U_Miia04 'Blog

Beranda » MY STUDY » ACARA II PERSAINGAN INTERSPESIFIK TANAMAN ( ANTAR TANAMAN BEDA JENIS )

ACARA II PERSAINGAN INTERSPESIFIK TANAMAN ( ANTAR TANAMAN BEDA JENIS )

Calendar

Januari 2013
J S M S S R K
« Des   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Like This Blog


I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Apabila ditinjau dari segi proses alam. Manusia, seperti halnya makhluk-makhluk hidup lainnya selalu berinteraksi dengan lingkungannya, demikian juga interaksi yang terjadi antar setiap organisme dengan lingkungannya merupakan proses yang tidak sederhana melainkan suatu proses yang kompleks. Karena didalam lingkungan hidup terdapat banyak komponen yang disebut komponen lingkungan (Soemarwoto, 1983). Berdasarkan konsep dasar pengetahuan ekologi, komponen lingkunganyang dimaksud tersebut juga dinamakan komponen ekologi karena setiap komponen lingkungan tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berhubungan dan saling memengaruhi baiksecara langsung maupun tidak langsung (Odum, 1993) .

Makhluk hidup dalam mempertahankan hidupnya memerlukan komponen lain yang terdapat dilingkungannya. Misalnya udara dan air yang sangat mereka perlukan untuk bernafas dan minum dan kebutuhan lainnya. Seperti oksigen yang dihirup oleh hewan dari udara untuk pernafasan, sebagian beasr berasal dari tumbuhan yang melakukan proses fotosintesis. Sebaliknya, karbondioksida yang dihasilkan dari pernapasan oleh hewan digunakan oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis. Proses fotosintesis yang terjadi pada tumbuhan selain memanfaatkan karbondioksida, juga memerlukan bahan-bahan lainnya yang diperlukan oleh tumbuhan untuk proses tumbuh dan berkembang. Seperti energi dari radiasi matahari, air dan zat-zat hara.

Salah satu bentuk interaksi antara satu populasi dengan populasi lain atau antara satu individu dengan individu lain adalah bersifat persaingan (kompetisi). Persaingan terjadi bila kedua individu mempunyai kebutuhan sarana pertumbuhan yang sama sedangkan lingkungan tidak menyediakan kebutuhan tersebut dalam jumlah yang cukup. Persaingan ini akan berakibat negatif atau menghambat pertumbuhan individu-individu yang terlibat.
Persaingan dapat terjadi diantara sesama jenis atau antar spesies yang sama (intraspesific competition), dan dapat pula terjadi diantara jenis-jenis yang berbeda (interspesific competition). Persaingan sesama jenis pada umumnya terjadi lebih awal dan menimbulkan pengaruh yang lebih buruk dibandingkan persaingan yang terjadi antar jenis yang berbeda. Sarana pertumbuhan yang sering menjadi pembatas dan menyebabkan terjadinya persaingan diantaranya air, nutrisi, cahaya, karbon dioksida, dan ruang. Persaingan terhadap air dan nutrisi umumnya lebih berat karena terjadi pada waktu yang lebih awal. Faktor utama yang mempengaruh persaingan antar jenis tanaman yang sama diantaranya kerapatan. Pengaruh persaingan dapat terlihat pada laju pertumbuhan (misalnya tinggi tanaman dan diameter batang), warna daun atau kandungan klorofil, serta komponen dan daya hasil.

Beberapa waktu terakhir, berbagai upaya memaksimalkan hasil tanaman budidaya telah banyak dilakaukan. Upaya-upaya tersebut dapat berupa penggunaan bibit unggul atau mengatur jarak tanam. Pengaturan populasi tanaman pada hakekatnya adalah pengaturan jarak tanam yang nantinya akan berpengaruh pada persaingan dalam penyerapan zat hara, air, dan cahaya matahari. Jika hal tersebut tidak diatur dengan baik, hasil tanaman akan ikut terpengaruh. Jarak tanam rapat akan mengakibatkan terjadinya suatu kompetisi, baik inter maupun intraspesies. Beberapa penelitian tentang jarak tanam menunjukkan bahwa semakin rapat jarak tanam maka semakin tinggi tanaman tersebut dan secara nyata akan berpengaruh terhadap jumlah cabang, luas permukaan daun dan pertumbuhan tanaman (Budiastuti , 2009).
Mengingat pentingnya mengengetahui jarak tanaman ideal untuk pertumbuhan tanaman ini, maka dilakukan praktikum tentang kompetisi yang terjadi pada tanaman yang sejenis maupun yang berbeda spesies. Hal inilah yang melatar belakangi dilakukannya pengamatan kompetisi pada tanaman ini.

B. Tujuan
Untuk mempelajari pertumbuhan tanaman sawi sendok pada kondisi persaingan dengan gulma

II. TINJAUAN PUSTAKA

Klasifikasi Pakchoy
Divisi          : Spermatophyta
Subdivisi   : Angiospermae
Kelas           : Dicotyledonae
Ordo           : Rhoeadales (Brassicales)
Famili        : Cruciferae (Brassicaceae)
Genus         : Brassica
Spesies       : Brassica rapa L.

Rubatzky dan Yamaguchi (1998) menyatakan tanaman pakchoy merupakan salah satusayuran penting di Asia, atau khususnya di China. Daun pakchoy bertangkai, berbentuk oval, berwarna hijau tua, dan mengkilat, tidak membentuk kepala, tumbuh agak tegak atau setengahmendatar, tersusun dalam spiral rapat, melekat pada batang yang tertekan. Tangkai daun, berwarna putih atau hijau muda, gemuk dan berdaging, tanaman mencapai tinggi 15–30 cm.Keragaman morfologis dan periode kematangan cukup besar pada berbagai varietas dalamkelompok ini. Terdapat bentuk daun berwarna hijau pudar dan ungu yang berbeda.Lebih lanjut dinyatakan pakchoy kurang peka terhadap suhu ketimbang sawi putih,sehingga tanaman ini memiliki daya adaptasi lebih luas. Vernalisasi minimum diperlukan untuk bolting. Bunga berwarna kuning pucat. Jenis ini ditanam dengan benih langsung atau dipindahtanam dengan kerapatan tinggi; yaitu sekitar 20– 25 tanaman/m 2, dan bagi kultivar kerdilditanam dua kali lebih rapat.Kultivar genjah dipanen umur 40 hari, dan kultivar lain memerlukan waktu hingga 80hari setelah tanam. Daun lembut berkembang penuh dan tangkai daun biasa dimasak, ditumisadalah penyajian yang paling disukai. Pakchoy memiliki umur pascapanen singkat, tetapikualitas produk dapat dipertahankan selama 10 hari, pada suhu 00C dan RH 95% (Rubatzky danYamaguchi, 1998).

Pakchoy ( Brassica rapaL.) adalah jenis tanaman sayur-sayuran yang termasuk keluarga Brassicaceae. Tumbuhan pakchoy berasal dari China dan telah dibudidayakan setelah abad ke-5secara luas di China selatan dan China pusat serta Taiwan. Sayuran ini merupakan introduksi baru di Jepang dan masih sefamili denganChinese vegetable(Siemonsma & Piluek, 1994).

Saat ini pakchoy dikembangkan secara luas di Philipina dan Malaysia, terbatas di Indonesia danThailand. Pakchoy ( Brassica rapaL) kaya vitamin, mineral dan protein (Elsivier, 1981).Kandungan gizi pakchoy berperan penting bagi kesehatan manusia (Tyndall, 1983). Pakchoymasuk ke wilayah Indonesia diduga pada Abad XIX dan budidaya umumnya dilakukan didataran tinggi (lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut) (Rukmana , 1994). Beberapa tahunterakhir, penggunaan pupuk hayati pada budidaya sayuran secara organik telah dilaksanakan danmemberi prospek cerah untuk pertanian masa mendatang. Upaya pemupukan dengan bahanorganik perlu digalakkan untuk menghemat biaya produksi karena pupuk organik relatif murah,mudah didapat dan efek negatif minimum baik bagi kesehatan maupun lingkungan.Syarifuddin dan Abdurachman (1993) menyatakan pupuk telah memainkan perananmenentukan dalam menghasilkan peningkatan produksi. Peranan pupuk dimasa depan akansemakin menonjol apabila kita mengingat keterbatasan lahan untuk perluasan pertanian pangan.Disamping itu, penggunaan pupuk ikut pula menentukan koefisien penggunaan air irigasi, suatusumber yang keterbatasannya juga semakin terasa.Penanaman pakchoy secara organik selalu memerlukan pupuk. Sejalan perkembanganzaman, pemakaian pupuk bahan alami lebih diharapkan untuk ditingkatkan. Menurut Cooke(1987) pupuk kandang kering rerata mengandung 2% N, 9,04% P, dan 1,7% K, tetapiketersediaan terhadap tanaman hanya dapat diketahui pada percobaan lapangan. Bahan organik dibuat oleh organisme hidup dan tersusun atas banyak senyawa karbon. Produksi bahan organik memadukan faktor lingkungan iklim, ketersediaan air, bahan induk, ketersediaan hara danorganisme.

Persaingan Interspesifik
Kompetisi adalah interakksi antar individu yang muncul akibat kesamaan kebutuhan akan sumberdaya yang bersifat terbatas, sehingga membatasi kemampuan bertahan (survival), pertumbuhan dan reproduksi individu penyaing (Begon et al .1990), sedangkan Molles (2002) kompettisi didefinisikan sebagai interaksi antar individu yang berakibat pada pengurangan kemampuan hidup mereka. Kompetisi dapat terjadi antar individu (intraspesifik) dan antar individu pada satu spesies yang sama atau interspesifik (Krebs, 2002; Molles, 2002)

Kompetisi dapat didefenisikan sebagai salah satu bentuk interaksi antar tumbuhan yang saling memperebutkan sumber daya alam yang tersedia terbatas pada lahan dan waktu sama yang menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan hasil salah satu jenis tumbuhan atau lebih. Sumber daya alam tersebut, contohnya air, hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh (Kastono, 2005). Definisi kompetisi sebagai interaksi antara dua atau banyak individu apabila (1) suplai sumber yang diperlukan terbatas, dalam hubungannya dengan permintaan organisme atau (2) kualitas sumber bervariasi dan permintaan terhadap sumber yang berkualitas tinggi lebih banyak.organisme mungkin bersaing jika masing-masing berusaha untuk mencapai sumber yang paling baik di sepanjang gradien kualitas atau apabila dua individu mencoba menempati tempat yang sama secara simultan. Sumber yang dipersaingkan oleh individu adalah untuk hidup dan bereproduksi, contohnya makanan, oksigen, dan cahaya (Noughton, 1990).

Adanya lebih dari satu spesies dalam suatu habitat menaikkan ketahanan lingkungan kapan pun spesies lain bersaing secara serius dengan spesies pertama untuk beberapa sumber penting, hambatan pertumbuhan terjadi dalam kedua spesies. Hukum Gause menyatakan bahwa tidak ada spesies dapat secara tak terbatas menghuni tempat yang sama secara serentak. Salah satu dari spesies-spesies itu akan hilang atau setiap spesies menjadi makin bertambah efisien dalam memanfaatkan atau mengolah bagian dari lahan tersebut, dengan demikian keduanya akan mencapai keseimbangan. Dalam situasi terakhir, persaingan interspesifik berkurang karena setiap spesies menghuni suatu lahan mikro yang terpisah (Michael, 1994).

Persaingan diantara tumbuhan secara tidak langsung terbawa oleh modifikasi lingkungan. Di dalam tanah, sistem-sistem akan bersaing untuk mendapatkan air dan bahan makanan, dan karena mereka tak bergerak, ruang menjadi faktor yang penting. Di atas tanah, tumbuhan yang lebih tinggi mengurangi jumlah sinar yang mencapai tumbuhan yang lebih rendah dan memodifikasi suhu, kelembapan serta aliran udara pada permukaan tanah (Michael, 1994).

III. METODOLOGI

A. Tempat dan waktu pengamatan
Pengamatan ini dilakukan di Laboratorium Ilmu tanah ,Universitas Mercu Buana Yogyakarta dan Kebun percobaan Gunung bulu, Sedayu. Praktikum mulai dilaksanakan pada tanggal 26 April 2012 – 21 Juni 2012.

B. Alat dan Bahan
Bahan :
1. Benih sawi sendok (pakcoy atau bok choy)
2. Pupuk organik
3. Pupuk anorganik (Urea, TSP, KCl)
4. Pestisida (Furadan 3G, insektisida, fungisida lain)
Alat :
1. Cangkul
2. Koret
3. Tugal
4. Meteran
5. Gembor
6. Hand sprayer
7. Timbangan
8. Oven
Cara Kerja

  1. Setiap kelompok menyiapkan dan melakukan budidaya pada 2 bedengan
  2. Pembibitan : lakukan pembibitan dengan bedengan atau poli bag. Jika dengan bedengan pemibitan, berukuran ± (1m x 1m), tinggi bedengan 20-30 cm. Dua minggu sebelum ditabur benih, bedengan pembibitan ditaburi dengan pupuk kandang lalu di tambah 20 gram urea, 10 gram TSP dan 7,5 gram KCl. Cara melakukan pembibitan adalah benih ditabur, lalu ditutupi tanah setebal 1-2 cm, lalu disiram dengan sprayer, kemudian diamati 3-5 hari. Benih akan tumbuh setelah berumur 3-4 minggu sejak disemaikan dan tanaman dipindahkan ke lahan.
  3. Buat lubang tanam dengan cara membuat lubang dengan ukuran ± (3 cm x 6 cm) dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Pilihlah bibit yang baik, pindahkan bibit dengan hati-hati.
  4. Beri sedikit furadan pada setiap lubang tanam.
  5. Tutup lubang tanam (tandai larikan lubang tanam).
  6. Berikan pupuk urea 200 kg/ha, TSP 100 kg/ha, KCl 75 kg/ha. Pemberian dengan cara membuat lubang/alur sedalam 10 cm pada jarak sekitar 3-7 cm dari tanaman. Pemupukan tambahan diberikan setelah 3 minggu tanam, yaitu urea 50 kg/ha.
  7. Lakukan penyiraman setelah tanam, dan selanjutnya sesuai kondisi lahan. Bila tidak terlalu panas penyiraman dilakukan sehari cukup sekali sore atau pagi hari.
  8. Buat label setiap bedengan meliputi formasi : kelompok, tanggal tanam, jarak tanam, varietas, keterangan dengan penyiangan atau tidak.
  9. Tentukan 5 tanaman sampel dan berilah tanda.
  10. Pada minggu pertama setelah pindah tanam, lakukan penyulaman ialah tindakan penggantian tanaman yang mati atau terserang hama dan penyakit diganti dengan tanaman yang baru.
  11. Setiap kelompok mengerjakan 2 bedengan, satu bedengan dilakuakn penyiangan dan satu bedengan tidak dilakukan penyiangan. Bedengan dengan penyiangan dilakukan setidaknya 2-4 kali selama masa pertanaman sawi, disesuaikan dengan kondisi keberadaan gulma pada bedeng penanaman. Biasanya penyiangan dilakukan 1 atau 2 minggu setelah penanaman. Apabila perlu dilakukan penggemburan dan pengguludan bersamaan dengan penyiangan.
  12. Lakukan pengendalian bila terjadi serangan hama atau penyakit.
  13. Panen sawi sendok dilakukan pada umur sekitar 50-60 hari setelah tanam. Selain telah memasuki umur panen, juga perlu diamati terlebih dahulu fisik tanaman seperti warna, bentuk dan ukuran daun telah memenuhi kriteria panen, antara lain panjang daun sekitar 17 cm.
  14. Cara panen ada dua macam yaitu mencabut seluruh tanaman beserta akarnya dan memotong bagian pangkal batang yang berada di atas tanah dengan pisau tajam.
  15. Pasca panen sawi yang perlu diperhatikan adalah pencucian dan pembuangan kotoran serta sortasi.
  16. Amati variabel pertumbuhan seperti tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar dan bobot kering tanaman. Catat pada label pengamatan. Tinggi tanaman dan jumlah daun diamati setiap satu minggu sekali, dimulai saat pindah tanam. Sedangkan bobot segar dan bobot kering diamati setelah panen.
  17. Sedangkan untuk variabel hasil adalah bobot segar hasil panen setelah dipotong bagian pangkal batang yang berada di atas tanah.
  18. Lakukan tukar data dengan kelompok lain, sehingga apabila ada 4 kelompok, diperoleh 4 ulangan.
  19. Analisis data dan buatlah laporan dengan format : JUDUL, PENDAHULUAN (Dasar Teori; Tujuan), BAHAN DAN ALAT, CARA KERJA, HASIL PENGAMATAN, PEMBAHASAN, KESIMPULAN.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

JARAK TANAM 20 X 20 Cm

 

TIDAK DISIANG

 

ULANGAN 1

SAMPLE

VARIABEL PENGAMATAN

VARIABEL HASIL

MINGGU I

(31/05/2012)

MINGGU II

(7 /06/2012)

MINGGU III

(14/06/2012)

MINGGU IV

(21/06/2012)

BOBOT+AKAR (gr)

BOBOT TANPA AKAR (gr)

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

I

8

5

9

12.5

24

12

24

17

111.5

92.4

II

8

4

8

14

22.5

10

23

11

115.5

96.9

III

6

3

7

11

19

9

20

11

38

22

Rata-rata

7.33

4.00

8.00

12.50

21.83

10.33

22.33

13.00

88.33

70.43

 

ULANGAN 2

SAMPLE

VARIABEL PENGAMATAN

VARIABEL HASIL

MINGGU I

(31/05/2012)

MINGGU II

(7 /06/2012)

MINGGU III

(14/06/2012)

MINGGU IV

(21/06/2012)

BOBOT+AKAR (gr)

BOBOT TANPA AKAR (gr)

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

I

5.6

3

7

5

16

8

18

8

29.1

26.2

II

7.3

5

10

8

21

9

22.8

15

22.5

20

III

6.4

5

9

7

14

9

16

11

89.2

77.8

Rata-rata

6.43

4.33

8.67

17.00

8.67

8.67

18.93

11.33

46.93

41.33

 

 

DISIANGI

 

ULANGAN 1

SAMPLE

VARIABEL PENGAMATAN

VARIABEL HASIL

MINGGU I

(31/05/2012)

MINGGU II

(7 /06/2012)

MINGGU III

(14/06/2012)

MINGGU IV

(21/06/2012)

BOBOT+AKAR (gr)

BOBOT TANPA AKAR (gr)

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

I

5.5 4 9.3 7 16.5 10 19.3 20 66.2 61.5

II

7.3 4 10.5 8 15.3 10 18.1 18 60.7 55.8

III

7.8 6 13.5 8 23.8 10 24.5 13 110.5 102

Rata-rata

6.87 4.67 11.10 7.67 18.53 10.00 20.63 17.00 79.13 73.10

 

 

ULANGAN 2

SAMPLE

VARIABEL PENGAMATAN

VARIABEL HASIL

MINGGU I

(31/05/2012)

MINGGU II

(7 /06/2012)

MINGGU III

(14/06/2012)

MINGGU IV

(21/06/2012)

BOBOT+AKAR (gr)

BOBOT TANPA AKAR (gr)

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

I

7.1

5

13.8

6

18

10

22.5

13

II

8.4

4

14.7

7

23

11

30.5

14

III

5.1

4

10.5

5

13

10

26.7

12

Rata-rata

6.87

4.33

13.00

6.00

18.00

10.33

26.57

13.00

 

 

 

 

 

 

RERATA

Perlakuan

Tidak disiang

Ulangan

Tinggi Tanaman

Jumlah Daun

BOBOT+AKAR (gr)

BOBOT TANPA AKAR (gr)

Minggu 1

1

7.33

4.00

88.33

70.43

Minggu 2

8.00

12.50

Minggu 3

21.83

10.33

Minggu 4

22.33

13.00

Rata – rata

14.87

9.95

88.33

70.43

Minggu 1

2

6.43

4.33

46.93

41.33

Minggu 2

8.67

17.00

Minggu 3

8.67

8.67

Minggu 4

18.93

11.33

10.67

10.33

46.93

41.33

Perlakuan

Disiang

Ulangan

Tinggi Tanaman

Jumlah Daun

BOBOT+AKAR (gr)

BOBOT TANPA AKAR (gr)

Minggu 1

1

6.87

4.67

79.13

73.10

Minggu 2

11.10

7.67

Minggu 3

18.53

10.00

Minggu 4

20.63

17.00

Rata – rata

14.2825

9.835

79.13

73.10

Minggu 1

2

6.87

4.33

Minggu 2

13.00

6.00

Minggu 3

18.00

10.33

Minggu 4

26.57

13.00

16.11

8.41

 

 

 

Perlakuan

 

Ulangan

Tinggi Tanaman

Jumlah Daun

BOBOT+AKAR (gr)

BOBOT TANPA AKAR (gr)

Tidak Disiang

1

10.67

10.33

46.93

41.33

2

14.87

9.95

88.33

70.43

Disiang

1

14.28

9.83

79.13

73.10

2

16.11

8.41

B. PEMBAHASAN

Telah dilakukan percobaan persaingan interspesifik tanaman dengan penanaman sawi sendok atau dikenal dengan sawi pakcoy. Penanaman dilakukan pada dua bedeng yang berbeda dimana disetiap bedeng dilakukan perlakuan yang berbeda yaitu salah satu bedeng dilakukan penyiangan (pengambilan gulma pengganggu disekitar tanaman pokok) sedangkan pada bedeng yang satu gulma dibiarkan tumbuh disekitar tanaman sawi yang ditanam. Percobaan ini bertjuan untuk mengetahui perbedaan pertumbuhan tanaman antara tanaman yang bersaing dengan tanaman lain atau gulma dengan tanaman yang tidak terjadi persaingan dengan tanaman lain. Perlakuan yang membedakan hanya perbedaan penyiangan saja sehingga pada dua bedeng tanaman masing-masing memniliki jarak tanam yang sama. Pemberian pupuk dilakukan pada dosis yang sama sehingga diharapkan tidak terjadi perebedaan pertumbuhan tanaman karena pengaruh dosis pupuk.
Dalam percobaan ini terdapat kendala pada saat proses penyemaian benih terjadi etiolasi diduga karena pada saat penyemaian benih dilakukan di dalam ruangan sehingga kemungkinan bibit sawi yang telah tumbuh kurang mendapatkan cahaya. Karena bibit sawi mengalami etiolasi maka ketika dipindahkan ke lahan tanam bibit sawi banyak yang tidak tahan dan ada yang mati. Dilakukan 3 kali penyulaman karena banyak bibit sawi yang mati. Bibit yang ditanam pada lahan tanam sudah memiliki berbagai perbedaan ukuran,jumlah daun dan tinggi tanaman antara benih yang satu dan benih yang lain sehingga saat sawi tumbuh dalam satu bedeng terjadi perbedaan ukuran yang bervariasi antara tanaman sawi satu dengan yang lainnya.
Pengamatan percobaan dilakukan dengan pencatatan tinggi dan jumlah daun sawi setiap minggunya untuk mengetahui laju pertumbuhan tanaman dan saat dilakukan panen dilakukan penimbangan bobot sawi baik dengan akar ataupun bobot sawi siap jual (tanpa akar). Dari praktikum yang dilakukan didapatkan data tinggi tanaman, jumlah daun dan bobot tanaman siap jual dan dapat diolah sehingga didapatkan perbedaan hasil antara dua perlakuan. Dari data tinggi tanaman yang didapatkan dapat dilihat bahwa interval tinggi tanaman setiap minggunya pada tanaman sawi yang dilakukan penyiangan laju pertumbuhan tinggi tanamannya lebih besar dari tanaman sawi yang tidak dilakukan penyiangan atau terdapat gulma. Pada jumlah daun tanaman yang disiangi gulmanya setiap minggunya terjadi pertumbuhan jumlah daun yang lebih banyak dari pada tanaman yang perlakuannya tanpa melakukan penyiangan. Dari data yang diperoleh dapat dilihat laju pertumbuhan disetiap minggunya sehingga perbedaan kondisi awal bibit dapat teratasi dengan melakukan pengamatan pertumbuhan disetiap minggunya.
Dari bedeng yang tidak dilakukan penyiangan didapatkan rata-rata tinggi tanaman sebesar 12.77 cm sedangkan pada bedeng yang dilakukan penyiangan didapatkan rata-rata tinggi tanaman sebesar 15.195 cm dari variable tinggi tanaman tersebut sudah membuktikan bahwa pada tanaman yang terjadi persaingan interspesifik (dengan perlakuan tanpa penyiangan) terjadi penghambatan pertumbuhan tanaman karena terjadi persaingan antara tanaman pokok dengan gulma disekitar tanaman.
Dari percobaan tersebut dapat diketahui bahwa pada tanaman yang terjadi persaingan dengan tanaman lain pertumbuhannya lebih lambat dari tanaman yang perlakuannya dengan penyiangan karena pada tanaman yang bersaing dengan gulma karena tanaman tersebut dalam pemenuhan unsure hara terhambat oleh gulma disekitarnya dan terjadi perebutan unsure hara. Zat allelopati yang dikeluarkan oleh gulma tanaman diduga juga menjadi salah satu factor penyebab penghambat laju pertumbuhan tanaman sehingga pada bedeng yang dibiarkan ditumbuhi gulma pertumbuhan tanamannya relative lebih lambat dari tanaman yang ditanam pada bedeng bebas gulma.

V. KESIMPULAN

Dari percobaan persaingan interspesik tanaman yang dilakukan dengan penanaman tanaman sawi sendok atau sawi pakcoy dengan perlakuan perbedaan bedeng yang disiangi( dihilangkan gulma tanaman yang mengganggu tanaman induk) dengan bedeng tanpa penyiangan dapat disimpulkan bahwa :
1. Pada bedeng yang tidak dilakukan penyiangan terjadi persaingan interspesifik dan dibuktikan tanaman sawi sendok yang dihasilkan pertumbuhan tanamannya tidak sebaik pada bedeng yang dilakukan penyiangan atau tanpa gulma. Hal ini dapat dilihat dari data yang diperoleh bahwa tinggi tanaman dan jumlah daun pada tanaman yang dilakukan penyiangan lebih besar daripada tanaman yang tidak dilakukan penyiangan.
2. Pada bedeng yang tidak terjadi persaingan interspesifik (disiangi) didapatkan hasil rata-rata bobot tanaman tanpa akar sebesar 73,10 gr sedangkan pada bedeng yang terjadi persaingan interspesifik (tidak disiangi) didapatkan rata-rata bobot tanaman sebesar 55,88 gr. Dari hasil tersebut membuktikan bahwa tanaman yang mengalami persaingan interspesifik terhambat pertumbuhannya.

DAFTAR PUSTAKA

http://bhimashraf.blogspot.com/2010/10/kompetisi-interspesifik.html ( diakses pada 13 Juli 2012 )
http://manumeng.blogspot.com/2011/11/laporan-interspesifik.html ( diakses pada 13 Juli 2012 )
http://repository.ipdn.ac.id/43/3/BAB_III_Syarat_Tumbuh_dan_Budidaya_Tan.pdf ( diakses pada 13 Juli 2012 )
http://www.scribd.com/doc/76407440/Pakcoy-Pakchoy-Pak-coi ( diakses pada 13 Juli 2012 )
Michael. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium. UI
Naughton. 1998. Ekologi Umum, edisi kedua. UGM Press : Yogyakarta.
Press : Jakarta.


2 Komentar

  1. […] ACARA II PERSAINGAN INTERSPESIFIK TANAMAN ( ANTAR TANAMAN BEDA JENIS ) […]

  2. ira ngabut mengatakan:

    minta daftar pustakanya donk????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: