U_Miia04 'Blog

Beranda » MY STUDY » Pengembangan Manfaat Singkong Sebagai Bahan Baku Biofuel

Pengembangan Manfaat Singkong Sebagai Bahan Baku Biofuel

Calendar

Mei 2012
J S M S S R K
« Des   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Like This Blog


LATAR BELAKANG MASALAH

Indonesia merupakan negara agraris yang seharusnya dapat memanfaatkan SDM (Sumber Daya Manusia) nya untuk mulai menggalakkan lagi sektor industri pertaniannya, mengingat tingkat kesuburan tanah dan ketersediaan lahan yang sangat besar serta didukung pula oleh SDA (Sumber Daya Alam ) yang melimpah.

UNIDO (UN Industrial Development Organization) sudah sejak awal tahun 1980-an menerbitkan beberapa laporan tentang potensi singkong atau ubi kayu atau manioc, terutama di negara berkembang seperti di Indonesia yang memiliki lahan luas dan subur karena permintaan pasar produk singkong terutama sebagai bahan baku ethanol yang sangat tinggi.

Singkong cukup potensial untuk dikembangkan karena singkong merupakan tanaman yang sudah sangat dikenal oleh petani dan dapat ditanam dengan mudah. Singkong juga merupakan tanaman yang sangat fleksibel dalam usaha tani dan umur panen. Lahan untuk tanaman singkong tidak harus khusus, dan tidak memerlukan penggarapan intensif seperti halnya untuk tanaman hortikultura.

IDENTIFIKASI MASALAH

Permasalahan energi di Indonsia sama seperti yang dihadapi dunia. Jika tidak ada penemuan ladang minyak dan kegiatan eksplorasi baru, cadangan minyak di Indonesia diperkirakan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 18 tahun mendatang. Sementara itu, cadangan gas cukup untuk 60 tahun dan batu bara sekitar 150 tahun. Kapasitas produksi minyak Indonesia mengalami penurunan jika dibandingkan dengan dekade 1970-an yang masih sekitar 1,3 jutabarel per hari. Kini, kapasitas produksi minyak Indonesia hanya 1,070 juta barel per hari. Disamping karena lapangan yang sudah tua, penurunan kapasitas produksi minyak mentah Indonesia juga karena penemuan cadangan minyak baru yang terus menurun. Hal tersebut juga menyebabkan Indonesia menjadi Negara pengimpor minyak mentah sampai sekarang. Setidaknya, ada tiga jalan keluar dari hal ini. Pertama, mencari ladang minyak baru; kedua, menggunakan energi secara efisien; dan ketiga, mengembangkan sumber energi terbaharukan, seperti sinar matahari, panas bumi, air, angin, dan bahan bakar nabati (biofuel). Hal yang paling mungkin dilakukan sekarang adalah mengembangkan sumber energy terbaharukan, contohnya bioetanol dari singkong

RUMUSAN MASALAH

“Bagaimana cara atau pun metode yang di gunakan untuk menjalankan berbagai potensi masyarakat dengan membudidayakan singkong guna menggembangkan biofuel kedepannya?

TUJUAN

  1. Dapat mengetahui manfaat dari singkong lebih detail.
  2. Dapat mengembangkan biofuel ke masa depan.
  3. Dapat memahami teori / metode pembuatan biofuel maupun prakteknya.

MANFAAT

Bagi Pemerintah

  1. Meningkatkan pendapatan petani minimal menyamai UMR.
  2. Mengembangkan tananaman bahan Biofuel di 5.5 juta hektar tanah.
  3. Terbentuknya 1000 Daerah yang-Self-Sufficient-Energy (DESA MANDIRI) dan 12 daerah khusus BIOFUEL.
  4. Dapat mengurangi ketergantungan akan Fossil Fuel paling tidak 10%
  5. Dapat Terciptakan lapangan pekerjaan bagi 3.5 juta orang.
  6. Menghemat Valuta Asing sampai US$10 Milliar.
  7. Memenuhi kebutuhan BIOFUEL dalam enegri dan eksport

Bagi penulis

Untuk mengembangkan potensi dan menambah pengetahuan dalam bidang agroteknologi terutama penanaman tanaman yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif.

KAJIAN TEORI

Negara-negara maju telah mengembangkan energi alternatif yang dapat menggantikan peranan minyak bumi dan sumber bahan alam (terutama galian) yang berfungsi sebagai bahan bakar. Cadangan minyak bumi yang semakin menipis karena peningkatan kebutuhan serta jumlah penduduk dunia

Biofuel adalah salah satu turunan dari biomassa. Biofuel merupakan bahan bakar yang berasal dari tumbuhan atau hewan, biasanya dari pertanian, sisa padatan juga hasil hutan. Melalui proses sakarifikasi (pemecahan gula komplek menjadi gula sederhana), fermentasi, dan distilasi, tanaman-tanaman seperti Jagung, Tebu dan Singkong dapat dikonversi menjadi bahan bakar.

Energi merupakan salah satu hal yang sangat penting di dunia. Banyak negara berperang untuk mendapat atau mempertahankan sumber-sumber energi tersebut. Energi telah menjelma sebagai roh bagi suatu negara. Jika tidak ada lagi sumber energi di suatu negara, bisa dipastikan negara tersebut akan mati. Saat ini sumber energi utama umat manusia diperoleh dari bahan bakar fosil. Masalahnya sekarang, bahan bakar fosil merupakan sumberdaya yang tak terbaharukan dan suatu saat pasti habis.

Selama ini, lebih dari 90% kebutuhan energi dunia dipasok dari bahan bakar fosil. Jika eksploitasi terus berjalan dengan angka saat ini, diperkirakan sumber energi ini akan habis dalam setengah abad mendatang. Bisa dibayangkan bagaimana kehidupan manusia kelak jika bahan bakar fosil yang menjadi sumber energi utama umat manusia selama lebih dari dua ratus tahun habis begitu saja. Untuk itu, banyak negara mulai mengembangkan alternatif sumber energi baru yang terbaharukan, ramah lingkungan, dan relatif mudah untuk dibuat.

Salah satu alternatif pengganti bahan bakar fosil adalah dengan bioenergi seperti bioetanol. Bioetanol adalah bahan bakar nabati yang tak pernah habis selama mentari masih memancarkan sinarnya, air tersedia, oksigen berlimpah, dan kita mau melakukan budidaya pertanian. [ ilmu & Teknologi, Gatra No:13 Beredar senin, 7 Februari 2006]

Mengenal Singkong

Singkong masuk dalam kelas Dicotiledoneae dan famili Euphorbiaceae.

Klasifikasi tanaman singkong sebagai berikut.

Kelas : Dicotiledoneae

Sub Kelas : Arhichlamydeae

Ordo : Euphorbiales

Famili : Euphorbiaceae

Sub Famili : Manihotae

Genus : Manihot

Spesies : Manihot esculenta

Singkong merupakan tanaman pangan dan perdagangan (crash crop). Sebagai tanaman perdagangan, singkong menghasilkan starch, gaplek, tepung singkong, etanol, gula cair, sorbitol, MSG, tepung aromatik, dan pellet. Sebagai tanaman pangan, singkong merupakan sumber karbohidrat bagi sekitar 500 juta manusia di dunia. Singkong merupakan penghasil kalori terbesar dibandingkan dengan tanaman lain perharinya.

KADAR NUTRISI

Kandungan Nutrisi pada Ubi Kayu ( per 100 gram )

Kalori 146 kal

Air 62,5 gram

Phosphor 40 mg

Karbohidrat 34 gram

Kalsium 33 mg

Vitamin C 30 mg

Protein 1,2 gram

Besi 0,7 mg

Lemak 0,3 gram

Vitamin B1 0,06 mg

Berat dapat dimakan 75 gram

Cara pembuatan etanol dari singkong yang diterapkan oleh Bapak Tatang H Soerawidjaja. Pengolahan berikut ini berkapasitas 10 liter per hari :

  1. Kupas 125 kg singkong segar, semua jenis dapal dimanfaatkan. Bersihkan dan cacah berukuran kecil-kecil.
  2. Keringkan singkong yang telah dicacah hingga kadar air maksimal 16%. Persis singkong yang dikeringkan menjadi gaplek. Tujuannya agar lebih awet sehingga produsen dapat menyimpan sebagai cadangan bahan baku.
  3. Masukkan 25 kg gaplek ke dalam tangki stainless si eel berkapasitas 120 liter, lalu tambahkan air hingga mencapai volume 100 liter. Panaskan gaplek hingga 100″C selama 0,5 jam. Aduk rebusan gaplek sampai menjadi bubur dan mengental.
  4. Dinginkan bubur gaplek, lalu masukkan ke dalam langki sakarifikasi. Sakarifikasi adalah proses penguraian pati menjadi glukosa. Setelah dingin, masukkan cendawan Aspergillus yang akan memecah pati menjadi glukosa. Untuk menguraikan 100 liter bubur pati singkong. perlu 10 liter larutan cendawan Aspergillus atau 10% dari total bubur. Konsentrasi cendawan mencapai 100-juta sel/ml. Sebclum digunakan, Aspergilhis dikuhurkan pada bubur gaplek yang telah dimasak tadi agar adaptif dengan sifat kimia bubur gaplek. Cendawan berkembang biak dan bekerja mengurai pati.
  5. Dua jam kemudian, bubur gaplek berubah menjadi 2 lapisan: air dan endapan gula. Aduk kembali pati yang sudah menjadi gula itu, lalu masukkan ke dalam tangki fermentasi. Namun, sebelum difermentasi pastikan kadar gula larutan pati maksimal 17—18%. Itu adalah kadar gula maksimum yang disukai bakteri Saccharomyces unluk hidup dan bekerja mengurai gula menjadi alkohol. Jika kadar gula lebth tinggi, tambahkan air hingga mencapai kadar yang d.iinginkan. Bila sebaliknya, tambahkan larutan gula pasir agar mencapai kadar gula maksimum.
  6. Tutup rapat tangki fermentasi untuk mencegah kontaminasi dan Saccharomyces bekerja mengurai glukosa lebih optimal. Fermentasi berlangsung anaerob alias tidak membutuhkan oksigen. Agar fermentasi optimal, jaga suhu pada 28—32″C dan pH 4,5—5,5.
  7. Setelah 2—3 hari, larutan pati berubah menjadi 3 lapisan. Lapisan terbawah berupa endapan protein. Di atasnya air, dan etanol. Hasil fermentasi itu disebut bir yang mengandung 6—12% etanol.
  8. Sedot larutan etanol dengan selang plastik melalui kertas saring berukuran 1 mikron untuk menyaring endapan protein.
  9. Meski telah disaring, etanol masih bercampurair. Untuk memisahkannya, lakukan destilasi atau penyulingan. Panaskan campuran air dan etanol pada suhu 78″C atau setara titik didih etanol. Pada suhu itu etanol lebih dulu menguap ketimbang air yang bertitik didih 100°C. Uap etanol dialirkan melalui pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan kembali menjadi etanol cair.
  10. Hasil penyulingan berupa 95% etanol dan tidak dapat larut dalam bensin. Agar larul, diperlukan etanol berkadar 99% atau disebut etanol kering. Oleh sebab itu, perlu destilasi absorbent. Etanol 95% itu dipanaskan 100″C. Pada suhu ilu, etanol dan air menguap. Uap keduanya kemudian dilewatkan ke dalam pipa yang dindingnya berlapis zeolit atau pati. Zeolit akan menyerap kadar air tersisa hingga diperoleh etanol 99% yang siap dieampur denganbensin. Sepuluh liter etanol 99%, membutuhkan 120— 130 liter bir yang dihasilkan dari 25 kg gaplek.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Bioethanol, Alternatif Energi Terbarukan: Kajian Prestasi Mesin dan Implementasi di Lapangan. Artikel http://www.kamusilmiah.com/biologi/bioethanol-alternatif-energi-terbarukan-kajian-prestasi-mesin-dan-implementasi-di-lapangan (4Januari 2011)

Anonim. 2009. Mengenal Biofuel dan Biodiesel. Artikel http://www.alpensteel.com/component/content/section/7.html?layout=blog&start=1090 (4 Januari 2011)

Anonim. 2010. Singkong Pahit Dan Manis Serta Gapleknya Untuk Peragian Sirop, Anggur Dan Alkohol. Makalah http://web.ipb.ac.id/~lppm/ID/index.php?view=penelitian/hasilcari&status=buka&id_haslit=13 (4 Januari 2011)

Giancoli, C Douglas. 1998. Fisika Jilid I Edisi Kelima. Yunilza anum, Penerjemah. Jakarta : Erlangga. Terjemahan Dari : Phisic Principle and Aplication, Fifth Edition

Prihandana, Rama dkk. 2008. Bioetanol Ubi Kayu Bahan Bakar Masa Depan. Jakarta: AgroMedia Pustaka

Prihandana, Rama, Roy Hendroko. 2008. Energi Hijau. Jakarta : Penebar

Ranola, Roberto F. 2009. Enchancing The Viability of Cassava Feedstock for

Bioethanol In The Philipphines. Jurnal (terhubung berkala).

http://www.issaas.org/journal/v15/02/journal-issaas-v15n2-13-ranola-et_al.pdf (4Januari 2011)

Setiawan, Wawan Marwan. 2006. Produksi Hidrosilat Pati dan Serat Pangan Dari Singkong Melalui Hidrolisis Dengan a-alfa Amilase dan Asam Klorida. Jurnal.

http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/3834/1/F06wms_abstract.pdf

(4 Januari 2011)

Soetanto, N Edi. 2008. Tepung Kasava & Olahannya. Yogyakarta : Kanisius

Tjokrokoesoemo, P Soebianto. 1989. HFS dan Industri Ubi Kayu Lainnya Jakarta : Gramedia


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: