U_Miia04 'Blog

Beranda » MY STUDY » KONDISI VEGETASI PADA LINGKUNGAN WILAYAH YANG BERBEDA ( ANALISIS VEGETASI )

KONDISI VEGETASI PADA LINGKUNGAN WILAYAH YANG BERBEDA ( ANALISIS VEGETASI )

Calendar

Januari 2013
J S M S S R K
« Des   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Like This Blog


I. PENDAHULUAN

 

A.       Latar Belakang

Indonesia adalah suatu negara kepulauan yang memiliki hutan tropika terbesar kedua di dunia, kaya dengan keanekaragaman hayati dan dikenal sebagai salah satu dari 7 (tujuh) negara megabiodiversity kedua setelah Brazilia. Distribusi tumbuhan tingkat tinggi yang terdapat di hutan tropis Indonesia lebih dari 12 % (30.000) dari yang terdapat di muka bumi (250.000). Sebagaimana telah diketahui bersama, tumbuh-tumbuhan tersebut telah dimanfaatkan manusia dalam kehidupan, sejak awal peradaban seperti untuk sandang, pangan, papan, energi, dan sumber ekonomi.

Dewasa ini sumber daya hutan baik hutan alam maupun hutan tanaman yang ada di hampir sebagian besar wilayah Indonesia telah mengalami penurunan fungsi secara drastis dimana hutan tidak lagi berfungsi secara maksimal sebagai akibat dari eksploitasi kepentingan manusia baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.penyelamatan hutan seperti dibuatnya hutan Wanagama ini adalah suatu upaya dalam menanggulangi suatu bencana.

Hutan merupakan salah satu pusat keanekaragaman jenis tumbuhan yang belum banyak diketahui dan perlu terus untuk dikaji. Hutan berpotensi sebagai penahan erosi dan menghijaukan tanah yang tandus. Karena hutan Wanagama sendiri merupakan hutan buatan yang sengaja dibuat manusia dalam upaya sebagai penghijauan lahan yang tandus. Oleh karena itu untuk lebih mengetahui keanekaragaman dan vegetasi suatu hutan, maka perlu dilakukan studi untuk mempelajari vegetasi hutan. Salah satunya adalah hutan Wanagama.

B.       Tujuan praktikum

Melakukan analisis vegetasi pada dua jenis lahan , yaitu lahan pantai Kukub dan Hutan Wanagama.

  1. Untuk mengetahui pengaruh faktor biotik dan abiotik terhadap penyebaran tumbuhan.
  2. Untuk mengetahui nilai penting suatu populasi jenis tumbuhan pada suatu ekosistem.
  3. Untuk mengetahui sumberdaya lingkungan apa saja yang terdapat pada suatu tempat dengan memahami tumbuhan yang ada.
  4. Pada akhirnya hasil analisis vegetasi dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan , misalnya pengembangan tanaman tertentu , mempengarui adanya suksesi tumbuhan.

II.                TINJAUAN PUSTAKA

A.    TINJAUAN LOKASI

Hutan Wanagama

Kawasan Hutan Wanagama yang luasnya hampir mencapai 600 hektar merupakan tumpuan harapan bagi banyak orang yang bermukim di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya untuk kepentingan ekonomis ataupun kebutuhan akan jasa lingkungan sebagai paru–paru kota dan sebagai media pembelajaran alamiah ataupun oleh pemerintah daerah sebagai salah satu aset wisata alam bagi daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Mengingat banyaknya manfaat yang dapat diperoleh lewat kehadiran kawasan Hutan wanagama ini, maka upaya untuk mempertahankan fungsi dan peran kawasan ini harus terus dilakukan (Irwanto, 2006).

Bahwa hutan yang sehat terbentuk apabila faktor-faktor biotik dan abiotik dalam hutan tersebut tidak menjadi faktor pembatas dalam pencapaian tujuan pengelolaan hutan saat ini maupun masa akan datang. Kondisi hutan sehat ditandai oleh adanya pohon-pohon yang tumbuh subur dan produktif, akumulasi biomasa dan siklus hara cepat, tidak terjadi kerusakan signifikan oleh organisme pengganggu tumbuhan, serta membentuk ekosistem yang khas (Kimmins, 1987).

Ekosistem hutan yang sehat terbentuk setelah hutan mencapai tingkat perkembangan klimaks, yang ditandai oleh tajuk berlapis, pohon-pohon penyusun terdiri atas berbagai tingkat umur, didominasi oleh pohon-pohon besar, serta adanya rimpang yang terbentuk karena matinya pohon. Ekosistem hutan yang sehat tercapai bila tempat tumbuhnya dapat mendukung ekosistem untuk memperbaharui dirinya sendiri secara alami, mempertahankan diversitas penutupan vegetasi, menjamin stabilitas habitat untuk flora dan fauna, serta terbentuknya hubungan fungsional di antara komunitas tumbuhan, hewan dan lingkungan (Widyastuti, 2004).

Kesehatan hutan dan kesehatan ekosistem tersebut menunjukkan bahwa keduanya merupakan tingkatan-tingkatan integrasi biologis. Konsekuensinya ialah antara keduanya mempunyai karakteristik yang sama, namun demikian terdapat perbedaan yang fundamental. Aspek kesehatan ekosistem lebih berhubungan dengan pola penutupan vegetasi dalam kisaran kondisi-kondisi ekologi yang luas, sedangkan kesehatan hutan lebih menekankan pada kondisi untuk memperoleh manfaatnya (Sumardi,2004).

Pantai Kukup

Pantai Kukup merupakan pantai pasir putih yang terletak di daerah timur selatan Yogyakarta. Pantai yang terletak sekitar 40 km dari kota Yogyakarta. Pantai kukup dianggap sebagai salah satu rangkaian pantai di wilayah selatan selain Pantai Baron, Pantai Krakal, Pantai Sundak, Wedi Ombo dan lain-lain. Mereka masing-masing memiliki karakteristik yang sama selain lokasi mereka, yang merupakan memiliki pasir putih. Hal ini diyakini bahwa pasir putih dari pantai selatan adalah sisa-sisa fragmen batuan dan potongan kulit hewan dan shellfishes.

 

B.     TINJAUAN UMUM

Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat tersebut. Dalam sampling ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang digunakan.

Prinsip penentuan ukuran petak adalah petak harus cukup besar agar individu jenis yang ada dalam contoh dapat mewakili komunitas, tetapi harus cukup kecil agar individu yang ada dapat dipisahkan, dihitung dan diukur tanpa duplikasi atau pengabaian. Karena titik berat analisa vegetasi terletak pada komposisi jenis dan jika kita tidak bisa menentukan luas petak contoh yang kita anggap dapat mewakili komunitas tersebut, maka dapat menggunakan teknik

Kurva Spesies Area (KSA). Dengan menggunakan kurva ini, maka dapat ditetapkan : (1) luas minimum suatu petak yang dapat mewakili habitat yang akan diukur, (2) jumlah minimal petak ukur agar hasilnya mewakili keadaan tegakan atau panjang jalur yang mewakili jika menggunakan metode jalur ( Marpaung andre, 2009).

Beberapa sifat yang terdapat pada individu tumbuhan dalam membentuk populasinya, dimana sifat – sifatnya bila di analisa akan menolong dalam menentukan struktur komunitas. Sifat – sifat individu ini dapat dibagi atas dua kelompok besar, dimana dalam analisanya akan memberikan data yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Analisa kuantitatif meliputi : distribusi tumbuhan (frekuensi), kerapatan (density), atau banyaknya (abudance).

Dalam pengambilan contoh kuadrat, terdapat empat sifat yang harus dipertimbangkan dan diperhatikan, karena hal ini akan mempengaruhi data yang diperoleh dari sample. Keempat sifat itu adalah  (Dedy 2010) :

  1. Ukuran petak.
  2. Bentuk petak.
  3. Jumlah petak.
  4. Cara meletakkan petak di lapangan.

Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Marsono, 1977).

Vegetasi merupakan unsur yang dominan yang mampu berfungsi sebagai pembentuk ruang, pengendalian suhu udara, memperbaiki kondisi tanah dan sebagainya. Vegetasi dapat menghadirkan estetika tertentu yang alamiah dari garis, bentuk, warna, dan tekstur yang ada dari tajuk, daun, batang, cabang, kulit batang, akar, bunga, buah maupun aroma yang ditimbulkan dari daun, bunga maupun buahnya (Rochman, 2005).

Vegetasi, tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat 1ain karena berbeda pula faktor lingkungannya. Vegetasi hutan merupakan sesuatu sistem yang dinamis, selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya.

Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari penvusun komunitas hutan tersebut. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan.

Jika berbicara mengenai vegetasi, kita tidak bisa terlepas dari komponen penyusun vegetasi itu sendiri dan komponen tersebutlah yang menjadi fokus dalam pengukuran vegetasi. Komponen tumbuh-tumbuhan penyusun suatu vegetasi umumnya terdiri dari (Andre, 2009) :

  1. Belukar (Shrub) : Tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar, dan memiliki tangkai yang terbagi menjadi banyak subtangkai.
  2. Epifit (Epiphyte) : Tumbuhan yang hidup dipermukaan tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma). Epifit mungkin hidup sebagai parasit atau hemi-parasit.
  3. Paku-pakuan (Fern) : Tumbuhan tanpa bunga atau tangkai, biasanya memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu, dimana pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun.
  4. Palma (Palm) : Tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu, lurus dan biasanya tinggi; tidak bercabang sampai daun pertama. Daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya terbagi dalam banyak anak daun.\
  5. Pemanjat (Climber) : Tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar.
  6. Terna (Herb) : Tumbuhan yang merambat ditanah, namun tidak menyerupai rumput. Daunnya tidak panjang dan lurus, biasanya memiliki bunga yang menyolok, tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadang-kadang keras.
  7. Pohon (Tree) : Tumbuhan yang memiliki kayu besar, tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai utama dengan ukuran diameter lebih dari 20 cm.

Untuk tingkat pohon dapat dibagi lagi menurut tingkat permudaannya, yaitu :

  1. Semai (Seedling) : Permudaan mulai dari kecambah sampai anakan kurang dari 1.5 m.
  2. Pancang (Sapling) : Permudaan dengan tinggi 1.5 m sampai anakan berdiameter kurang dari 10 cm.
  3. Tiang (Poles) : Pohon muda berdiameter 10 cm sampai kurang dari 20 cm.

Sedikit berbeda dengan inventarisasi hutan yang titik beratnya terletak pada komposisi jenis pohon. Perbedaan ini akan mempengaruhi cara sampling. Dari segi floristis-ekologis “random-sampling” hanya mungkin digunakan apabila langan dan vegetasinya homogen, misalnya padang rumput dan hutan tanaman. Pada umumnya untuk keperluan penelitian ekologi hutan lebih tepat dipakai “systimatic sampling”, bahkan “purposive sampling” pun boleh digunakan pada keadaan tertentu (Irwanto, 2010).

Untuk memperoleh informasi vegetasi secara obyektif digunakan metode ordinasi dengan menderetkan contoh-contoh (releve) berdasar koefisien ketidaksamaan (Marsono, 1987). Variasi dalam releve merupakan dasar untuk mencari pola vegetasinya. Dengan ordinasi diperoleh releve vegetasi dalam bentuk model geometrik yang sedemikian rupa sehingga releve yang paling serupa mendasarkan komposisi spesies beserta kelimpahannya akan rnempunyai posisi yang saling berdekatan, sedangkan releve yang berbeda akan saling berjauhan. Ordinasi dapat pula digunakan untuk menghubungkan pola sebaran jenis jenis dengan perubahan faktor lingkungan (Simanung, 2009).

Dalam analisa vegetasi ini terdapat banyak ragam metode analisa diantaranya yaitu:

  1. Dengan cara petak tunggal
  2. Dengan cara petak berganda
  3. Dengan cara jalur (Transek) dengan cara garis berpetak
  4. Dengan cara-cara tanpa petak

Beberapa metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. (Simanung, 2009).

Hasil pengukuran lapangan dilakukan dianalisis data untuk mengetahui kondisi kawasan yang diukur secara kuantitatif. Beberapa rumus yang penting diperhatikan dalam menghitung hasil analisa vegetasi, yaitu (Gapala, 2010) :

Kerapatan (Density)

Banyaknya (abudance) merupakan jumlah individu dari satu jenis pohon dan tumbuhanlain yang besarnya dapat ditaksir atau dihitung.Secara kualitatif kualitatif dibedakan menjadi jarang terdapat ,kadang-kadang terdapat,sering terdapat dan banyak sekali terdapat jumlah individu yang dinyatakan dalam persatuan ruang disebut kerapatan yang umunya dinyatakan sebagai jumlah individu,atau biosmas populasi persatuan areal atau volume,missal 200 pohon per Ha

  1. Dominasi

Dominasi dapat diartikan sebagai penguasaan dari satu jenis terhadap jenis lain (bisa dalam hal ruang ,cahaya danlainnya),sehingga dominasi dapat dinyatakan dalam besaran:

  1. Banyaknya Individu (abudance)dan kerapatan (density)
  2. Persenpenutupan (cover percentage) dan luas bidang dasar(LBD)/Basal area(BA)
  3. Volume
  4. Biomas
  5. Indek nilai penting(importance value-IV)

Frekuensi

Frekuensi merupakan ukuran dari uniformitas atau regularitas terdapatnya suatu jenis frekuensi memberikan gambaran bagimana pola penyebaran suatu jenis,apakah menyebar keseluruh kawasan atau kelompok.Hal ini menunjukan daya penyebaran dan adaptasinya terhadap lingkungan.

Raunkiser dalam shukla dan Chandel (1977) membagi frekuensi dalm lima kelas berdasarkan besarnya persentase,yaitu:

Kelas A dalam frekuensi 01 –20 %

Kelas B dalam frekuensi 21-40 %

Kelas C dalm frekuensi 41-60%

Kelas D dalam frekuensi 61-80 %

Kelas E dalam frekuensi 81-100%

  1. Indek Nilai Penting(importance value Indeks)

Merupakan gambaran lengkap mengenai karakter sosiologi suatu spesies dalam komunitas(Contis dan Mc Intosh, 1951) dalam Shukla dan chandel (1977).Nilainya diperoleh dari menjumlahkan nilai kerapatan relatif, dominasi relaif dan frekuensi relatif,sehingga jumlah maksimalnya 300%.

Praktik analisis vegetasi sangat ditunjang oleh kemampuan mengenai jenis tumbuhan (nama). Kelemahan ini dapat diperkecil dengan mengajak pengenal pohon atau dengan membuat herbarium maupun foto yang nantinya dapat diruntut dengan buku pedoman atau dinyatakan keahlian pengenal vegetasi ,ataupundapat langsung berhubungan dengan Hutan Wanagama dan Pantai Kukub.

Analisis vegetasi dapat dilanjutkan untuk menentukan indeks keanekaragaman ,indeks kesamaan, indeks asosiasi, kesalihan, dll, yang dapat banyak memberikan informasi dalam pengolahan suatu kawasan, penilaian suatu kawasan. Data penunjang seperti tinggi tempat, pH tanah warna tanah, tekstur tanah dll diperlukan untuk membantu dalam menginterpretasikan hasil analisis.

Berdasarkan tujuan pendugaan kuantitatif komunitas vegetasi dikelompokkan ke dalam 3 kategori yaitu :

  1. Pendugaan komposisi vegetasi dalam suatu areal dengan batas-batas jenis dan membandingkan dengan areal lain atau areal yang sama namun waktu pengamatan berbeda.
  2. Menduga tentang keragaman jenis dalam suatu areal.
  3. Melakukan korelasi antara perbedaan vegetasi dengan faktor lingkungan tertentu atau beberapa faktor lingkungan (Greig-Smith, 1983).

Untuk mempelajari komposisi vegetasi perlu dilakukan pembuatan petak-petak pengamatan yang sifatnya permanen atau sementara. Menurut Soerianegara (1974) petak-petak tersebut dapat berupa petak tunggal, petak ganda ataupun berbentuk jalur atau dengan metode tanpa petak. Pola komunitas dianalisis dengan metode ordinasi yang menurut Dombois dan E1lenberg (1974) pengambilan sampel plot dapat dilakukan dengan random, sistematik atau secara subyektif atau faktor gradien lingkungan tertentu.

Untuk memperoleh informasi vegetasi secara obyektif digunakan metode ordinasi dengan menderetkan contoh-contoh (releve) berdasar koefisien ketidaksamaan (Marsono, 1987). Variasi dalam releve merupakan dasar untuk mencari pola vegetasinya. Dengan ordinasi diperoleh releve vegetasi dalam bentuk model geometrik yang sedemikian rupa sehingga releve yang paling serupa mendasarkan komposisi spesies beserta kelimpahannya akan rnempunyai posisi yang saling berdekatan, sedangkan releve yang berbeda akan saling berjauhan. Ordinasi dapat pula digunakan untuk menghubungkan pola sebaran jenis jenis dengan perubahan faktor lingkungan.

III.      METODE

A.      Alat Dan Bahan :

1) Meteran

2) Tali plastik

3) Pancang/patok

4) Kantong plastik

5) Kamera

6) Alat kuadrat

7) Alat tulis

B.     Cara Kerja :

  1. Buat petak 2m x 2m (ukuran bisa diubah melihat kondisi lapangan), atau menggunakan alat “kuadrat” berukuran 1m x 1m. Dari pertak tersebut dilakukan udentiifikasi jenis tumbuhan yang ada, meliputi : nama spesies, jumlah individu masing-masing spesies, luas penutupan tajuk spesies (untuk spesues yang merambat).
  2. Ulangi langkah no.1 pada bidang area lainnya secara acak sebanyak 3 ulangan.
  3. Apabila tidak diketahui nama-naman spesies, maka apabila contoh spesies dan masukkan ke dalam plastik dan diberi label yang jelas untuk dibawa ke kampus dan diidentifikasi.
  4. Lakukan pekerjaan no. 1-3 untuk lokasi / ekosistem yang berbeda.
  5. Semua data dicatat pada blanko terlampir.
  6. Hitung parameter-parameter vegetasi : kerapatan(K), Kerapatan relatif(KR), Frekuensi(F), Frekuensi relatif(FR), Dominansi(D), Dominansi(DR), Indeks nilai penting(INP).

 

IV.      HASIL DAN PEMBAHASAN

 

A.           HASIL

PANTAI KUKUP

NO

SPESIES

PLOT

JUMLAH

1

2

3

1

A

3

 

 

3

2

B

19

33

18

70

3

C

3

2

5

4

D

17

5

22

5

E

5

9

3

17

6

F

2

2

7

G

6

5

11

8

H

 

10

8

18

9

I

 

5

5

 

HUTAN WANAGAMA

NO

SPESIES

PLOT

JUMLAH

1

2

3

1

A(Akasia geeggi)

1

 

 

1

2

B

5

1

4

10

3

C

8

2

31

41

4

D

2

2

5

E

8

8

6

F( Phylanthsis veinaria.L)

1

1

2

7

G

1

1

 

parameter perhitungan

PERHITUNGAN DATA QUADRAT SAMPLING TECHNIQUES

 

PANTAI KUKUP

Spesies

Kerapatan (K)

Kerapatan relatif ( KR )

Frekuensi (F)

Frekuensi relatif

( FR )

Indeks Nilai Penting ( INP )

Rank

A

0.0200

1.9608 %

0.3

5.6604 %

7.62%

8

B

0.4667

45.7516 %

1

18.8679 %

64.62%

1

C

0.0333

3.2680 %

0.6

11.3208 %

14.59%

6

D

0.1467

14.3791 %

0.6

11.3208 %

25.70%

3

E

0.1133

11.1111 %

1

18.8679 %

29.98%

2

F

0.0133

1.3072 %

0.3

5.6604 %

6.97%

9

G

0.0733

7.1895 %

0.6

11.3208 %

18.51%

5

H

0.1200

11.7647 %

0.6

11.3208 %

23.09%

4

I

0.0333

3.2680 %

0.3

5.6604 %

8.93%

7

TOTAL

1.0200

100 %

5.3

100 %

 

 

HUTAN WANAGAMA

Spesies

Kerapatan (K)

Kerapatan relatif ( KR )

Frekuensi (F)

Frekuensi relatif ( FR )

Indeks Nilai Penting ( INP )

Rank

A(Akasia geeggi)

0.0067

1.5386 %

0.3

7.8947 %

9.43%

6

B

0.0667

15.3858 %

1

26.3158 %

41.70%

2

C

0.2733

63.0818 %

1

26.3158 %

89.40%

1

D

0.0133

3.0772 %

0.3

7.8947 %

10.97%

5

E

0.0533

12.3086 %

0.3

7.8947 %

20.20%

3

F

( Phylanthsis veinaria.L)

0.0133

3.0772 %

0.6

15.7895 %

18.87%

4

G

0.0067

1.5386 %

0.3

7.8947%

9.43%

6

TOTAL

0.4333

100%

3.8

100 %

 

 

 

 

 

 

B.           PEMBAHASAN

 

1.      Hutan Wanagama

Hutan Wanagama terletak di Kecamatan Playen dan Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Hutan Wanagama merupakan hutan buatan yang dibuat oleh fakultas kehutanan, Universitas Gadjah Mada. Tujuan dibuat hutan tersebut adalah sebagai penghijauan karena lahan yang tandus. Pada awal pembangunannya, Wanagama merupakan bukit gundul yang tandus dan kering. Kehidupan di lokasi ini dimulai ketika tim dari Fakultas Kehutanan UGM melakukan penghijauan dengan teori pembelukaran. Mereka menanam sebanyak mungkin jenis tanaman pionir yang mampu memperbaiki kondisi tanah, tata air, dan iklim mikro.

Tanaman pionir yang didominasi jenis legum memiliki kemampuan mengikat nitrogen di udara sehingga sanggup menyuburkan tanah. Kesuburan tanah juga didongkrak dari tumpukan biomassa humus yang berasal dari pembusukan daun. Hasil dari teori pembelukaran ini baru bisa dinikmati setelah kurun waktu 10-15 tahun.

Analisis vegetasi hutan memerlukan hal yang diperhitungkan yaitu terkait dengan nilai penting yang didapatkan dari praktikum lapangan ini.analisa ini digunakan untuk mengetahui struktur dan jenis vegetasi hutan Wanagama. Dengan mendeskripsikan tumbuhan maka dapat dihitung komposisi, struktur, densitas/kemelimpahan, frekuensi/sebaran dan penutupan tajuk dari spesies yang ditemukan.

Struktur vegetasi merupakan susunan anggota komunitas vegetasi pada suatu area yang dapat dinilai dari tingkat densitas (kerapatan) individu dan diversitas (keanekaragaman) jenis. Struktur hutan Wanagama tersusun atas berbagai densitas tumbuhan dengan lingkungan abiotik yang mendukung berlangsungnya hutan tersebut. Struktur vegetasi pada penelitian ini didasarkan pada kemelimpahan jenis spesies dan sebaran/frekuensi pada tiap plot. Pada studi vegetasi yang telah dilakukan, ditemukan 7 jenis tanaman yang berbeda.

Indeks nilai penting yang diukur yaitu kerapatan relatif dan frekuensi relatif. Kemelimpahan/kerapatan (densitas) merupakan banyaknya individu persatuan luas atau volume. Densitas/kemelimpahan terbesar ditunjukkan pada spesies C dengan densitas relatif sebesar 63.0818 %. Densitas terkecil ditunjukkan oleh spesies Akasia geeggi dan G. Dengan jumlah densitas relatif sebesar 1.5386 %.

Frekuensi/sebaran merupakan distribusi/sebaran yang terjadi dan terdapat pada setiap plot. Frekuensi tersebut menggambarkan kemampuan tumbuhan dalam bertahan hidup sesuai lingkungannya dan kemampuan tumbuh. Frekuensi terbesar ditunjukkan pada spesies C, B, E,Phylanthsis veinaria.L, Sedangkan frekuensi terkecil ditunjukkan pada Akasia geeggi dan spesiesG

Kemelimpahan/densitas yang terjadi adalah keseluruhan jumlah tumbuhan pada semua plot yang paling dominan yaitu Sedangkan frekuensi yang terjadi adalah sebaran pada masing-masing plot yaitu spesies C dan B . pola sebaran/frekuensi tidak mempengaruhi pada densitasnya. Karena frekuensi hanya kemelimpahan tiap plot sedangkan densitas adalah keseluruhan individu per plot. Begitu juga densitas tidak mempengaruhi besar kecilnya frekuensi.

Persebaran dan adaptasi tumbuhan merupakan faktor yang mempengaruhi struktur hutan Wanagama. Lapisan yang terdapat di hutan Wanagam ada tiga yaitu lapisan dasar/semak (tumbuhan merumput), lapisan tengah (perdu), dan lapisan atas. Vegetasi hutan akan nampak ketika terjadi pergantian musim dan cuaca. Luas penutupan tajuk adalah luas daerah yang dihuni tumbuhan. Penutupan tersebut menggambarkan adanya penguasaan pada daerah tersebut yaitu ditunjukkan dengan peneduhan oleh batang, daun, cabang jika dilihat dari sisi atas. Pada praktikum lapangan ini tidak dilakukan pengamatan mengenai luas penutupan tajuk. Ini dikarenakan pada saat penelitian kurangnya penyinaran oleh matahari dan faktor cuaca yang saat itu hujan, sehingga tidak terlihat luas penutupan tajuk oleh tumbuhan di hutan Wanagama begitupula jenis tanaman yang diamati hanya tanaman lapisan dasar/semak (tumbuhan merumput).

Sruktur vegetasi di hutan Wanagama dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik lainnya. Faktor biotik seperti adanya semut, rayap, jamur maupun dekomposer lain yang membantu proses pertumbuhan tumbuhan. Faktor abiotik seperti tanah yang lembab dan kaya akan air yang di atasnya terdapat potongan ranting, daun dan serasah-serasah yang kaya mengandung humus juga akan mempengaruhi faktor biotiknya. Jika serasah-serasah tersebut didekomposisi oleh dekomposer, maka akan menjadikan tanah menjadi subur. Suhu, pH, kelembaban, ketinggian maupun intensitas cahaya juga berpengaruh pada vegetasi hutan Wanagama. Iklim yang mendukung dapat mempengaruhi kemelimpahan dan keberagaman spesies yang tumbuh di hutan Wanagama.

Metode yang digunakan dalam vegetasi hutan Wanagama adalah teknik ploting (Quadrat Sampling Techniques). Menggunakan tehnik itu karena untuk menghitung vegetasi hutan yang begitu luas diperlukan metode yang menerapkan perluasan plot untuk menghitung densitas dan sebaran/frekuensi dari vegetasi hutan Wanagama yang nantinya dapat diketahui luas minimum plotnya. Perluasan plot yang telah dilakuakn yaitu sebanyak 3 kali dengan total perluasan yaitu 150 m2.

Komposisi jenis yang ada dalam suatu komunitas tumbuhan sering kali mengalami perubahan sejalan dengan waktu. Proses ini dikenal dengan nama suksesi. Jika keadaan lingkungan mikro dari suatu habitat relatif tidak berubah, maka perubahan komposisi jenis akan berjalan sangat lambat atau tidak mengalami perubahan sama sekali (Sastroutomo, 1990).

  1. 2.      Pantai Kukub

Pantai Kukup terletak di  Desa Kemadang Kecamatan Tanjungsari Gunungkidul Yogyakarta, tepatnya di sebelah timur pantai Baron. Pantai kukup oleh pemerintah Kabupaten Gunung kidul telah dijadikan obyek wisata sehingga vegetasi pantai di pantai kukup sudah tidak alami lagi dan banyak mengalami perubahan dari kondisi awalnya karena kepentingan penataan kawasan wisata. Analisis vegetasi pantai kukup perlu dilakukan untuk pendataan vegetasi yang ada untuk memantau kondisi lingkungan pantai kukup di kemudian hari dan memantau adanya perubahan ekosistem akibat perubahan lingkungan.    

Metode yang digunakan dalam vegetasi hutan Wanagama adalah teknik ploting (Quadrat Sampling Techniques). yaitu dengan membuat petak pengamatan dan menghitung jumlah dari berbagai jenis tanaman yang terdapat di dalam petak tersebut untuk dilakukan pengolahan data guna mencari Kerapatan (K), Kerapatan relatif ( KR ), Frekuensi (F), Frekuensi relatif ( FR ), Dominasi ( D ), Dominasi relatif ( DR ), Indeks Nilai Penting ( INP ). Dari perhitungan yang dilakukan dapat diketahui jenis tanaman yang mendominasi di area tersebut, sehingga hasil ploting yang dilakukan diharapkan dapat mewakili kondisi pantai kukup secara luas. Petak plot yang digunakan brukuran 1 x 1 m dan dilakukan sebanyak 3 kali ulangan untuk mendapatkan hasil yang akurat dan diharapkan dapat mewakili kondisi pantai kukup secara menyeluruh.

Pada praktikum ini didapat berbagai kendala di lapangan. Misalnya saja  kendala dalam  menentukan area plotting di daerah pantai kukup dikarenakan kondisi area pengamatan di pantai kukup daerahnya berbukit dan banyak ditumbuhi tanaman sehingga sulit menemukan area ploting yang tepat. Berbagai macam jenis tanaman didapatkn dalam praktikum analisis vegetasi di pantai kukup namun terdapat kesulitan dalam melakukan identifikasi tanaman yang didapatkan.

Dari data yang didapatkan, spesies B memiliki kerapatan relative dan frekuensi relative yang terbesar sehingga dapat dikatakan spesies B mendominasi daerah di kawasan pantai kukup. Spesies B terdapat di setiap plot pengamatan dan jumlahnya mendominasi jika dibandingkan dengan spesies tanaman lain yang teramati. Dari data tersebut dapat dilakukan perhitungan untuk mencari Indeks nilai penting sehingga dapat dibuat ranking spesies tanaman yang didapatkan untuk menentukan spesies mana ynag paling mendominasi kawasan pantai kukup. Spesies B memiliki Indeks Nilai Penting sebesar 64.62% dengan indeks nilai penting sebesar itu maka spesies B dapat dikatakan tanaman yang paling mendominasi dan merupakan indicator bagi adanya perubahan lingkungan yang mungkin saja terjadi.

Kelimpahan terkecil yang ada di kawasan pantai kukup berdasarkan praktikum analisis vegetasi yang dilakukan adalah spesies F dengan frekuensi relative sebesar 5.6604 % dan Indeks nilai penting yang didapatkan dari hasil perhitungan adalah sebesar 6.97%  dan merupakan spesies yang jarang ditemukan dalam ploting yang dilakukan. Dari 3 x plotting yanmg dilakukan spesies F hanya ditemukan dalam 1 petak plot saja.

Ragam vegetasi yang terdapat di pantai kukup dipengaruhi oleh berbagai factor diantaranya adalah jenis tanah yang terdapat di pantai kukup, kadar air tanah, kadar garam dalam tanah, curah hujan, intensitas cahaya dan berbagai factor. Sehingga ragam tanaman yang dapat hidup di kawasan pantai kukup adalah tanaman yang dapat menyesuaikan atau cocok dengtan kondisi kawasan pantai kukup. Ragam vegetasi di pantai kukup tentu akan lain dengan ragam vegetasi yang terdapat di dataran tinggi seperti di hutan Wanagama, karena ragam tanaman yang didapatkan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan daerah tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

I.                   KESIMPULAN

 

  1. Struktur vegetasi merupakan susunan anggota komunitas vegetasi pada suatu area yang dapat dinilai dari tingkat densitas (kerapatan) individu dan diversitas (keanekaragaman) jenis
  2. Pada praktikum analisis vegetasi ini didapat berbagai kekurangan akibat kesulitan dari praktikan untuk menemukan nama masing-masing spesies.
  3. Pada Hutan Wanagama diperoleh Densitas/kemelimpahan terbesar ditunjukkan pada spesies C dengan densitas relatif sebesar 63.0818 % . Densitas terkecil ditunjukkan oleh spesies Akasia geeggi dan G. Dengan jumlah densitas relatif sebesar 1.5386 %.
  4. Sruktur vegetasi di hutan Wanagama dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik lainnya.
  5. Faktor biotik seperti adanya semut, rayap, jamur maupun dekomposer lain yang membantu proses pertumbuhan tumbuhan.
  6. Faktor abiotik seperti tanah yang lembab dan kaya akan air yang di atasnya terdapat potongan ranting, daun dan serasah-serasah yang kaya mengandung humus akan menjadikan tanah menjadi subur.
  7. Iklim yang mendukung dapat mempengaruhi kemelimpahan dan keberagaman spesies yang tumbuh di hutan Wanagama. Suhu, pH, kelembaban, ketinggian maupun intensitas cahaya juga berpengaruh pada vegetasi hutan Wanagama.
  8. Spesies yang paling mendominasi di kawasan pantai kukup adalah spesies B dengan Indeks nilai penting sebesar 64.62% dan spesies tanaman dengan kelimpahan terkecil adalah spesies F dengan indeks nilai penting sebesar 6,97%.
  9. Ragam spesies tanaman yang muncul di kawasan pantai kukup dipengaruhi oleh berbagai factor diantaranya: jenis tanah, tinggi permukaan tanah, kadar air, kandungan garam, intensitas cahaya, dan lain-lain sehingga hanya tanaman yang mampu beradaptasi dengan lingkungan pantai yang dapat hidup disana.
  10. Terdapat perbedaan spesies tanaman yang terdapat di daerah dataran tinggi (hutan wanagama) dan daerah dataran rendah (pantai kukup)

 


DAFTAR PUSTAKA

Ewusie, J. Y. 1990. Pengantar Ekologi Tropika. Terjemahan oleh Tanuwijaya U. Bandung: ITB

http://boymarpaung.wordpress.com/2009/04/20/apa-dan-bagaimana-mempelajari-analisa-vegetasi/ (Diakses pada tanggal Juni 2012 )

http://riyantilathyris.wordpress.com/2010/11/26/laporan-analisis-vegetasi/ (Diakses pada tanggal Juni 2012 )

http://www.scribd.com/doc/38285097/ANALISA-VEGETASI(Diakses pada tanggal Juni 2012 )

Irwanto. 2006. Penilaian kesehatan hutan tegakan jati (Tectona grandis) dan eucalyptus (Eucalyptus pellita) pada Kawasan hutan wanagama. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada

Kimball. J.W. 2005. Biologi Jilid 3 Edisi Kelima. Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama, Erlangga

Kimmins, J.P. 1987. Forest Ecology. New York : MacMillan Publishing Company

Kusumawati, J. 2008. Analisis Struktur Vegetasi Tumbuhan Hubungannya dengan Ketersediaan Air Tanah di Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar. Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Marsono, Djoko. 2004. Konservasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup. Yogyakarta : BIGRAF Publishing bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL),

Rochman. 2005. Biologi. Bandung : CV. Pustaka Mulia

Sumardi dan S.M. Widyastuti. 2004. Dasar-Dasar Perlindungan Hutan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.


4 Komentar

  1. […] KONDISI VEGETASI PADA LINGKUNGAN WILAYAH YANG BERBEDA ( ANALISIS VEGETASI ) […]

  2. i read your article and loave it so much ,thank you so much.

  3. -Umiie- mengatakan:

    you’re welcome

  4. safa mengatakan:

    “beberapa metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. (Simanung, 2009)”

    bu …. ini simanung kok gak ada di daftar pustaka ya?
    itu buku simanung judulnya apa?
    butuh informasi ttg buku nya simanung, imel aku ya di safaatnurhidayat@yahoo.com
    makasih ya ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: