-tumbuhan terpilih diserbuk oleh kedua induk serbuk sari superior dan inferior,

c)      Seleksi yang ketat menuju ke besarnya populasi yang dikurangi, yang pada gilirannya menuju kepada depresi pemuliaan dari dalam (inbreeding-pemuliaan dalam antar individu yang dekat untuk melestarikan dan mengikat sifat baik/unggul yang diinginkan atau membuang sifat buruk dari kumpulan individu).

Sehingga ada modifikasi baru untuk mengatasi metode seleksi massa ini. Metode tersebut, yaitu metode seleksi keturunan dan pemuliaan galur untuk mengatasi kekurangan yang pertama atau ketiga. Sedangkan metode yang digunakan untuk mengatasi ketiga kekurangan ini adalah seleksi balik, karena sangat menarik untuk seleksionis tanaman.(Allard, R.W., 1960)

 

Kelebihan dan Kekurangan Seleksi Massa

Kelebihan seleksi massa :

  1. Mudah dilaksanakan
  2. Murah
  3. Dapat dilakukan pada populasi besar
  4. Dapat menekan terjadinya silang dalam (INBREEDING)

 

Kelemahan seleksi massa :

Perlu lahan penanaman yang terpisah dari populasi lain kemajuan seksnya kecil/rendah (Suyono, 1995) Untuk tanaman menyerbuk sendiri, seleksi massa mengandung beberapa kelemahan antara lain :

  1. Tanaman homosigot dan heterozigot memiliki fenotipe yang sama untuk peran gen dominan. Dengan demikian, tanaman heterozigot akan mengalami segregasi lagi yang memerlukan seleksi harus diulang
  2. Lingkungan mempengaruhi pertumbuhan dan ekspresi tanaman. Dengan demikian, menyulitkan penelitian tanaman, apakah fenotipenya disebabkan oleh factor genetic atau lingkungan.
  3. Penampilan varietas biasanya kurang menarik karena kurang seragam.
  4. Dibandingkan dengna varietas yang homogen.
  5. Lebih sukar memberikan tanda pengenal diri varietas dalam program sertifikasi benih.
  6. Biasanya memberikan hasil relative rendah dibandingkan dengan hasil galur terbaik. (Nasir, 2001)

Perbedaan antara Seleksi Massa dan Seleksi Lini Murni

Seleksi Massa

Seleksi Lini Murni

 

sudah sangat tua atau dapat dikatakan setua orang mulai bercocok tanam. Belum begitu tua.
Selalu dipraktekan oleh petani walaupun tak disadarinya. Tak pernah dilakukan oleh petani pada tanaman mereka.
Biasa dilakukan pada tanaman C. P. C (allogamy). Dilakukan pada tanaman S. P. C (autogam)
Jumlah tanaman yang terpilih banyak. Jumlah tanaman yang terpilih sedikit.
Tanaman yang terpilih mempunyai adaptasi yang luas. Tanaman yang terpilih mempunyai adaptasi tidak begitu luas dan hanya dapat beradaptasi pada kondisi/tanaman tertentu saja
Seleksi Massa mudah dilakukan dan amat sederhana. Sulit dilakukan karena perlu ketrampilan khusus.
Tidak perlu tenaga, biaya dan waktu yang banyak. Butuh tenaga, biaya dan waktu yang banyak.
Hasil yang diperoleh heterozigot / tidak uniform. Hasil yang diperoleh homosigot (uniform)
Tidak dilakukan pengujian keturunan. Perlu dilakukan pengujian keturunan dan masing – masing perbedaan kenampakan secara individu diuji kemurnian.
Tidak perlu adanya control persilangan. Persarian selalu diawasi
Pemilihan hasil panen tercampur Terpisah
Sumber : Anonymous a, 2012

 

Prosedur Seleksi Massa

(Poespodarsono, Soemardjo, 1988)Seleksi massa ini juga memberikan peningkatan kandungan gula tanaman bit dari genotype yang semula menghasilkan kadar gula 11% pada tanaman yang terdahulu menjadi lebih dari 18% pada varietas yang telah mengalami seleksi. Pada system pemuliaan tanaman yang mutakhir, seleksi massa ini kadang-kadang digunakan juga untuk memurnikan varietas yang telah berbaur dengan genotype-genotipe yang tidak diharapkan. Caranya, yaitu dengan menyingkirkan tanaman-tanaman yang tidak dikehendaki dan menghimpun tanaman-tanaman yang diperlukan. (Welsh, James, R., 1991)

 VI.            KESIMPULAN

 

Berdasarkan dari hasil dan pembahasan  yang telah disampaikan, maka dapat disimpulkan bahwa :

  1. Seleksi Massa adalah salah satu metode seleksi yang tertua untuk memilih bahan tanam yang lebih baik pada generasi berikut. Dan pada umumnya metode seleksi massa ini banyak digunakan oleh para pemulia tanaman, karena metode ini digunakan untuk memilih menaikkan proporsi genotype yang super dalam suatu populasi.
  2. Disamping itu, metode seleksi massa ini pun memiliki kelebihan dan kekurangan.
  3. Seleksi massa berbeda dengan seleksi galur murni, perbedaan tersebut antara lain dari segi waktu, pengaplikasian, jumlah tanaman, kemampuan adaptasi, sifat keturunan, pemilihan hasil, dan pengontrolan (pengawasan), Proses seleksi massa ini digunakan juga untuk memurnikan varietas yang telah berbaur dengan genotype-genotipe yang tidak diharapkan.
  4. Pada praktikum kali ini metode seleksi yang digunakan yaitu seleksi positif , seleksi massa positif yaitu salah satu metode seleksi yang dipilih saat panen tanpa merusak tanaman yang tidak terpilih.
  5. Jumlah tanaman yang terpilih dalam seleksi yang berkategori tinggi tanamannya ≥ 60 sejumlah 13 tanaman dengan total tanaman 76 tanaman.
  6. Sampel tanaman yang digunakan yaitu tanaman koro pedang (Canavalia gladiata).
  7. Dari hasil perhitungan diperoleh standar deviasi 12.568
  8. Intensitas seleksi yang diperoleh yaitu0.17105

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Allard, R.W. 1960. Pemuliaan Tanaman. PT. Bina Aksara: Jakarta.

Anggarini, Astrie, Septianing. 2011. Laporan Praktikum Seleksi. http://blog.ub.ac.id/astrie/2011/06/12/laporan-praktikum-seleksi/ . Diakses 30  maret 2012.

Anonymous a. 2012. Pemuliaan Tanaman M enyerbuk Sendiri. http://fp.uns.ac.id/~hamasains/bab6pemuliaan.htm Diakses 30 Maret 2012.

Detil Data canavalia gladiata (Jack) DC. http://www.kehati .or.id/florakita/printer.php? photoid=868

Handajani,S.1993.Analisa sifat Phisis-Khemis Beberapa Biji Kacang-Kacangan, kekerasan, Kualitas Tanak, Protein, dan Kandungan Mineralnya.Lembaga penelitian Universitas Sebelas maret Surakarta.

Makmur, Amris. 2000. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Bandung: Rineka Cipta Nasir. 2001.

Poespodarsono, Soemardjo. 1988. Dasar-dasar ilmu pemuliaan tanaman . Pusat Antar Universitas IPB : Bogor

Suyono, 1995. Pemuliaan Berlanjut. Jakarta : Surya Kencana

Welsh, James, R. 1991. Dasar-Dasar Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Erlangga: Jakarta.

 Download file lengkap disini

 

 

 

 

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 67 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: