U_Miia04 'Blog

Beranda » ARTIKEL » Peningkatan Kemanfaatan Kotter Sebagai Bahan Bakar Alternatif

Peningkatan Kemanfaatan Kotter Sebagai Bahan Bakar Alternatif

Calendar

Mei 2012
J S M S S R K
« Des   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Like This Blog


Bahan bakar merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat. Harga bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari semakin membengkak dan semakin sulit ditemukan,khususnya minyak tanah. Tingginya harga BBM ini mulai memberi dampak yang mengkhawatirkan. Upaya pemerintah mensubsidi LPG untuk menggantikan peran minyak tanahpun juga tidak sepenuhnya berhasil. Krisis energi yang membuat harga minyak dunia mencapai US $ 70 /barel semakin menghimpit kehidupan masyarakat berbagai lapisan di Indonesia. Kenaikan harga BBM yang dilakukan pemerintah membuat harga minyak tanah menyamai harga premium sebelum dinaikkan (Subroto, Himawanto, dan Putro, S., 2006). Dalam situasi seperti ini pencarian, pengembangan, dan penyebaran teknologi energi non BBM yang ramah lingkungan menjadi penting, terutama ditujukan pada keluarga miskin sebagai golongan yang banyak terkena dampak kenaikan BBM. Salah satu teknologi energi yang sesuai dengan persyaratan tersebut adalah teknologi biogas (Darsin, 2006). Pemerataan pembagian LPG belum sepenuhnya merata. Apalagi akhir-akhir ini sering terjadi ledakan tabung LPG yang membuat masyarakat semakin khawatir.Banyak masyarakat yang kembali memanfaatkan kayu sebagai sumber bahan bakar. Jika hal ini berlangsung lama, akan menimbulkan masalah baru yaitu pembabatan hutan sehingga dikawatirkan dapat merusak lingkungan.
Oleh sebab itu, untuk mengatasi hal-hal tersebut perlu dicari sumber energi alternatif agar kebutuhan bahan bakar dapat dipenuhi tanpa merusak lingkungan. Salah satu bahan bakar alternatif ini ternyata dapat dibuat dari kotoran sapi. Pemanfaatan limbah peternakan (kotoran ternak) merupakan salah satu alternatif yang tepat untuk mengatasi kelangkaan bahan bakar minyak. Limbah ternak merupakan sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan seperti usaha pemeliharaan ternak, rumah potong hewan, pengolahan produksi ternak dan lain – lain. Limbah tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair seperti feses,urine,sisa makanan,embrio,kulit telur,lemak,darah,bulu,kuku, tulang,tanduk,isi rumen,dan lain-lain. Semakin berkembang usaha peternakan,limbah yang di hasilkan semakin meningkat. Dengan meningkatnya limbah ternak membuat peternak kurang memperhatikan kegunaan dari kotter tersebut. Di daerah sasaran kotter hanya digunakan sebagai pupuk untuk tanaman padahal jumlah kotter di desa tersebut sangat banyak. Yang digunakan sebagai pupuk hanya 80% dari jumlah pupuk yang diproduksi setiap hari, jadi masih ada 20 % kotter yang belum termanfaatkan. Padahal jika kotter tersebut dimanfaatkan secara maksimal kotter dapat menjadi sumber energi yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif. Namun sampai saat ini pemanfaatan kotoran ternak belum optimal,sisa kotoran ternak banyak yang tertumpuk di sekitar kandang dan belum banyak yang dimanfaatkan sebagai sumber energi. Menurut Haryono, limbah isi perut sapi itu memang menjadi masalah. Selama ini, limbah itu selalu dibuang. Tantangan untuk membuat limbah ini menjadi bahan bakar berawal dari temuan sampah organik yang bisa dibuat menjadi arang. “Karakter isi perut sapi yang di lambung itu tidak jauh seperti kayu. Ini membuat kita berpikir bisa menjadi pengganti kayu atau arang. Limbah yang dipakai untuk bahan bakar itu bentuknya juga sudah hancur seperti serpihan-serpihan. Kita buat yang lebih instan sehingga tidak perlu dibuat jadi arang,” tuturnya. Dalam konteks itu pemanfaatan kotoran ternak sebagai sumber energi (bahan bakar) merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi penggunaan minyak tanah dan kayu untuk keperluan rumah tangga. Pemanfaatan kotoran ternak dapat dihasilkan 2 jenis bahan bakar yaitu biogas dan briket. Kotoran ternak sebagai sumber bahan bakar dalam bentuk briket merupakan hal baru bagi masyarakat, dan peternak kita. Meskipun,banyak masyarakat yang sudah mengetahui pemanfaatan kotoran sapi sebagai bahan bakar alternatif,tapi terkendala oleh kesan bahwa membuat biogas itu rumit dan memerlukan banyak ketrampilan. Untuk biogas mungkin benar,tapi membuat briket dari kotoran sapi ternyata tidak terlalu sulit. Kotoran sapi yang sudah kering, memang mempunyai sifat mudah terbakar dalam waktu yang lama. Briket kotoran sapi memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki oleh bahan bakar lain seperti minyak tanah atau gas elpiji, antara lain :

1. Tidak mudah meledak seperti gas elpiji.

2. Tidak mengeluarkan api, karena briket kotoran sapi ini menyala seperti nyala rokok, dengan panas yang dihasilkan tak jauh beda dengan bahan bakar minyak tanah maupun elpiji.

3. Peralatan memasak menjadi lebih awet karena briket kotoran sapi ini tidak menghasilkan api yang membuat hitam bagian bawah peralatan memasak.

4. Lebih sehat, karena briket kotoran sapi tidak menghasilkan asap.

5. Bentuknya lebih seragam karena pembuatannya dengan dicetakkan mempergunakan alat,

6. Briket kotoran sapi dapat menghasilkan panas yang bertahan lama,dengan demikian secara perhitungan biaya,akan menjadi lebih murah dan ekonomis.

7. Ramah lingkungan karena memanfaatkan kotoran ternak yang merupakan salah satu limbah.

8. Lebih hemat Karena kotoran dua ekor sapi setara dengan 2,6 liter minyak atau 1,90 kg elpiji per hari.(ANTARA News)


2 Komentar

  1. -Umiie- mengatakan:

    terima kasih atas kunjungannya…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: