U_Miia04 'Blog

Beranda » ARTIKEL » SUKROSA DAN ASAM SITRAT SEBAGAI PENGAWET KRISAN

SUKROSA DAN ASAM SITRAT SEBAGAI PENGAWET KRISAN

Calendar

Januari 2013
J S M S S R K
« Des   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Like This Blog


PENDAHULUAN

Krisan merupakan tanaman bunga hias perdu dengan sebutan lain Seruni atau Bunga emas (Golden Flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina, dikenal dengan Chrysanthenum indicum (kuning), C. morifolium (ungu dan pink) dan C. daisy (bulat, ponpon). Di Jepang abad ke-4 mulai membudidayakan krisan, dan tahun 797 bunga krisan dijadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East. Tanaman krisan dari Cina dan Jepang menyebar ke kawasan Eropa dan Perancis tahun 1795. Tahun 1808 Mr. Colvil dari Chelsa mengembangkan 8 varietas krisan di Inggris. Jenis atau varietas krisan modern diduga mulai ditemukan pada abad ke-17. Krisan masuk ke Indonesia pada tahun 1800. Sejak tahun 1940, krisan dikembangkan secara komersial.

Kualitas bunga merupakan salah satu masalah yang sering dihadapi oleh pengusaha bunga potong (florisf) dan konsumen. Kualitas bunga sangat tergantung pada kesegaran dan daya tahan (vase life) bunga. Oleh karena itu upaya untuk memperpanjang pasca panen dan daya tahan bunga sangat perlu diperhatikan. Upaya memperpanjang daya simpan bunga potong dapat dilakukan secara kimia dengan menggunakan larutan pengawet (Rogers, 1973; Nichols, 1973; Meo and Eisenberg, 1988; HaJjadi, 1989). Larutan pengawet umumnya tersusun dari bahan-bahan sebagai sumber energi, penurun pH, biosida dan senyawa anti-etilen. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah menentukan larutan pengawet yang terbaik dan tingkat konsentrasinya dalam memperpanjang pasca panen bunga potong krisan Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 1996 sampai Juli 1996 di Paradisa Flower Ranch, Tajur, Bogor, dengan ketinggian tempat 380 m diatas permukaan laut. Bahan tanaman yang digunakan adalah bunga potong krisan varietas Daytona dan Fun Shine. Larutan pengawet yang digunakan terdiri dari 8-HQS (8- Hydroxy Quinoline Sulfate) dengan konsentrasi 200 ppm dan 100 ppm, Argylene (STS) 100 ppm dan 200 ppm, Krysal 16 gIl iter, Florever 9 g/liter, Sodium Hipoklorit 350 ppm, 2% sukrosa, air destilata dan air kran.

Bentuk daun krisan (Chrysanthemum morifolium), khusus pada bagian tepi, tampak bercelah dan bergerigi. Daun tersebut tersusun berselang-seling pada cabang atau batang. Sedangkan batangnya tumbuh tegak, berstruktur lunak, dan berwarna hijau. Namun demikian, bila batang dibiarkan terus tumbuh, maka batang pun akan menjadi keras berkayu dan warnanya menjadi hijau kecokelat-cokelatan.

Bunga krisan tumbuh tegak pada ujung tanaman dan tersusun dalam tangkai berukuran pendek sampai panjang. Yang menarik adalah bentuk bunganya. Beraneka ragam dan bisa dikelompokkan menjadi 5 golongan sebagai berikut:

  1. Tunggal  :Pada setiap tangkai hanya memiliki satu kuntum bunga. Piringan dasar bunga sempit dan susunan mahkota hanya satu lapis.
  2. Anemone :Sekilas mirip dengan bunga tunggal, tapi piringan dasar bunganya lebih tebal dan lebar.
  3. Besar :Di setiap tangkai hanya terdapat satu kuntum, tetapi ukurannya besar (bisa mencapai 10 cm). Karena besarnya hingga piringan dasar tidak kelihatan.
  4. Pompon :Karakteristik bentuk bunga pompon adalah bulat mirip bola, mahkota bunga menyebar ke segala penjuru, dan piringan dasar bunganya tidak tampak.
  5. Dekoratif :Sesuai namanya, penampilannya memang sangat dekoratif. Punya mahkota bunga bertumpuk-tumpuk rapat, di tengah pendek dan bagian tepinya memanjang. Kuntum bunga krisan pun ternyata juga memiliki karakter masing-masing, antara lain:
  6. Standar :Setiap tangkai memiliki 1 kuntum bunga, biasanya berukuran besar. Perlu diketahui, tanaman krisan semula memiliki beberapa kuntum bunga pada setiap tangkainya. Namun, berkat teknik disbudding, jumlah kuntum bunga dibuat hanya satu, yang kemudian dikenal sebagai krisan standar atau krisan tunggal. Contohnya: krisan Shamrock, dark red pompon, regal mist, Borholm, dan sebagainya.
  7. Spray :Setiap tangkai memiliki sekitar 10 – 20 kuntum bunga, namun diameternya kecil-kecil, sekitar 2 – 3 cm. Contohnya krisan Puma, Salmon, Granada, Klondike, dan sebagainya.

Dewasa ini dikenal lebih dari seribu varietas krisan yang tersebar di seluruh dunia. Padahal, tanaman krisan semula hanya digemari oleh masyarakat Cina. Ternyata, orang Jepang lebih duluan memberdayakan krisan. Bahkan, saking bangganya terhadap bunga ini, krisan dijadikan simbol kekaisaran Jepang dan disebut Queen of the East. Selang waktu berikutnya, tanaman krisan pun menyebar ke kawasan Eropa, lalu Asia. Konon, krisan masuk ke Indonesia pada abad ke-17, tapi baru mulai dikembangkan tahun 1940 di daerah Cianjur, Cisarua, Lembang, Brastagi, dan Bandungan.

Bunga krisan sering digunakan sebagai bunga potong dalam berbagai kegiatan. Uniknya, warna bunga krisan bisa dikaitkan dengan ‘makna’ kegiatan itu sendiri. Misalnya pada upacara kematian dipilih krisan berbunga putih dan ungu. Kemudian, di hari Valentine disuguhkan krisan merah dan pink. Upacara pernikahan memakai krisan putih, kuning, ungu, atau merah. Juga pada kegiatan imlek, saat krisan merah dan putih tampil dominan.
Sebagai bunga potong, krisan juga dipakai untuk bahan dekorasi ruangan, jambangan bunga, rangkaian aneka macam variasi bunga, dan sebagainya. Beberapa krisan yang digunakan sebagai bunga potong antara lain:

  1. Puma, berbunga putih, bentuk bunga anemone, diameter bunga dan mata bunga 45 mm/25 mm.
  2. Salmon, bentuk bunga tunggal, berwarna pink, diameter bunga dan mata bunga 70 mm/15 mm.
  3. Gold van Langen, bentuk bunga tunggal, berwarna kuning emas, diameter bunga dan mata bunga 65 mm/18 mm.

Selain sebagai bunga potong, krisan juga digunakan sebagai tanaman hias yang ditanam dalam pot. Contohnya beberapa krisan asal Amerika yang telah dikembangkan di Indonesia dan diberi nama-nama tokoh wayang. Misalnya Krisan Shinta yang berbunga kuning, tipe tunggal, dan ukuran bunga cukup besar. Lalu krisan Kunti yang berbunga putih bersih, tipe anemone, serta krisan Srikandi dengan bunga merah tua dengan bagian tengah kuning, tipe dekoratif.

CARA PENGAWETAN

  1. Pengumpulan Bunga yang Telah Dipotong
  2. Simpan pada tempat teduh dan aman. Terhindar dari percikan air atau kotoran lain
  3. Carnation, simpan pada temat permanen, tegak dan berjajar
  4. Gerbera, hasil panen langsung ditempatkan ke dalam ember yang berisi air Sortasi dan Seleksi Kualitas

Bunga

Dasarnya dilihat keadaan per bunga, tingkat kemekaran bunga, keadaan tangkai bunga meliputi panjang pendek, lurus bengkok, besar keci;, tegar lemas (vigor), kebersihan daun

 

Grade I :  

  • Bunga bagus dan normal (tidak ada bekas serangan hama penyakit dan tidak cacat)
  • Bunga mekar optimal (sesuai dengan standar masing2 bunga)
  • Tangkai bunga besar dan lurus, tegak
  • Tangkai panjang sesuai kriteria masing2 jenis bunga)
  • Tidak ditemukan hama yang dapat merusak kualitas bunga
  • Keadaan daun hijau segar, bersih, normal

Grade II :

  • Bunga bagus dan normal, batang sedikit lebih pendek dari grade I,
  • terserang hama penyakit tapi tapi tidak sampai menimbulkan kerusakan berarti pada kualitas bunga
  • Bunga yang tidak masuk kedalam 2 kategori – afkir – kompos

 

Perendaman

Konsentrasi atau dosis/liter

Sukrosa (gula tebu)     :  20 g

Asam sitrat             :  200-600 mg

 

A.  DASAR PENGAWETAN BUNGA KRISAN

Kualitas bunga potong dilihat dari lamanya umur relatif bunga potong dalam keadaan tetap segar dan indah setelah dipotong dari tanaman induk dan memiliki karakteristik daya tarik / keindahan visual seperti aroma, tekstur bunga, tangkai, daun dan lain-lain. Dalam menjaga keadaan bunga potong sehingga tetap segar dan indah dilakukan usaha pengawetan. Jadi, yang dimaksud dengan istilah “pengawetan” disini sesungguhnya adalah upaya memperpanjang masa segar bunga atau bagian tanaman lainnya yang telah dipotong.

Prinsip perlakuan dalam rangka pengawetan bunga potong adalah :
a.       Penambahan makanan
b.       Penurunan pH air/ menambah keasaman air
c.       Menghambat proses pembusukan/perkembangbiakan bakteri

a)        Penambahan Makanan

         Setelah dipanen, proses fotosintesis akan berkurang karena keadaan yang memadai untuk proses itu tidak tercapai lagi, bersama itu pula tanaman tersebut tidak dapat memproduksi karbohidrat sedangkan konsumsinya tetap berlangsung melalui proses respirasi ((karbohidrat) + O2 (CO2 + H2O). Bila cadangan karbohidrat tidak mencukupi, maka bunga potong akan layu dan mati lebih dini. Ciri-cirinya : daun menguning dari bawah sampai ke atas dan rontok satu-persatu, warna bunga memucat dan petalnya menjadi tipis/kurus. Untuk menggurangi proses ini, maka bunga potong harus diberi tambahan karbohidrat yang berupa gula (Sukrosa-gula putih). Bentuk molekul sukrosa adalah yang paling efisien/siap pakai untuk tanaman, dan memudahkan ditransportasikan dalam sel-sel tanaman. Takarannya 1-2% gula/liter air bersih (10-20 g/l).

b)     Penurunan pH Air/ Menambah Keasaman Air
Dari berbagai hasil penelitian, ternyata bunga potong umumnya menyerap air secara maksimum bila pH air 3,5 – 4,5.  Penyerapan air sangat penting untuk menanggulangi dehidrasi yang disebabkan oleh evapotranspirasi (penguapan air dari permukaan tanaman terutama daun dan bunga).  Dehidrasi menyebabkan kelayuan, daun / bunga yang kering / terbakar.

Untuk mencapai pH yang ideal digunakan:
1.       Asam sitrat 200 –  600 ppm  (200 –  600 mg/liter)
2.       Asam benzoat 200 – 600 ppm  (200 – 600 mg/liter)
3.       Alumunium sulfat 200 – 300 ppm  (200 – 300 mg/liter)

Untuk mengukur pH air pergunakan pH meter atau kertas lakmus yang banyak dijual di Apotik, toko kimia, dan toko-toko keperluan sekolah.  Asam sitrat (Citric Acid/Citrun Zuur) dan Asam benzoat juga mempunyai sifat antibiotik yang mengurangi perkembangbiakan bakteri.  Alumunium sulfat berguna untuk air yang kesadahannya tinggi (banyak mengandung zat kapur, magnesium).  Pemakaian bahan-bahan tersebut dapat dikombinasikan.

 

c)      Menghambat Proses Pembusukan/Perkembangbiakan Bakteri

Air yang dipakai untuk “merendam” tanaman biasanya tidak steril.  Bunga potong yang direndam air merupakan bahan organik yang menjadi media pertumbuhan bakteri tersebut.  Hal-hal yang tidak diinginkan adalah pembusukan yang menyebabkan bau yang tidak enak.  Bakteri yang ada akan menyumbat saluran vaskular, sehingga air tidak dapat diserap oleh tanaman dan menyebabkan  kelayuan.  Untuk menghindari hal ini, pakailah air yang bersih ditambah bahan pengawet dan buanglah daun-daun yang akan terendam air.  Bakteri-bakteri ini juga menjadi penyebab timbulnya gas ethylene yang sangat berbahaya untuk bunga potong.  Bahan-bahan yang umumnya dipakai adalah:

  1. 8-HQS (8-Hydroquinoline sulphate)/8-HQC (8-Hidroquinoline citrate), biasanya dipakai 200 ppm ( 200 mg/liter).
  2. Physan-20, 200 ppm (200 mg/liter).
  3. Perak nitrat (AgNO3  50 ppm (50 mg/liter), harganya sangat mahal.
  4. PTS (Perak Tiosulfat) 50 – 100 ppm (50 – 100 mg/liter).
  5. Sodium hipoklorit 4 ppm.  Zat ini terkandung dalam cairan pemutih (clorox) dengan konsentrasi 5 %.  Bila menggunakan cairan pemutih, gunakan 3 tetes/liter air atau 0,1 % (1 m/liter air).

Penggunaan zat-zat di atas yang berlebihan akan berakibat buruk, tetapi pemakaian bahan-bahan tersebut dapat dikombinasikan

 

Tips Practice :

  1. Pemakaian Bahan Pengawet sangat penting untuk diketahui bahwa bahan pengawet yang dipakai mengandung semua unsur yang menjadi sumber makanan, penurunan pH air dan menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur.  Campuran gula dengan asam sitrat/asam benzoat sudah memenuhi ketiga syarat di atas.  Bentuknya yang kering dan bubuk mempermudah pemakaian dan harganya relatif sangat murah.  Gunakan selalu wadah yang terbuat dari bukan logam.  Bunga potong ditaruh dalam larutan pengawet minimal selama 1 jam (4 jam optimum).  Bunga-bunga yang sangat sensitif terhadap ethylene ( seperti Carnation, Ghypsophilla, Lily dsb)  harus dirawat dengan PTS/AgNO3. Bila sudah diketahui berapa perbandingan bahan-bahan pengawet untuk dilarutkan ke dalam air dari tiap-tiap lokasi (kualitas air berbeda disetiap tempat), maka bahan-bahan tersebut dapat dibuat pre-mixed  dan dipakai menurut takaran yang telah dicoba.  Ingat, semua pangkal bunga potong harus terendam air larutan tersebut
  2. Air Bersih Hendaknya tidak mengandung padatan terlarut (TSS) lebih dari 200 ppm.  Ketahuilah kadar fluoride dan chlorine di dalam air yang dipakai, karena banyak tanaman yang sangat sensitif.  Kadar fluoride dan chlorine tinggi banyak didapatkan di daerah-daerah volkanis.  Punice, batu lahar, batu apung sangat tinggi kadar fluoridenya, juga perlite.  Air yang kesadahannya tinggi dapat dicampur dengan Alumunium sulfat.  Ca2+  Mg2+  akan mengendap setelah tercampur Alumunium sulfat.  Ingat, endapan tersebut harus dipisahkan terlebih dahulu sebelum air dipakai untuk menaruh bunga potong.  Air yang berbau tidak enak harus dihindari pemakaiannya.
  3. Untuk memotong bunga menggunakan pisau tajam dalam preferensi untuk gunting – yang terakhir, kecuali sangat tajam, cenderung untuk mencubit batang off, sehingga menutup pori-pori atau bagian air . dalam kasus kayu-bertangkai tanaman , pemotongan miring yang diinginkan, karena hal ini memberikan permukaan yang lebih besar untuk penyerapan air. Banyak bahan kimia yang dapat membunuh mikroba atau mencegah pertumbuhannya, tetapi sebagian besar bahan-bahan tersebut tidak diijinkan digunakan dalam bahan pangan dengan alasan mengganggu kesehatan manusia. Beberapa bahan kimia yang diijinkan dalam jumlah sedikit adalah natrium benzoat, asam sitrat, natrium atau kalium propionat, etil format, sulfur oksida dll.

 

 B.            BAHAN KIMIA YANG DIGUNAKAN

 

1.        ASAM SITRAT

Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang ditemukan pada daun dan buah tumbuhan genus Citrus (jeruk-jerukan). Senyawa ini merupakan bahan pengawet yang baik dan alami, selain digunakan sebagai penambah rasa masam pada makanan dan minuman ringan. Dalam biokimia, asam sitrat dikenal sebagai senyawa antara dalam siklus asam sitrat yang terjadi di dalam mitokondria, yang penting dalam metabolisme makhluk hidup. Zat ini juga dapat digunakan sebagai zat pembersih yang ramah lingkungan dan sebagai antioksidan. Asam sitrat terdapat pada berbagai jenis buah dan sayuran, namun ditemukan pada konsentrasi tinggi, yang dapat mencapai 8% bobot kering, pada jeruk lemon dan limau (misalnya jeruk nipis dan jeruk purut).

Rumus kimia asam sitrat adalah C6H8O7 (strukturnya ditunjukkan pada tabel informasi di sebelah kanan). Struktur asam ini tercermin pada nama IUPAC-nya, asam 2-hidroksi-1,2,3-propanatrikarboksilat.

  1. Kimia Gula
    Secara kimiawi gula sama dengan karbohidrat, tetapi umumnya pengertian gula mengacu pada karbohidrat yang memiliki rasa manis, berukuran kecil dan dapat larut. Kata gula pada umumnya digunakan sebagai padanan kata untuk sakarosa (sukrosa). Pada bagian ini pengertian gula mengacu pada karbohidrat yang memiliki rasa manis, berukuran kecil dan dapat larut (dalam air).
    Rasa manis yang biasa dijumpai pada tanaman terutama disebabkan oleh tiga jenis gula, yaitu sakarosa, fruktosa dan glukosa. Gula-gula ini berada secara sendiri-sendiri ataupun dalam bentuk campuran satu dengan yang lain. Madu merupakan larutan yang terdiri dari glukosa, fruktosa dan sakarosa dalam air, dengan komposisi sekitar 80% gula dan 20% air. Komposisi sesungguhnya sangat tergantung pada asal tanaman. Dalam pembuatan bir, pati (karbohidrat berukuran besar yang tidak manis) dari biji-bijian terpecah menjadi karbohidrat yang berukuran lebih kecil, salah satunya adalah gula malt (maltosa) yang memiliki sedikit rasa manis.

                                                                                                                                                               KESIMPULAN

 Pengawetan bunga potong dengan menggunakan larutan sukrosa dan asam sitrat merupakan salah satu metode yang aman di gunakan, ramah lingkungan dan relatif murah.  Jadi metode ini layak untuk diterapkan oleh para petani bunga potong khususnya krisan.di karenakan asam sitrat memiliki kelebihan sebagai berikut:

  1. Bahan lebih aman digunakan
  2. Harga relatif lebih terjangkau
  3. Bahan juga mudah didapat
  4. Memiliki sifat antibiotik yang dapat berguna sebagai penghambat pertumbuhan bakteri penyebab penbusukan
  5. Dapat mengidealkan pH air yang akan digunakan sebagai media perendaman

 

Sedangkan kelebihan dari penggunan gula tebu dalam pengawetan adalah sebagai penghasil makanan bagi bunga selama pengawetan,sehingga memperlambat kelayuan pada bunga.
 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Direktorat penanganan pasca panen.Direktorat jenderal pengolahan  dan pemasaran.Hasil

http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_sitrat

Pertanian departemen pertanian.Jakarta,  2007

Pengawetan Bunga Potong agribisnis.deptan.go.id

Wales,Jimmy.Asam Sitrat.Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: