U_Miia04 'Blog

Beranda » MY STUDY » ACARA IV ALLELOPATI TANAMAN

ACARA IV ALLELOPATI TANAMAN

Calendar

Januari 2013
J S M S S R K
« Des   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Like This Blog


I.                   PENDAHULUAN

 

A.       Latar Belakang

Species gulma yang diketahui mengeluarkan senyawa – senyawa beracun adalah alang – alang (Imperata cilyndrica ), teki ( Cyperus rotundus), Agropron intermedium, Salvia lenchophyella, dan lainnya. Persaingan yang timbul akibat dikeluarkannya zat yang meracuni tumbuhan alin disebut allelopathy. Interaksi biokoimia antara gulma dan pertanaman antara lain menyebabkan gangguan perkecambahan biji, kecambah jadi abnornal, pertumbuhan memanjang akar terhambat, perubahan susunan sel – sel akar dan lain sebagainya, ( Sukman dan Yakup, 1995 ).

Hambatan pertumbuhan akibat adanya allelopat dalam peristiwa allelopat, misalnya hambatan pada pembelahan sel, pengambilan moneral, respirasi, penutupan stomata, sintesis protein, dll. Peristiwa allelopati ialah peristiwa adanya pengaruh jelek dari zat kimia ( allelopat ) yang dikeluarkan tumbuhan tertentu yang dapat merugikan pertumbuhan tanaman lain jenis yang tumbuh di sekitarny. ( Moenandir, 1993 ).

Hambatan allelopathy dapat pula berbentuk pengurangan dan kelambatan perkecambahan biji, penahanan pertumbuhan tanaman, gangguan sistem perakaran, klorosis, layu, bahkan kematian tanaman. Tumbuhan yang bersifat sebagai alelopat mempunyai kemampuan bersaing yang lebih hebat sehingga pertumbuhan tanaman pokok lebih terhambat, dan hasilnya semakin menurun ( http:// www. http://www.indoft.index.com/index-php, 2009 )

Respon yang akan terjadi karna pemberian allelopati adalah panjang tajuk dan akar yang terhambat yang dapat disebut sebagai herbisida pra tumbuh namun hal ini tergantung juga pada formulasi ekstraksi allelopati yang diberikan. perkembangan tumbuhan tergantung pada konsentrasi ekstrak, sumber ekstrak, temperatur ruangan, dan jenis tumbuhan yang dievaluasi serta saat aplikasi ( http :// http://www.jurnal@indonesia.co.id , 2010 )

Pertumbuhan rambut akar juga terganggu, dengan melihat fenomena ini maka allelokimia yang berasal dari ekstrak Imperata cylindrica dan Acasia mangium mungkin bekerja mengganggu proses fotosintesis atau proses pembelahan sel. Penekanan pertumbuhan dan perkembangan karena ekstrak alang-alang dan akasia ditandai dengan penurunan tinggi tanaman, penurunan panjang akar, perubahan warna daun (Dari hijau normal menjadi kekuning-kuningan) serta bengkaknya akar, ( http://id.wikipedia. allelopati /wiki/2009 )

Daun merupakan tempat terbesar bagi substansi beracun yang dapat mengganggu tumbuhan tetangganya. Jenis substansi beracun ini meliputi gugusan asam organik, gula, asam amino, pekat, asam gibberelat, terpenoid, alkaloid, dan fenolat (Sukman dan Yakup 1995 )

 

B.       Tujuan praktikum

Mengetahui penyebab penurunan atau peningkatan perkecambahan akibat perlakuan konsentrasi alelopati

 

 

II.                TINJAUAN PUSTAKA

 

Klasifikasi Tanaman Jagung

Menurut Rukmana ( 2007 ) sistematika tanaman jagung adalah :

Kingdom         : Plantae

Divisio            : Spermatophyta

Subdivisio       : Angiospermae

Kelas               : Monocotyledoneae

Ordo                : Graminae

Famili              : Graminaceae

Genus              : Zea

Spesies            : Zea mays L.

Sistem perakaran tanaman jagung berfungsi sebagai alat untuk menghisap air serta garam – garam yang terdapat dalam tanah, mengeluarkan zat organik serta senyawa yang tidak diperlukan dan alat pernafasan. Perakaran tanaman jagung terdiri atas empat macam akar, yaitu akar utama, akar cabang, akar lateral, dan akar rambut,     ( Rukmana, 1997 )

Pada tanaman jagung dapat dilihat karakter lain dan ciri khas tanaman ini antara lain, umumnya batang tamnaman ini tidak bercabang kecuali jika terdapat pada jagung manis akan sering dijumpai yang berasal dari pangkal batang yang berkisar antara kedua pelepah yang tumbuh antara 10-30 cm, tergantung pada tipe jagung. Ruas-ruas berbentuk silindris dan ruas-ruas batang berbentuk agak pipih. (Rukmana, 1997).

Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia poaceae. Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang antara pelepah dan helai daun terdapat ligula, (George, 1985 )

Keluarnya bunga yang berdampingan dengan bakal buah dan berkembang menjadi seminal root yang sifatnya hanya sementara. Setelah kecambahnya berumur 6-10 hari maka akan tumbuh akar permanen yang keluar pada kedalaman 2,5 cm dari kedalaman tanaman (Rukmana, 1997)

Pada umumnya biji jagung tersusun dalam barisan melekat secara lurus atau berkelok – kelok dan berjumlah antara 8 – 20 biji. Biji jagung terdiri atas 3 bagian utama, yaitu kulit biji, endosperm dan embrio. Buah jagung terdiri atas tongkol, biji dan daun pembungkus. Biji jagung mempunyai bentuk, warna dan kandungan endosperm yang bervariasi, ( Splittstoesser, 1984 )

Syarat Tumbuh

Iklim Kisaran tenmperatur untuk syarat pertumbuhan tanaman jagung adalah antara 23ºC – 27ºC dengan temperatur optimum 25ºC. Temperatur rendah akan menghambat pertumbuhan tanaman, sedangkan temperatur tinggi vegetatif yang berlebihan, sehingga akan menurunkan produksi. Jumlah curah hujan yang diperlukan untuk pertumbuhan jagung yang optimal adalah 1.200 – 1.500 mm per tahun dengan bulan basah (> 100 mm/bulan) 7-9 bulan dan bulan kering (<60 mm/bulan) 4-6 bulan. Jagung membutuhkan kelembaban udara sedang sampai dengan tinggi (50% – 80%) agar keseimbangan metabolisme tanaman dapat berlangsung dengan optimal. (http://id.wikipedia. allelopati /wiki/2009).

Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman jagung adalah tanah dengan pH 5,5 – 7,5 . Tanaman jagung mempunyai daya adaptasi yang baik terenpaling ideal untuk menghasilkan tanaman jagung adalah tanah andosol, latosol, podsolik merah Kuning ( PMK ). Hal yang terpenting untuk diperhatikan adalah tanahnya subur, gembur, banyak mengandung bhan organik, aerasi dan draenasenya baik, ( Rukmana, 1997 )

Allelopati

Alelopati adalah interaksi antar populasi bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya di sektor pohon walnut (juglang) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksin (http://bebas.vista.org., 2009).

Sebagai alelopati substansi kimia itu terkandung dalam tubuh tumbuhan, baik tanaman maupun gulma. Bertindaknya alelopati tersebut setelah bagian tumbuhan mengalami pelapukan, pembusukan, pencucian ataupun setelah dikeluarkan eksudat maupun penguapan (Moenadir,1983 ).

Tumbuh-tumbuhan menghasilkan berbagai jenis metabolit yangtidak diketahui kegunaannya dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Oleh karena itu, adanya dugaan bahwa tumbuh-tumbuhan dapat menghasilkan senyawa yang beracun baik untuk dirinya sendiri maupun jenis-jenis tumbuhan yang lainnya adalah sangat wajar. Berdasarkan sifat-sifat kimia yang dimilikinya senyawa-senyawa ini dapat meracuni biji-biji yang berada di sekitarnya atau tumbuhannya sendiri baik sewaktu masih kecambah atau dewasa jika konsentrasinya cukup tinggi. Disamping itu telah lama diketahui oleh penelitian adanya pengaruh-pengaruh yang merugikan yang ditimbulkan oleh suatu jenis tumbuhan terhadap jenis yang lainnya yang tidak dapat dijelaskan oleh adanya kompetisi (Sastroutomo, 1990).

Alelopati adalah produksi substansi (zat) oleh suatu tanaman yang merugikan tanaman lain atau bagi mikroba. Demonstrasi yang paling jelas mengenai alelopati adalah karya Muller pada tanaman Chaparral califiria. Vegetasi ini berada pada wilayah rumput-rumput semusim (annual) dan rumput belukar beraroma ekstensil, terutama Salvia leucophylla dan Artemisia californica. Sekitar perdu/belukar terjadi zona kosong selebar satu sampai dua meter dan diluar itu zona pertumbuhan Stunted 3-8 meter lebarnya. Muller mendemonstrasikan bahwa berbagai terpen dihasilkan oleh belukar, meliputi, £- pinene, ß- pinene, cinecole, dan camphor, dan semua mampu menghambat secara serius pertumbuhan pada bibit rumput Festuca megalura, Bromus spp dan Stipa pulchra, lebih dari pada hambatan terhdap mentimun sebagai tanaman standar pengujian. Akhirnya, mereka memperhatikan bahwa terpen diabsorbsi oleh tanah, tetap toksik setelah paling sedikitnya dua bulan didalam tanah dan dapat larut dalam lilin kutikula. (Fitter dan Hay, 1991).

Sumber Senyawa Alelopati

Meskipun banyak data yang menunjang adanya peranan senyawa alelopati dalam pertumbuhan gulma dan tanamn pangan di daerah–daerah pertumbuhan tetapi peranannya terhadap perkecanbahan belumlah diketahui secara mendalam. Kebanyakan senyawa – senyawa alelopati adalah senyawa fenol. Mekanisme fisiologis dari penghambatan oleh senyawa ini terhadap perkecambahan belumlah banyak diketahui. Penghambatan perkecambahan oleh senyawa oleh asam p-kumarat dan turunannya kemungkinan dihasilkan dari pelepasan ion k yang menyebabkan sel – sel lembaga tidak mampu berkembang dan memberikan tekanan yang menimbulkan perluasan sel – sel kumarin yang pengruhnya berbeda tetapi mekanismenya belum diketahui. (http://library.gunadarma.ac.id., 2009).

Senyawa-senyawa yang mempunyai potensi alelopati dapat ditemukan pada semua jaringan tumbuh-tumbuhan termasuk daun, batang, akar, rizoma, bunga, buah dan biji. Senyawa-senyawa alelopati dapat dilepaskan dari jaringan tumbuh-tumbuhan dalam berbagai cara termasuk melalui penguapan, eksudat akar, pencucian dan pembusukan bagian-bagian organ yang mati. Pengetahuan tentang jumlah senyawa alelopati sangatlah penting dalam kaitannya dengan pemanfaatannya sebagai bioherbisida. Rice (1974 dan 1979) mengemukakan bahwa produksi senyawa-senyawa ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan termasuk diantaranya adalah:

  1. Kualitas, intensitas dan lamanya penyinaran cahaya dapat mempengaruhi produksi . Yang sangat penting untuk diketahui adalah senyawa alelopati lebih banyak dihasilkan dengan kondisi cahaya ultraviolet dan periode penyinaran yang panjang. Oleh karena itu tumbuh-tumbuhan yang berada di bawah naungan tumbuh-tumbuhan lainnya akan menghasilkan senyawa alelopati dalam jumlah yang kecil karena sebagian besar sinar ultraviolet telah diserap oleh tumbuhan yang menaunginya.Tumbuhan yang sedang berada pada keadaan optimum, pertumbuhannya dapat menghasilkan senyawa alelopati dalam jumlah yang cukup tinggi dibandingkan tumbuh-tumbuhan yang masih muda (dalam periode awal pertumbuhan ) atau sebaliknya yang telah tua.
  2. Jumlah senyawa alelopati akan lebih banyak dihasilkan pada keadaan dengan kondisi yang kekurangan hara. Perbedaannya dapat beberapa kali lipat. Contohnya: Asam klorogenat merupakan senyawa alelopati yang ditemukan pada bunga matahari.
  3. Senyawa alelopati lebih banyak dihasilkan dalam keadaan yang mengalami kekeringan.
  4. Senyawa alelopati jumlahnya lebih besar dalam keadaan dengan suhu yang lebih rendah jika dibandingkan dengan suhu normal bagi pertumbuhannya.
  5. Penggunaan hormon seperti hidrasit maleat dapat meningkatkan produksi senyawa alelopati.(Sastroutomo, 1990).

Gulma yang Berpotensi Sebagai Alelopati

Mekanisme penekanan pertumbuhan tanaman akibat adanya zat ekskresi tertentu dari tumbuhan lain disebut alelopati. Misalnya gembung rambat mengeluarkan zat ekskresi yang mengandung fenol dan flavon yang dapat mengakibatkan tertekannya pertumbuhan tanaman karet. Selain tanaman ini, gulma lain yang diduga menimbulkan efek alelopati terhadap tanaman karet adalah alang (Imperata cylindrica L.), dan teki (Cyperus rotundus L.) (Nasution, 1986).

Senyawa–senyawa kimia yang berpotensi alelopati dapat ditemukan disetiap organ tumbuhan antara lain terdapat pada daun , akar, batang, rhizom, buah biji dan umbi serta bagian bagian tumbuhan yang membusuk. Umumnya senyawa yang dikeluarkan adalah dari golongan fenol (Sukman dan Yakup, 1995).

Jenis-jenis gulma yang berpotensi mengeluarkan senyawa alelopati adalah cukup besar jumlahnya. Alelopati dapat meningkatkan agresivitas gulma didalam hubungan interaksi antara gulma dan tanaman pangan ataupun dalam pola-pola penguasaan di habitat dalam melalui eksudat yang dikeluarkannya, yang tercuci, yang teruapkan, atau melalui hasil pembusukan bagian-bagian organnya yang telah mati. Meskipun telah banyak para ahli gulma yang mempelajari kompetisi antara gulma dan tanaman budidaya, tetapi jarang sekali yang mempertimbangkan kemungkinan alelopati sebagai salah satu mekanisme didalam proses interaksi ini. Beberapa jenis gulma menahun yang sangat agresif termasuk Agropuran repens, Cirsium arvense, Sorgum halepens, Ciperus khususnya melalui rotundus, dan Imperata cylindrica mempunyai pengaruh alelopati, khususnya melalui senyawa beracun yang dikeluarkan dari organnya yang telah mati. Terdapat juga jenis-jenis gulma semusim yang memiliki kemampuan yang sama seperti pada setaria yang bagian- bagian organnya yang telah mati sangat menghambat pertunbuhan jagung. Isolasi senyawa kimia dari jenis-jenis gulma ini masih diperlukan untuk membuktikan hasil pengamatan dilapangan. Sebagai contohnya: Pada umumnya, semua ekstrak tumbuh-tumbuhan dalam konsentrasi yang cukup tinggi akan bersifat racun dan belum berarti mempunyai alelopati (Sastroutomo, 1990).

Pengaruh Alelopati

Rendaman umbi teki kering angin dapat menghambat perkecambahan benih gandum, cantle, kacang – kacangan dan mustard. Ekstrak yang berasal dari umbi–umbi teki segar juga dilaporkan mampu menghambat panjang akar chickpea (Setyowati dan Suprijono, 2001).

Beberapa jenis alelopati menunjukkan pengaruh yang menghambat. pertumbuhan sel – sel akar secara total pada bawang beberapa jam setelah perlakuan terpen yang mudah menguap. Salvia leucophylla merupakan senyawa penghambat pembelahan sel pada kecambah mentimun (Sastroutomo, 1990).

Pengaruh alelopati terhadap tanaman budidaya diantaranya:

  1. Pengaruhnya terhadap penyerapan haraSenyawa-senyawa alelopati dapat menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuh-tumbuhan. Sebagai contoh: asam-asam salisilat dan ferulat keduanya merupakan senyawa penghambat penyerapan K oleh akar terutama pada pH yang rendah.
  2. Penghambat pembelahan selBeberapa jenis allelokimia menunjukkan pengaruh yang menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan. Sebagai contohnya, kumarin dapat menghambat pembelahan sel akar secara total pada bawang beberapa lama setelah perlakuan.
  3. Penghambatan pertumbuhanBeberapa allelokimia diketahui mempengaruhi aktivitas IAA oksidase, sedangkan asam 3,4-dihidroksi benzoat, dan asam ferulat merupakan senyawa penghambatnya yang sangat kuat.
  4. Penghambat aktivitas fotosintesisEinhellig dan kawan-kawan (1970) memperoleh hasil dari pengamatannya bahwa segera setelah perlakuan dengan skopoletin yang termasuk golongan kumarin, aktivitas fotosintesis pada bunga matahari, tembakau dan bayam mejadi menurun, senyawa-senyawa ini juga dapat menyebabkan penutupan stomata atau mulut daun.
  5. Pengaruh terhadap respirasiSenyawa-senyawa kimia dapat menstimulir atau menghambat respirasi. Pada keadaan yang memberikan stimulasi (meningkatkan penyerapan O2), proses fosforilasi akan dihambat dan menyebabkan pembentukan ATP (energi) menjadi berkurang. Juga ion yang termasuk golomgan senyawa asam aromatic, fenolat, aldehid, flavonoid, dan kumarin juga mempengaruhi terjadinya fosforilsi.
  6. Pengaruh terhadap sintesis proteinPenelitian untuk mengamati pengaruh alelopati terhadap sintesis protein biasanya memerlukan penggunaan gula atau asam amino yang ditandai dengan radioaktif (14C) yang kemudian dimasukkan kedalam protein. Asam ferulat dan kumarin keduanya dapat menghambat peningkatan fenilalanin(14C) kedalam rantai protein pada biji dan berkecambah. Demikian juga yang terjadi pada ganggang yang dihambat yang dihambat oleh penggunaan kinon.
  7. Perubahan ketegangan membranSenyawa fenol diketahui meningkatkan pelepasan ion K dari jaringan-jaringan akar. Tempat yang mula-mula dipengaruhi oleh asam salisilat adalah plasmolema, dan pada pH yang rendah, plasmolema dan tonoplasma akan menjadi tipis dan kebocoran ion K akan mudah terjadi.
  8. Penghambat aktifitas enzimBeberapa jenis enzim tumbuh-tumbuhan dapat dihambat oleh adanya alelokimia. Sebagai contohnya, enzim fosforilase, pada tomat dihambat oleh adanya asam khloregenat, kafein, dan katekol. Tanin uga dapat menghambat aktifitas enzim-enzim peroksidase, katalase selulosa, pligalakturonase, amylase dan enzim-enzim lain sejenisnya. (Sastroutomo, 1990).

III.             METODOLOGI PENELITIAN

 

A.  Tempat dan waktu pengamatan

Pengamatan ini dilakukan di Laboratorium Ilmu tanah ,Universitas Mercu Buana Yogyakarta dan Kebun percobaan Gunung bulu, Sedayu. Praktikum mulai dilaksanakan pada tanggal 26 April 2012 – 21 Juni 2012.

 

B.  Alat dan Bahan

Alat :

  1. Pisau
  2. Blender
  3. Erlenmeyer
  4. Cawan petri
  5. Gelas ukur
  6. Saringan
  7. Jarum suntik
  8. Penggaris
  9. Alat tulis

Bahan :

  1. Benih jagung
  2. Sumber alelopat : Rhizome alang-alang (Imperata cylindrica L.), umbi taki(Cyperus rotundus L.) dan daun Akasia (Acasia sp.)
  3. Pasir
  4. Air

Cara Kerja :

  1. Persiapan Media : Media tanam yang digunakan untuk perkecambahan ini adalah pasir dteril. Pasirgongseng terlebih dahulu agar steril, kemudian masukkan pasir ke setiap cawan petri dan beri label.
  2. Pembuatan Alelopat : Timbang umbi teki, rhizom alang-alang, dan daun akasia sebanyak 400 gram. Kemudian bersihkan bahan alelopati, potong dan iris-iris. Timbang masing-masing bahan tanaman sebanyak 100 gram kemudian blender dan tambahkan air 1000 ml.
  3. Penanaman Benih : Rendam benih jagung selama ± 30 menit sebelum ditanam. Masinng-masing cawan petri ditanam 5 benih jagung dengan arah embrio kebawah.
  4. Aplikasi Alelopati : Berikan larutan alelopati ke setiap cawan petri sebanyak 15 ml menggunakan jarum suntik sesuai dengan perlakuan masing-masing cawan petri.
  5. Pemeliharaan : Siramkan larutan alelopati setiap hari untuk melihat laju perkecambahan masing-masing cawan petri
  6. Variabel yang diukur : Persentase perkcambahan (%) 2 ; 4 ; 6 HST dan panjang tunas (cm).
  7. Lakukan tukar data dengan kelompok lain, sehingga apabila ada 4 kelompok, di peroleh 4 ulangan.
  8. Buat analisis data dan laporan.

IV.      HASIL DAN PEMBAHASAN

 

A.           HASIL

 

ULANGAN 1

PERLAKUAN

SAMPEL

TANGGAL PENGAMATAN

7 / 6 / 2012 11 / 6 / 2012 14 / 6 /2012

AKASIA 1000

ppm

1

0.2

14

23.5

2

14.1

31.3

32.3

3

13.9

32.4

34

4

0

0

0

5

11.4

30

35.3

6

0.5

2.9

9

7

3.6

24.9

25.6

8

14

21.8

29.2

9

0.2

0.9

3.6

10

0

0

3.3

RATA-RATA

5.79

15.82

19.58

AKASIA 2000

ppm

1

17.6

34

33

2

16.3

30

30.5

3

16.2

33

33.4

4

14.3

25.6

26.3

5

2.1

11.6

15.7

6

15.4

31

31

7

6.4

18.5

21.8

8

13

21.3

27.3

9

7.3

17.8

19.6

10

12

30.5

30.5

RATA-RATA

12.06

25.33

26.91

TEKI 1000

ppm

1

0.3

0.8

20.2

2

0.3

1.1

0.7

3

1.2

12.5

3.3

4

15.1

29.4

29.8

5

13.9

12

20.6

6

0

0

0

7

0.7

30.1

32.5

8

0

0.7

1

9

13.5

11.7

11.9

10

0

31.6

31.1

RATA-RATA

4.5

12.99

15.11

TEKI 2000

ppm

1

0.6

1

1

2

11.5

11.9

12.2

3

11.3

27.7

31

4

11.2

22.1

23

5

10.9

17.6

17.7

6

1.2

27

30.1

7

0.6

1

2

8

11.5

2

2.3

9

1.2

22

22.5

10

3.4

7

7.5

RATA-RATA

6.34

13.93

14.93

KONTROL

1

5.1

21.6

30

2

5.2

22.8

27.6

3

5.6

20.6

27.4

4

5.3

24

31.2

5

4.3

19

27.7

6

3.2

21.1

31.5

7

4.8

24

30.2

8

9.1

30.6

37.5

9

3.1

18.1

27.2

10

0

0

0

RATA-RATA

4.57

20.18

27.03

ULANGAN 2

PERLAKUAN

SAMPEL

TANGGAL PENGAMATAN

7 / 6 / 2012 11 / 6 / 2012 14 / 6 /2012

AKASIA 1000

ppm

1

11

16.1

27.1

2

14.5

16.2

25.1

3

12.8

16.7

20.6

4

8.7

14.2

20.1

5

0

0

0

6

11.2

18.1

31.5

7

5.3

12.2

15.1

8

0

0

2

9

7.6

15.2

20

10

11.7

14.1

17.1

RATA-RATA

8.28

12.28

17.86

AKASIA 2000

ppm

1

0

0

0

2

0.3

3

10.2

3

0.3

4

11.6

4

0.7

4.1

12.3

5

0

0

0

6

9

14

22.1

7

15.9

18.1

31.6

8

0

0

0

9

0.5

2.6

8.7

10

0.3

1.2

5.7

RATA-RATA

2.7

4.7

10.22

TEKI 1000

ppm

1

14.5

17.6

27.6

2

0

0

0

3

13

16.3

23.2

4

13

17.1

24.1

5

9.3

15.6

20.5

6

0

0

0

7

15.5

18.6

31.6

8

5.1

7.6

13.2

9

10

17.5

24.7

10

3

7

15

RATA-RATA

8.34

11.73

17.99

TEKI 2000

ppm

1

2.3

5.7

8.5

2

3.5

8.6

14.2

3

9

11.6

20.1

4

0.2

0.9

3.2

5

6.5

9.1

15.1

6

8.5

11.7

14.6

7

0

0

0

8

2.8

5.7

7.2

9

14.5

20.6

31.2

10

10

16.1

19.6

RATA-RATA

5.73

9

13.37

KONTROL

1

9.1

18

25

2

8.5

17.3

31.5

3

8

15.1

18.1

4

7

11

16

5

6.5

11.5

17.2

6

5.5

9.7

24.5

7

10

18.8

26.1

8

12

20.3

28.5

9

6

12

29.1

10

7.5

14.1

21.6

RATA-RATA

8.01

14.78

23.76

ULANGAN 3

PERLAKUAN

SAMPEL

TANGGAL PENGAMATAN

7 / 6 / 2012 11 / 6 / 2012 14 / 6 /2012

AKASIA 1000

ppm

1

3.9

22

33

2

3

23.5

38

3

3.2

21.5

30

4

5.9

20.9

23

5

3.2

20

26.4

6

2.5

13

33

7

0

22

34

8

2.9

23.4

31

9

4.2

5

5

10

0.4

24.3

30

RATA-RATA

2.92

19.56

28.34

AKASIA 2000

ppm

1

1.5

18.4

28.8

2

0.8

15.3

32

3

3.2

21.5

31

4

0

7.4

8.4

5

2.5

21.3

29

6

0.5

10.8

20.5

7

5.9

22.4

25.4

8

0.5

10

24

9

1.7

18.1

26.2

10

0

8

0

RATA-RATA

1.66

15.32

22.53

TEKI 1000

ppm

1

11

26

26

2

0.4

5.5

7

3

0.8

20.5

32

4

1.2

20.6

34

5

2.2

11.3

22.8

6

1.2

17

29.8

7

0.5

18.8

30.3

8

0.5

15.3

32

9

1.8

12.4

24.5

10

2.3

14.1

16

RATA-RATA

2.19

16.15

25.44

TEKI 2000

ppm

1

2.2

11.7

15

2

2.3

11.7

13

3

0.6

10.5

14.7

4

0.5

13.4

16

5

2.6

13.1

16

6

2.5

12

16.3

7

4

13

15

8

0.3

14

14

9

3

9.2

12.2

10

3.2

14

14.1

RATA-RATA

2.12

12.26

14.63

KONTROL

1

2.9

17.1

26

2

2.6

17.5

23

3

2.3

12.7

23

4

0.8

12

24.9

5

2.5

5.5

0

6

2.5

18.5

28

7

1.9

15.7

27.7

8

1.7

2

0

9

1.9

16.5

24.3

10

1.6

17.3

27

RATA-RATA

2.07

13.48

20.39

ULANGAN 4

PERLAKUAN

SAMPEL

TANGGAL PENGAMATAN

7 / 6 / 2012 11 / 6 / 2012 14 / 6 /2012

AKASIA 1000

ppm

1

14,3

30,3

32

2

8,5

26,4

31

3

0

11,5

21

4

0

1

0

5

0

1

0

6

0

0

0

7

0

0

0

8

0

0

0

9

0

0

0

10

0

0

0

RATA-RATA

0

0.2

8.4

AKASIA 2000

ppm

1

13,5

30,5

34

2

12,5

29,4

33

3

11

31

31

4

9

27,1

29

5

0

5,7

0

6

0

0,6

0

7

0

2,3

0

8

0

1

0

9

0

0,1

0

10

0

0,1

0

RATA-RATA

2.5

16

12.7

TEKI 1000

ppm

1

10,5

30,5

32

2

9,5

19

19

3

8

24,3

31

4

9

19,4

23

5

0,5

1

0

6

0,5

1

0

7

0,5

1

0

8

0

0

0

9

0

0

0

10

0

0

0

RATA-RATA

3.40

3.14

10.50

TEKI 2000

ppm

1

2

25,5

26

2

2

3,4

0

3

1,1

1,5

0

4

1,5

1,9

0

5

1,5

1,8

0

6

2,5

2,6

0

7

1,25

2

0

8

0

0,1

0

9

0

0

0

10

0

0

0

RATA-RATA

0.80

0.67

2.60

KONTROL

1

15,5

33,5

43

2

12,5

28,9

37

3

12,5

35

36

4

16

30,5

29,5

5

16

34

34

6

13

30,2

33

7

8,5

28,1

30

8

7,5

20,5

17,5

9

2,5

10

15

10

0

0

0

RATA-RATA

11.25

19.75

28.5

 

         RERATA

PERLAKUAN

ULANGAN

TANGGAL PENGAMATAN

RATA-RATA

7 / 6 / 2012 11 / 6 / 2012 14 / 6 /2012

AKASIA 1000

ppm

1

5.79

15.82

19.58

13.73

2

8.28

12.28

17.86

12.81

3

2.92

19.56

28.34

16.94

4

0

0.2

8.4

2.87

RATA-RATA

4.25

11.97

18.55

11.59

AKASIA 2000

ppm

1

12.06

25.33

26.91

21.43

2

2.7

4.7

10.22

5.87

3

1.66

15.32

22.53

13.17

4

0

0,1

0

0.00

RATA-RATA

4.11

15.12

14.92

11.38

TEKI 1000

ppm

1

4.5

12.99

15.11

10.87

2

8.34

11.73

17.99

12.69

3

2.19

16.15

25.44

14.59

4

3.40

3.14

10.50

5.68

RATA-RATA

4.61

11.00

17.26

10.96

TEKI 2000

ppm

1

6.34

13.93

14.93

11.73

2

5.73

9

13.37

9.37

3

2.12

12.26

14.63

9.67

4

0.80

0.67

2.60

1.36

RATA-RATA

3.75

8.97

11.38

8.03

KONTROL

1

4.57

20.18

27.03

17.26

2

8.01

14.78

23.76

15.52

3

2.07

13.48

20.39

11.98

4

11.25

19.75

28.5

19.83

RATA-RATA

6.48

17.05

24.92

16.15

 

 

PERLAKUAN

ppm

ULANGAN

TOTAL

RERATA

1

2

3

4

 

KONTROL

17.26

15.52

11.98

19.83

64.59

16.15

AKASIA 1000

13.73

12.81

16.94

2.87

46.35

11.59

AKASIA 2000

21.43

5.87

13.17

0.00

40.47

10.12

TEKI 1000

10.87

12.69

14.59

5.68

43.83

10.96

TEKI 2000

11.73

9.37

9.67

1.36

32.13

8.03

TOTAL

75.02

56.26

66.35

29.74

227.37

 

RERATA

15.00

11.25

13.27

5.95

 

 

 

Analisis Data (RAL)

Diketahui :

u = 4

p = 5

PERHITUNGAN

ANOVA

SV db JK KT FHitung F 5%
PerlakuanError

4

15

142.9985

507.7015

35.7496

33.8467

1.0562

3.06

Total

19

650.70

 

B.           PEMBAHASAN

 

Allelokimia merupakan senyawa kimia yang terdapat pada suatu tanaman tertentu yang dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman disekitarnya terhambat pertumbuhannya. Peristiwa dari penghambatan oleh tanaman yang mengandung allelokimia disebut dengan alelopati. Dalam praktikum ini kita menggunakan senyawa alelopat yang dihasilkan oleh rumput teki dan tanaman akasia yang di berikan pada tanaman jagung dengan konsentarsi masing-masing yang berbeda. Dari hasil percobaan diketahui bahwa persentase perkecambahan tanaman jagung terendah adalah 10 % dengan perlakuan T1, T2, K1, K2 pada 4 HST. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan alelopat yang terdapat pada gulma tersebut sangat tinggi sehingga menghambat pertumbuhan jagung. Penekanan pertumbuhan dan perkembangan karena ekstrak alang-alang dan akasia ditandai dengan penurunan tinggi tanaman, penurunan panjang akar, perubahan warna daun ( Dari hijau normal menjadi kekuning-kuningan) serta bengkaknya akar.

Pertumbuhan rambut akar juga terganggu, dengan melihat fenomena ini maka allelokimia yang berasal dari ekstrak Imperata cylindrica dan Acasia mangium bekerja dengan mengganggu proses fotosintesis atau proses pembelahan sel. Dari hasil percobaan diketahui bahwa persentase perkecambahan tertinggi pada 6 HST adalah 70% pada perlakuan kontrol, yaitu tanpa mengunakan zat alelopati. Hal ini menunjukan bahwa daun aksia, umbi teki dan rhizome menghambat pertumbuhan jagung. Hambatan allelopathy dapat pula berbentuk pengurangan dan kelambatan perkecambahan biji, penahanan pertumbuhan tanaman, gangguan sistem perakaran, klorosis, layu, bahkan kematian tanaman. Tumbuhan yang bersifat sebagai alelopat mempunyai kemampuan bersaing yang lebih hebat sehingga pertumbuhan tanaman pokok lebih terhambat, dan hasilnya semakin menurun Berdasarkan hasil percobaaan diketahui bahwa panjang tunas terendah adalah 0,5 cm pada perlakuan A3 dan K2. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa alelopati itu beracun yang dapat menghambat pembelahan sel dan pertumbuhan tanaman sehingga mengurangi hasil produksinya. Hal ini sesuai literatur Irwan (2009) yang menyatakan Senyawa alelopati berpengaruh terhadap beberapa hal yaitu: Penyerapan hara, menghambat pembelahan sel, menghambat pertumbuhan, menghambat aktivitas fotosintesis, mempengaruhi respirasi, mempengaruhi sintesis protein, mempengaruhi ketegangan membrane, menghambat aktivitas enzim, mempengaruhi suksesi, menghambat fiksasi Nitrogen dan Nitrifikasi, menghambat pola penyebaran tumbuhan, menghambat pembusukan biji dan perkecambahan. Berdasarkan hasil percobaan diketahui bahwa panjang tunas tertinggi adalah 5 cm pada perlakuan T3 yaitu pada perlakuan umbi teki. Hal ini dikarenakan kandungan alelopatnya yang sudah terlarut dengan air serta kandungan alelopat tertinggi pada umbi teki adalah pada daunnya sehingga pada perlakuan ini jagung dapat tumbuh.

Dari perlakuan daun akasia dan umbi teki terjadi perbedaan dalam proses penghambatan tanaman jagung, melihat dari presentase pertumbuhan dan tinggi tanaman kandungan senyawa yang berada pada rumput teki lebih cepat bekerja dalam menghampat pertumbuhan tanaman, karena pada hari yang sama tanaman jagung yang tumbuh lebih sedikit pada perlakuan rumput teki, dan pada konsentrasi 2000 ppm pengaruh terhadap pertumbuhan baik tinggi maupun persentase pertumbuhan lebih kecil dibandingkan dengan konsentrasi 1000 ppm.

Melihat dari F hitung lebih kecil dari F tabel pada taraf kepercayaan 5% bahwa tidak terjadi perbedaan yang nyata antara perlakuan konsentrasi 1000 ppm dan 2000 ppm pada daun akasia dan umbi rumput teki. Akan tetapi dari masing-masing konsentrasi memiliki perbedaan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman jagung. Dan sangat berbeda ketika dibandingkan dengan persentase pertumbuhan pada tanaman jagung yang tidak diberi cairan alelopat atau kontrol.

 

V.                   KESIMPULAN

 

  1. Dari hasil percobaan diketahui bahwa persentase perkecambahan jagung tertinggi adalah 70 % pada perlakuan kontrol.
  2. Dari hasil percobaan diketahui bahwa persentase perkecambahan jagung terendah adalah 10 % pada perlakuan T1, K1, K2 yaitu pada daun akasia, umbi teki.
  3. Dari hasil percobaan diketahui bahwa panjang tunas tertinngi adalah 5 cm pada perlakuan T3 pada umbi teki.
  4. Dari hasil percobaan diketahui bahwa panjang tunas terendah adalah 0,5 cm pada perlakuan A3 dan K2 yaitu pada rhizome alang-alang dan daun akasia.
  5. Asam Fenolat pada ekstrak alang – alang dapat mempengaruhi pembelahan sel dan menghambat perkecambahan.
  6. Dari perhitungan tabel anova bahwa tidak ada perbedaan yang nyata anatara kedua konsentrasi baik pada daun akasia dan umbi teki, karena F hitung lebih kecil dibandingkan F tabel pada taraf kepercayaan 5%.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

George, R. A. T. 1985. Vegetable Growing Handbook. Van Northrand Reinhold Company. New York

http://www.jurnal@indonesia.co.id). 2010 Diakses pada tanggal 13 Maret 2010 pada pukul 20.20 WIB

www.indoft.index.com/index-php. 2009 Diakses pada tanggal 13 Maret 2010 pada pukul 20.30 WIB

http://id.wikipedia.  allelopati /wiki/2009. Diakses pada tangga l3 Maret 2010 pada pukul 20.30 WIB

http://ptsingosari.com , Diakses pada tanggal 13 Maret 2010 pada pukul 20.20 WIB

Moenandir, J.H. 1993. Persaingan Tanaman Budidaya dengan Gulma. PT RajaGrafindo Persada.Jakarta

Nasution, U. 1986. Gulma dan Pengendaliannya di perkebunana Karet Sumatera Utara dan aceh. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Tanjung Morawa

Rukmana, R.H. 1997. Budidaya Baby Corn. Penerbit Kanisius. Jakarta Sukman, Y dan Yakup. 1995. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. PT RajaGrafindo Persada.Jakarta

Splittstoesser, W. 1984. Vegetable Growing Handbook. Mc Grow Hill Company,


1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: