U_Miia04 'Blog

Beranda » MY STUDY » ACARA III PENGARUH KONDISI PENCAHAYAAN PADA PERTUMBUHAN TANAMAN

ACARA III PENGARUH KONDISI PENCAHAYAAN PADA PERTUMBUHAN TANAMAN

Calendar

Januari 2013
J S M S S R K
« Des   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Like This Blog


I.                   PENDAHULUAN

 

A.       Latar Belakang

Salah satu ciri makhluk hidup adalah tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan pada tanaman terjadi karena adanya pertambahan ukuran (volume) yang irreversible (tidak dapat balik) yang disebabkan adanya pertambahan jumlah sel melalui proses pembelahan sel secara mitosis pada titik tumbuh dan pembesaran dari tiap-tiap sel. Sedangkan perkembangan merupakan spesialisasi sel sel menjadi struktur dan fungsi tertentu. Perkembangan tidak dapat dinyatakan dengan ukuran, tetapi dapat dinyatakan dengan perubahan bentuk dan tingkat kedewasaan.

Pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman adalah cahaya. Tumbuhan membutuhkan cahaya, tetapi banyaknya cahaya yang dibutuhkan tidak selalu sama pada setiap tanaman.

Pada saat pembelajaran mengenai pertumbuhan dan perkembangan, terdapat banyak sekali teori yang menjelaskan mengenai faktor-faktor, mekanisme, maupun macam-macam pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan. Namun, teori tersebut belum dapat dipelajari penuh jika kita belum mengetahui bagaimana keadaannya sebenarnya di lingkungan kita. Selain itu, masih banyak siswa-siswa yang belum dapat menunjukan bagaimana pertumbuhan dan perkembangan sebuah tanaman.

Untuk itu, penulis mengadakan praktek lapangan sekaligus penelitian untuk lebih mengetahui dan membuktikan teori-teori tersebut. Dengan berlandaskan teori-teori tersebut, di dalam penelitian ini, penulis akan mengamati pertumbuhan dan perkembangan biji kacang tanah.

 

B.       Tujuan praktikum

Mempelajari pertumbuhan tanaman ( kacang tanah ) pada kondisi pencahayaan yang berbeda (  tidak ternaungi , sedikit ternaungi dan ternaungi )

II.                TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

Tanaman kacang tanah termasuk dalam famili papilionaceae dengan ordo Rosales. Sistematika tanaman kacang tanah digolongkan kepada :

Diviso : Spermatophyta

Subdiviso : Angiospermae

Klass : Dicotyledoneae

Famili : Papilionaceae

Genus : Arachis

Spesies : Arachis hypogaea ( Marzuki, 2007)

Kacang tanah berakar tunggung dengan akar cabang yang tumbuh tegak lurus. Akar cabang ini mempunyai bulu akar yang bersifat sementara dan berfungsi sebagai alat penyerap hara. Bulu akar ini dapat mati dan dapat juga menjadi akar permanen. Jika tetap permanen, akar akan berfungsi terus sebagai penyerap hara tanaman dari dalam tanah. Kadang polongnya mempunyai alat penghisap, seperti bulu akar yang dapat menyerap hara makanan pula (Suhaeni, 2007).

Kacang tanah memiliki akar serabut dan tumbuh ke bawah sedalam 20 cm.Selain itu juga memiliki akar serabut juga mempunyai akar lateral sepanjang 5-25 cm. Pada akar serabut dan lateral terdapat bulu akar. Fungsi bulu akar untuk menghisap air dan unsur hara. Bintil – bintil akar terdapat pada akar lateral dan mengandung bakteri rizobium yang mampu mengikat unsur nitrogen dari udara sehigga menambah kesuburan tanah (Rahmadi.dkk, 1990).

Batang tanaman kacang tanah berbentuk perdu yang tingginya 30-50 cm. Dilihat dari tipe pertumbuhan batangnya, dibedakan menjadi dua tipe yaitu tipe tegak dan menjalar. Tipe tegak berumur lebih genjah (100-120 hari) dan kematangan polongnya seragam. Tipe menjalar berumur panjang (150-180) dan kematangan polongnya tidak seragam. Potensi hasil tipe menjalar perbatanganya lebih banyak tetapi produksi persatuan luasnya lebih sedikit (Nurwidada, 1998).

Daun kacang tanah berdaun majemuk bersirip genap terdiri atas empat anak daun dengan tangkai daun agak panjang. Helaian anak daun ini bertugas menerima cahaya matahari sebanyak banyaknya. Daun kacang tanah mulai gugur pada akhir masa pertumbuhan dan dimulai dari bagian bawah. Selain berhubungan dengan umur, gugur daun kadang ada hubungannya dengan faktor penyakit ( Suhaeni, 2007 ).

Percabangan kacang tanah tipe tegak umunya lurus atau sedikit miring ke atas. Petani lebih menyukai tipe tegak sebab umur panennya pendek, 100 – 120 hari. Selain itu, buahnya hanya beruas – ruas pada pangkal utama dan cabangnya. Tiap polong berrbiji antara 2-4 butir sehingga masaknya bias bersamaan. Tanaman kacang tanah yang termasuk tipe ini adalah subspecies fastigiata ( Makmur, 1988 ).

Kacang tanah tipe menjalar cabang cabangnya tumbuh ke samping. Tetapi ujung ujungnya mengarah ke atas. Panjang batang utamanya antara 33 – 66cm. Tipe ini umumnya antara 5-7 bulan atau sekitar 150-200 hari. Tiap ruas yang berdekatan dengan tanah akan menghasilkan buah sehingga masaknya tidak bersamaan. Tiap polong umunya berbiji dua butir. Tanaman kacang tanah yang termasuk tipe ini adalah subspecies hypogaea (Soemaatmadja, 1993).

Kacang tanah mulai berbunga kira kira pada umur 4-5 minggu. Bunga keluar pada ketiak daun. Bentuk bunganya sangat aneh. Setiap bunga seolah olah bertangkai panjang berwarna putih. Tangkai ini sebenarnya bukan tangkai bunga tetapi tabung kelopak. Mahkota bunga berwarna kuning. Bendera dari mahkota bunganya bergaris – garis merah pada pangkalnya. Umur bunganya hanya satu hari, mekar di pagi hari dan layu pada sore hari (Nasir, 2002).

Bunga kacang tanah dapat melakukan penyerbukan sendiri dan bersifat geotropis positif. Penyerbukan terjadi sebelum bunganya mekar. Sepanjang malam tabung kelopak tumbuh memanjang sampai mencapai panjang maksimum yakni 7 cm. beberapa jam setelah penyebukanbarulah terjadi pembuahan. Penyerbukan silang secara alami sangat kecil, kira – kira 0,5%. Penyerbukan sendiri sering disebut penyerbukan tertutup (Sutopo, 1998).

Kacang tanah berbuah polong. Polongnya terbentuk setelah terjadi pembuahan. Bakal buah tersebut tumbuh memanjang. Inilah yang disebut ginofora yang menjadi tangkai polong. Cara pembentukan polong adalah mula – mula ujung ginofora yang runcing mengarah ke atas. Setelah tumbuh. Ginofora tersebut melengkung ke bawah dan masuk ke dalam tanah. Setelah menembus tanah, ginofora mulai membentuk polong. Pertumbuhan memanjang ginofora memanjang terhenti setelah terbentuk polong. (Sitompul.dkk, 1995).

Polong – polong kacang tanah berisi antar 1 sampai dengan 5 biji. Biji kacang tanah berkeping dua dengan kulit ari berwarna putih, merah atau ungu tergantung varitasnya. Ginofora tidak dapat membentuk polong jika tanahnya terlalu keras dan kering atau batanya terlalu tinggi (Allard, 2005).

Syarat Tumbuh

Iklim

Temperatur merupakan suatu syarat tumbuh tanaman kacang tanah. Temperatur sangat erat hubungannya dengan ketinggian semakin tinggi suatu daerah maka suhu akan semakin turun (Suprapto, 2006 ).

Cahaya merupakan faktor penting terhadap berlangsungnya fotosintesis, sementara fotosintesis merupakan proses yang menjadi kunci dapat berlangsungnya proses metabolisme yang lain di dalam tanaman (Kramer dan Kozlowski, 1979).

Cahaya matahari mempunyai pengaruh terhadap perkecambahan tumbuhan. Tetapi banyak sedikitnya cahaya yang dibutuhkan oleh tiap-tiap tumbuhan itu berbeda-beda. Beberapa peneliti telah memperlihatkan bahwa biji yang peka terhadap cahaya tidak akan berkecambah dibawah kanopi daun. Cahaya sendiri memiliki suatu intensitas, kerapatan pengaliran atau intensitas menunjukkan pengaruh primernya terhadap fotosintesis dan pengaruh sekundernya pada morfogenetika pada intensitas rendah, tetapi sebagian memerlukan energi yang lebih besar.

Adanya penyinaran sinar matahari akan menimbulkan cahaya yang dibutuhkan untuk :

  1. Pembentukan zat warna hijau (chlorophyll)
  2. Pertumbuhan tanaman dan kwalitas produksi. Tanaman yang kurang cahaya matahari pertumbuhannya lemah, pucat dan memanjang.

Ketersediaan cahaya bagi pertumbuhan tanaman sangat bermanfaat dalam proses :

  1. Perkecambahan
  2. Perpanjangan batang
  3. Membukanya hipokotil
  4. Perluasan daun
  5. Dormansi tunas
  6. Sistesis klorofil
  7. Gerakan batang
  8. Gerakan daun
  9. Pembukaan bunga

Apabila ditanam di tempat gelap, maka tanaman kecambah akan tumbuh lebih panjang daripada normalnya. Peristiwa itu terjadi karena pengaruh fitohormon, terutama hormon auksin. Fungsi utama hormon auksin adalah sebagai pengatur pembesaran sel dan memacu pemanjangan sel di daerah belakang meristem ujung. Hormon auksin ini sangat peka terhadap cahaya matahari. Bila terkena cahaya matahari, hormon ini akan terurai dan rusak. Pada keadaan yang gelap, hormon auksin ini tidak terurai sehingga akan terus memacu pemanjangan batang. Akibatnya, batang tanaman akan lebih panjang jika ditanam di tempat yang gelap, tetapi dengan kondisi fisik tanaman yang kurang sehat, akar yang banyak dan lebat, batang terlihat kurus tidak sehat, warna batang dan daun pucat serta kekurangan klorofil sehingga daun berwarna kuning. Peristiwa ini disebut etiolasi.

Jika ditanam di tempat terang, maka kecambah akan tumbuh lebih pendek daripada yang ditanam di tempat gelap. Peristiwa itu juga terjadi karena pengaruh fitohormon, terutama hormon auksin. Seperti yang telah dijelaskan di atas, hormon auksin ini akan terurai dan rusak sehingga laju pertambahan tinggi tanaman tidak terlalu cepat. Akibatnya, batang tanaman akan lebih pendek, tetapi dengan kondisi fisik tanaman yang sehat, subur, batang terlihat gemuk, daun terlihat segar dan berwarna hijau serta memiliki cukup klorofil.

Setiap tanaman atau jenis pohon mempunyai toleransi yang berlainan terhadap cahaya matahari. Ada tanaman yang tumbuh baik ditempat terbuka sebaliknya ada beberapa tanaman yang dapat tumbuh dengan baik pada tempat teduh/bernaungan. Ada pula tanaman yang memerlukan intensitas cahaya yang berbeda sepanjang periode hidupnya. Pada waktu masih muda memerlukan cahaya dengan intensitas rendah dan menjelang sapihan mulai memerlukan cahaya dengan intensitas tinggi (Soekotjo,1976 dalam Faridah, 1995).

Banyak spesies memerlukan naungan pada awal pertumbuhannya, walaupun dengan bertambahnya umur naungan dapat dikurangi secara bertahap. Beberapa spesies yang berbeda mungkin tidak memerlukan naungan dan yang lain mungkin memerlukan naungan mulai awal pertumbuhannya. Pengaturan naungan sangat penting untuk menghasilkan semai-semai yang berkualitas. 

Naungan berhubungan erat dengan temperatur dan evaporasi. Oleh karena adanya naungan, evaporasi dari semai dapat dikurangi. Beberapa spesies lain menunjukkan perilaku yang berbeda. Beberapa spesies dapat hidup dengan mudah dalam intensitas cahaya yang tinggi tetapi beberapa spesies tidak. (Suhardi et al, 1995)

Sebagian dari jenis-jenis dipterocarpaceae terutama untuk jenis kayu yang mempunyai berat jenis tinggi atau tenggelam dalam air atau sebagian lagi tergolong jenis semi toleran atau gap appertunist yaitu jenis-jenis yang memiliki kayu terapung atau berat jenis rendah.

Kebutuhan cahaya untuk pertumbuhannya di waktu muda (tingkat anakan) berkisar antara 50 – 85 % dari cahaya total. Untuk jenis-jenis semitoleran naungan untuk anakan diperlukan sampai umur 3 – 4 tahun atau sampai tanaman mencapai tinggi 1 – 3 meter. Sedangkan untuk jenis-jenis toleran lebih lama lagi yaitu 5 – 8 tahun. Sangat sedikit jenis yang tergolong intoleran antara lain Shorea concorta (Rasyid H. A. dkk, 1991).

Suhardi (1995) mengemukakan Hopea gregaria yang termasuk dalam jenis Dipterocarpaceae, di tempat penuh memberikan pertumbuhan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan tempat cahaya masuk sebahagian. Dibandingkan dengan lama penyinaran dan jenis cahaya, intensitas cahaya merupakan faktor yang paling berperan terhadap kecepatan berjalannya fotosintesis.

Kacang tanah dapat tumbuh pada lahan dengan ketinggian 0-500m di atas permukaan laut. Tanaman ini tidak terlalu memilih tanah khusus. Diperlukan iklim yang lembab.Di daerah yang memiliki musim kemarau panjang, kacang tanah memerlukan pengairan, terutama pada fase perkecambahan, pembuahan dan pengisian polong (Mangoendidjojo, 2003).

Didaerah yang curah hujannya tinggi, penyerapan zat hara dari dalam tanah , panen dan pengolahan hasil itu merupakan masalah. Curah hujan waktu tanam selama dua bulan pertama yang baik ialah 150-120 mm/bulan dan suhu udara antara 25-30ºC dengan penyinaran penuh (Goldsworthy, dkk. 1996).

Kacang tanah juga dapat hidup pada ketinggian lebih dari 800 meter dpl. Walaupun produksinya rendah. Curah hujan ideal sekitar 100-200 mm/bulan kacang tanah menghendaki penyinaran penuh artinya tidak kacang tanah menghendaki cahaya matahari penuh terlindungi. Ditempat yang teduh batang tumbuh memanjang, pucat dan tidak membentuk polong. Jadi penyinaran sinar matahari sangat membantu dalam pertumbuhan kacang tanah (Ashari,1995).

Tanah

Kacang tanah dapat tumbuh di berbagai macam tanah yang penting tanah itu dapat menyerap air dengan baik dan mengalirkannya kembali dengan lancer. Pada tanah berat , kacang tanah masih dapat tumbuh asalkan pengolahan tanah dilakukan dengan sempurna, tetapi waktu pemanenan harus hati hati, jangan sampai banyak polong yang ketinggalan dalam tanah (Sutopo, 1998).

Kacang tanah tumbuh dengan baik jika ditanam di lahan ringan yang cukup mengandung unsure hara ( Ca, N, P dan K ). Ia menghendaki lahan yang gembur agar perkembangan perakarannya berjalan baik, ginofornya mudah masuk ke dalam tanah untuk membentuk polong dan pemanennya mudah (Nurwidada, 1998 ).

Kacang tanah sebaiknya ditanam pada lahan yang PH tanahnya 5,0-6,3. pada lahan yang sangat asam efisiensi bakteri dalam mengikat N dari udara akan berkurang. Sedangkan pada tanah yang terlau basa, unsure haranya kurang tersedia ( Weiss, 1983 ).

Tanah yang mempunyai derajat keasaman rendah diman pH dibawah 6,0 perlu dilakukan pengapuran untuk memperbaiki pertumbuhan dan meningkatkan hasil. Apabila keadaan terlalu asam, pengapuran lahan dengan 2-3 ton kapur/ha. Pengapuran dilakukan 12 bulan sebelum tanam ( Makmur, 1980 ).

Pada tanah berat , kacang tanah dapat tumbuh baik asalkan struktur dan drainase tanahnya baik. Tanah yang airnya sukar meresap, perlu dibuat saluran drainase untuk menuntaskan kondisi air yang menggenang pada lapisan tanah atas ( Rubatzky dan Yamaguchi, 1998 ).

III.             METODOLOGI PENELITIAN

 

A.  Tempat dan waktu pengamatan

Pengamatan ini dilakukan di Laboratorium Ilmu tanah ,Universitas Mercu Buana Yogyakarta dan Kebun percobaan Gunung bulu, Sedayu. Praktikum mulai dilaksanakan pada tanggal 26 April 2012 – 21 Juni 2012.

 

B.  Alat dan Bahan

Alat :

  1. Gembor
  2. Koret
  3. Hand sprayer
  4. Timbangan
  5. Oven

Bahan :

  1. Benih kacang tanah
  2. Pupuk anorganik Urea, TSP, dan KCL
  3. Furadan 3 G dan Pestisida lainnya
  4. Polibag
  5. Media tanam campuran tanah : pupuk kandang / kompos = 2 : 1

Cara Kerja :

  1. Setiap kelompok menyiapkan 3 polibag ukuran diameter 30 cm.
  2. Isi poibag dengan media tanam berupa campuran tanah dan pupuk kandang/kompos (2:1) sampai kira-kira 2 cm dari atas polibag.
  3. Beri tanda pada setiap polibag, meliputi kelompok, tanggal tanam, dan perlakuan.
  4. Tanam benih kacang tanah sedalam 2-3 cm, masing-masing 2 biji pada setiap polibag.
  5. Berikan sedikit furadan pada setiap lubang tanam.
  6. Lubang tanam di tutup media.
  7. Berikan pupuk Urea 50 kg/ha, TSP 112,2 kg/ha, dan KCL 50 kg/ha (campur jadi satu), dengan cara membuat lubabg melingkari tanaman sedalam 5 cm pada jarak 3 cm dari tanaman.
  8. Lakukan penjarangan sehingga tinggal satu tanaman per lubang tanam dan penyulaman bila di temui ada benih yang tidak tumbuh, pada mingu pertama setelah tanam.
  9. Amati tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah dauun tetrafoliat, tanaman mulai berbunga (hstt), dan catat hasil pengamatan pada tabel pengamatan.
  10. Buat grafik kurva pertumbuhan berdasarkan tinggi tanaman.
  11. Pada akhir pengamatan (saat tanama mulai berbunga), cabut tanaman dengan hati-hati dan bersihkan akar tanaman dari tanah.
  12. Potong batang kacang tanah persis batas permukaan tanah, kemudian timbang bobot segar akar, tajuk dan keseluruhan tanaman.
  13. Keringkan akar dan tajuk dalam oven pada suhu 80˚C sampai bobot konstan. Catat bobot kering, tajuk, dan keseluruhan tanaman.
  14. Hitung rata-rata bobot segar dan kering akar, tajuk dan total tiap tanaman.
  15.  Lakukan tukar data dengan kelompok lain, sehingga apabila ada 4 kelompok, diperoleh 4 ulangan.
  16. Buatlah analisis data dan laporan.

 

IV.      HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

A.           HASIL

TERNAUNGI

ULANGAN 1

TANGGAL PENGAMATAN

SAMPEL

VARIABEL PENGAMATAN

TINGGI TANAMAN ( Cm )

JUMLAH CABANG

JUMLAH DAUN TETRAFOLIAT

31/05/2012

1

9.2

0

2

2

8.2

0

2

7 /06/2012

1

12

2

5

2

14.5

2

10

14/06/2012

1

12.6

2

5

2

16

2

11

21/06/2012

1

13

2

7

2

16.5

2

12

RATA-RATA

51

6

27

SAMPEL

VARIABEL HASIL

BOBOT SEGAR

SEBELUM DIOVEN

SETELAH DIOVEN

1

1.9

5

3.29

2

1.8

5

ULANGAN 2

TANGGAL PENGAMATAN

SAMPEL

VARIABEL PENGAMATAN

TINGGI TANAMAN ( Cm )

JUMLAH CABANG

JUMLAH DAUN TETRAFOLIAT

31/05/2012

1

0

0

0

2

0

0

0

7 /06/2012

1

9

1

3

2

19

1

6

14/06/2012

1

16

2

5

2

22

2

7

21/06/2012

1

33.5

2

6

2

33.5

2

8

RATA-RATA

66.5

5

17.5

SAMPEL

VARIABEL HASIL

BOBOT SEGAR

SEBELUM DIOVEN

SETELAH DIOVEN

1

3.7

7.99

5.89

2

4.7

9.3

ULANGAN 3

TANGGAL PENGAMATAN

SAMPEL

VARIABEL PENGAMATAN

TINGGI TANAMAN ( Cm )

JUMLAH CABANG

JUMLAH DAUN TETRAFOLIAT

31/05/2012

1

2

0

2

2

2

0

2

7 /06/2012

1

5.1

3

6

2

6.2

2

5

14/06/2012

1

23

3

6

2

28

3

5

21/06/2012

1

29

3

19

2

29

4

12

RATA-RATA

62.15

9

28.5

SAMPEL

VARIABEL HASIL

BOBOT SEGAR

SEBELUM DIOVEN

SETELAH DIOVEN

1

4.65

7.05

4.695

2

5.25

7.35

 

SETENGAH TERNAUNGI

ULANGAN 1

TANGGAL PENGAMATAN

SAMPEL

VARIABEL PENGAMATAN

TINGGI TANAMAN ( Cm )

JUMLAH CABANG

JUMLAH DAUN TETRAFOLIAT

31/05/2012

1

2.5

0

2

2

2.5

0

2

7 /06/2012

1

15

2

10

2

13

1

11

14/06/2012

1

16

2

12

2

13.5

2

13

21/06/2012

1

17

2

12

2

16.5

2

14

RATA-RATA

48

5.5

38

SAMPEL

VARIABEL HASIL

BOBOT SEGAR

SEBELUM DIOVEN

SETELAH DIOVEN

1

4,8

8

3,43

2

2,6

5,8

ULANGAN 2

TANGGAL PENGAMATAN

SAMPEL

VARIABEL PENGAMATAN

TINGGI TANAMAN ( Cm )

JUMLAH CABANG

JUMLAH DAUN TETRAFOLIAT

31/05/2012

1

0

0

0

2

0

0

0

7 /06/2012

1

11

2

9

2

13

2

7

14/06/2012

1

12

2

12

2

21

3

8

21/06/2012

1

30.5

3

14

2

30

4

13

RATA-RATA

58.75

8

31.5

SAMPEL

VARIABEL HASIL

BOBOT SEGAR

SEBELUM DIOVEN

SETELAH DIOVEN

1

5.4

9.8

6.7

2

4.4

8.8

ULANGAN 3

TANGGAL PENGAMATAN

SAMPEL

VARIABEL PENGAMATAN

TINGGI TANAMAN ( Cm )

JUMLAH CABANG

JUMLAH DAUN TETRAFOLIAT

31/05/2012

1

2

0

2

2

1

0

0

7 /06/2012

1

11

3

4

2

6

0

2

14/06/2012

1

32

3

9

2

18

3

5

21/06/2012

1

33

3

13

2

22

3

7

RATA-RATA

62.5

7.5

21

SAMPEL

VARIABEL HASIL

BOBOT SEGAR

SEBELUM DIOVEN

SETELAH DIOVEN

1

17.2

20.3

4.26

2

3.5

7.6

TIDAK TERNAUNGI

ULANGAN 1

TANGGAL PENGAMATAN

SAMPEL

VARIABEL PENGAMATAN

TINGGI TANAMAN ( Cm )

JUMLAH CABANG

JUMLAH DAUN TETRAFOLIAT

31/05/2012

1

0

0

0

2

0

0

0

7 /06/2012

1

0

0

0

2

0

0

0

14/06/2012

1

0

0

0

2

0

0

0

21/06/2012

1

0

0

0

2

0

0

0

RATA-RATA

0

0

0

SAMPEL

VARIABEL HASIL

BOBOT SEGAR

SEBELUM DIOVEN

SETELAH DIOVEN

1

0

0

0

2

0

0

ULANGAN 2

TANGGAL PENGAMATAN

SAMPEL

VARIABEL PENGAMATAN

TINGGI TANAMAN ( Cm )

JUMLAH CABANG

JUMLAH DAUN TETRAFOLIAT

31/05/2012

1

0

0

0

2

0

0

0

7 /06/2012

1

6

0

5

2

4

0

2

14/06/2012

1

10

1

7

2

11

2

8

21/06/2012

1

12.5

3

19

2

11

3

15

RATA-RATA

27.25

4.5

28

SAMPEL

VARIABEL HASIL

BOBOT SEGAR

SEBELUM DIOVEN

SETELAH DIOVEN

1

4.3

8.7

6.31

2

8.6

13

ULANGAN 3

TANGGAL PENGAMATAN

SAMPEL

VARIABEL PENGAMATAN

TINGGI TANAMAN ( Cm )

JUMLAH CABANG

JUMLAH DAUN TETRAFOLIAT

31/05/2012

1

0

0

0

2

0

0

0

7 /06/2012

1

3

0

2

2

4

3

10

14/06/2012

1

13

3

9

2

15

5

9

21/06/2012

1

16

5

23

2

3

3

14

RATA-RATA

27

9.5

33.5

SAMPEL

VARIABEL HASIL

BOBOT SEGAR

SEBELUM DIOVEN

SETELAH DIOVEN

1

9.5

13.3

6.498

2

10.8

14.9

TERNAUNGI

 

ULANGAN

TINGGI

JUMLAH CABANG

JUMLAH DAUN TETRAFOLIAT

SETELAH DIOVEN

1

51

6

27

3.29

2

66.5

5

17.5

5.89

3

62.15

9

28.5

4.695

RATA-RATA

59.88

6.67

24.33

4.625

SETENGAH TERNAUNGI

1

48

5.5

38

3.43

2

58.75

8

31.5

6.7

3

62.5

7.5

21

4.26

RATA-RATA

56.42

7.00

30.17

4.797

TIDAK TERNAUNGI

 

1

Tanaman mati

2

27.25

4.5

28

6.31

3

27

9.5

33.5

6.498

RATA-RATA

18.08

4.67

20.50

6.404

PERBEDAAN

B.           PEMBAHASAN

 

Cahaya merupakan salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi proses perkecambahan pada tumbuhan. Setiap tumbuhan membutuhkan intensitas cahaya yang berbeda-beda. Sesuai dengan karakteristik masing-masing tanaman dan habitatnya. Akan tetapi pada umumnya akan membutuhkan pencahayaan yang optimal untuk melakukan fotosintesis sebagai penyedia makanan bagi pertumbuhan tanaman tersebut.  Pada tanaman kacang tanah membutuhkan intensitas cahaya yang cukup tinggi untuk pertumbuhannya agar dapat tumbuh optimal. Diantaranya adalah kelembapan udara untuk tanaman kacang tanah berkisar antara 65-75 % dan penyinaran sinar matahari secara penuh amat dibutuhkan bagi tanaman kacang tanah, terutama kesuburan daun dan perkembangan besarnya kacang.

Pada praktikum ini, praktikan menggunakan kacang tanah untuk mengetahui pengaruh intensitas cahaya terhadap proses perkecambahan. Pada perkecambahan kacang tanah yang diletakkan pada tiga tempat yang berbeda akan mengalami fase dormansi yang berbeda-beda. Selain terpengaruh oleh kondisi pencahayaan, proses perkecambahan juga dipengaruhi oleh kelembaban atau kondisi air dalam tanah. Dengan intensitas penyiraman yang sama maka proses perkecambahan kacang tanah akan lebih cpat pada tempat yang ternaungi dan setengah ternaungi karena biji akan cepat berkecambah ketika kondisi air tercukupi, sedangkan pada tempat yang tanpa naungan air akan cepat terserap oleh panasnya matahari yang akan membuat proses perkecambahan lebih lambah.

Pada pertumbuhann kacang tanah setelah berkecambah, kondisi yang memungkinkan untuk tumbuh normal yaitu pada tanaman yang diberi perlakuan tanpa naungan. Sedangkan pada tanaman yang dinaungi penuh atau ditempat yang tanpa cahaya pertumbuhannya akan lebih tinggi karena proses etiolasi. Sedangkan pada tanaman yang diberi perlakuann setengah naungan pertumbuhan kacang tanah malah dapat tumbuh optimal. Ternyata pada praktikum yang dilakukan praktikan ini sesuai dengan apa yang teori telah jelaskan bahwa tanaman (kacang tanah) yang diletakkan di tempat yang gelap akan tumbuh lebih panjang/tinggi daripada tanaman (kacang tanah) yang diletakkan di tempat yang terang, akan tetapi kondisi tanamann akan nampak sehat pada tanaman yang mendapatkan sinar matahari secara menyeluruh atau dengan setengah naungan maupun tanpa naungan.

Tanaman kacang tanah yang diletakkan di tempat yang terang tumbuh lebih pendek karena umumnya cahaya dapat menguraikan auksin (hormon pertumbuhan). Peristiwa ini terjadi karena pengaruh fitohormon, terutama hormon auksin. Seperti yang telah dijelaskan di atas, hormon auksin ini akan terurai dan rusak sehingga laju pertambahan tinggi tanaman tidak terlalu cepat. Dan sebaliknya, tanaman kacang tanah yang diletakkan di tempat yang gelap akan tumbuh lebih tinggi karena terjadi peristiwa pertumbuhan yang cepat di tempat gelap yang disebut etiolasi. Pada keadaan yang gelap, hormon auksin ini tidak terurai sehingga akan terus memacu pemanjangan batang.

Dilihat dari kualitas tanaman dengan melihat bobot kering tanaman bahwa pertumbuhan tanaman yang berada pada tempat yang ternaungi memiliki bobot kering paling rendah yaitu rata-rata 4.625 yang artinya bahwa tanman yang tumbuh dengan kondisi pencahayaan kurang memiliki kualitas tanaman yang kurang baik. Tanaman kacang tanah  yang diletakkan di tempat yang gelap, meski tumbuhnya lebih tinggi, tetapi dengan kondisi fisik tanaman yang kurang sehat, batang terlihat kurus tidak sehat, warna batang dan daun pucat serta kekurangan klorofil sehingga daun berwarna kuning.  Sedangkan pada tanaman yang tumbuh pada kondisi pencahayaan berlebihan juga akan nmerusak hormon-hormon pertumbuhan diantaranya adalah auksin yang akan mengakibatkan tanaman juga kurang optimal dalam mpertumbuhannya sehingga bobot kering yang didapat dari tanaman tersebut lebih rendah dari tanamann yang diperlakukan pada tempat dimana pencahayaan dibutuhkan tanaman maka dapat memenuhi kebutuhan tanaman yaitu pada tempat setengah naungan. Pada tanaman yang diletakkan pada tempat yang kadang ada cahaya dan terkadang cahaya kurang atau setengah ternaungi memiliki bobot kering paling banyak. tanaman kacang tanah yang diletakkan di tempat yang terang, meskipun tumbuhnya lebih pendek, tetapi dengan kondisi fisik tanaman yang sehat, subur, batang terlihat gemuk, daun terlihat segar dan berwarna hijau serta memiliki cukup klorofil. Itu berarti kacang tanah dapat tumbuh optimal pada kondisi pencahayaan setengah naungan dimana cahaya tidak terlalu panas akan tetapi dapat dimanfaatkan untuk proses fotosintesis. Seperti halnya bahwa kacang tanah dapat tumpuh optimal pada kelembaban antara 65-75 %  dan kondisi pencahayaan yang cukup.

 

I.                   KESIMPULAN

 

  1. Kondisi pencahayaan akan sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman baik dari perkecambahann maupun setelah muncul plumulanya atau bakal tunas. Selain kondisi pencahayaan pertumbuhan tanman juga dipengaruhi oleh kelembaban udara sebagai pendukung pertumbuhan.
  2. Kacang tanah yang tumbuh di daerah gelap akan mengalami pertumbuhan yang tidak normal karena peristiwa etiolasi dan tidak terurainya hormon auksin, sehingga akan terus memacu pertumbuhan batang kacang hijau. Meskipun tanaman kacang hijau ini tumbuh lebih tinggi, tetapi dengan kondisi fisik tanaman yang kurang sehat, akar yang banyak dan lebat, batang terlihat kurus tidak sehat, warna batang dan daun pucat serta kekurangan klorofil sehingga daun berwarna kuning. Selain itu bobot kring tanaman yang pertumbuhannya tidak normal juga relatif kecil atau ringan.
  3. Tanaman kacang tanah yang diletakkan di tempat terang akan tumbuh lebih pendek karena hormon auksin ini akan terurai karena terkena cahaya dan rusak sehingga laju pertambahan tinggi tanaman tidak terlalu cepat. Meskipun tanaman kacang tanah ini tumbuh lebih pendek, tetapi dengan kondisi fisik tanaman yang sehat, jagur, subur, batang terlihat gemuk, daun terlihat segar dan berwarna hijau serta memiliki cukup klorofil serta memiliki bobot kering yang normal atau sesuai dengan kriteria kacang tanah yang berkualitas.

 

DAFTAR PUSTAKA

Foster, Bob.2010. Koding (Konsep Dasar dan The King). Bandung. Ganesha Operation

Goldsworthy, P.R. dan N.M.Fisher. 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Listyorini, Sri, dkk. 2010. BUKU PENDAMPING BIOLOGI SMA. Klaten. MGMP

Mangoendidjojo, W., 2003. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman.

Rubatzky, V.E dan M. Yamaguchi, 1998. Sayuran Dunia, Prinsip, Produksi, dan Gizi. Edisi kedua. Penerjemah Catur Herison. ITB Press, Bandung. Hal: 262.

Sitompul, S. dan B. Guritno, 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sutedjo,M,M. , Kartasapoetra, A, G. ,Sastroatmodjo, S. Mikrobiologi Tanah,1996. PT. Rhineka Cipta,Jakarta.

Syamsuri, Istamar, dkk. 2007. BIOLOGI SMA 3A. Jakarta. Penerbit Erlangga

Weiss, E.A. 1983. Oil Seed Crops. Logman Inc. New Cork. USA.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: