U_Miia04 'Blog

Beranda » MY STUDY » ACARA I. PERSAINGAN INTRASPESIFIK TANAMAN ( ANTAR TANAMAN SEJENIS )

ACARA I. PERSAINGAN INTRASPESIFIK TANAMAN ( ANTAR TANAMAN SEJENIS )

Calendar

Januari 2013
J S M S S R K
« Des   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Like This Blog


PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SAWI

I.                   PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang

Organisme hidup di alam tidak berdiri sendiri-sendiri atau tidak hidup sendiri-sendiri, melainkan menjadi satu kumpulan individu-individu yang menempati suatu tempat tertentu, sehingga antar organisme dapat terjadi interaksi. Interaksi-interaksi yang terjadi dapat merupakan interaksi antar individu dari spesies yang sama, dapat juga merupakan interaksi antar individu dari spesies yang berbeda.

Beberapa waktu terakhir, berbagai upaya memaksimalkan hasil tanaman budidaya telah banyak dilakukan oleh para petani. Upaya-upaya tersebut dapat berupa penggunaan bibit unggul atau mengatur jarak tanam. Pengaturan populasi tanaman pada hakekatnya adalah pengaturan jarak tanam yang nantinya akan berpengaruh pada persaingan dalam penyerapan zat hara, air, dan cahaya matahari. Jika hal tersebut tidak diatur dengan baik , hasil tanaman akan ikut terpengaruh. Jarak tanam rapat akan mengakibatkan terjadinya suatu kompetisi, baik inter maupun intraspesies. Beberapa penelitian tentang jarak tanam menunjukkan bahwa semakin rapat jarak tanam maka semakin tinggi tanaman tersebut dan secara nyata akan berpengaruh terhadap jumlah cabang, luas permukaan daun dan pertumbuhan tanaman.

Interaksi yang terjadi antarspesies anggota populasi akan mempengaruhi terhadap kondisi populasi mengingat keaktifan atau tindakan individu mempengaruhi kecepatan pertimbuhan ataupun kehidupan populasi. Menurut Odum (1993), setiap anggota populasi dapat memakan anggota populasi yang lainnya, bersaing terhadap makanan, mengeluarkan kotoran yang merugikan lainnya, dapat saling membunuh, dan interaksi tersebut dapat searah ataupun dua arah (timbal balik). Oleh karena itu, dari segi pertumbuhan atau kehidupan populasi, interaksi antarspesies anggota populasi dapat merupakan interaksi yang positip, negatif, atau nol.(Indryanto,2006)

Singkatnya, organisme-organisme mungkin memiliki respon-respon intrinsic maupun ekstrinsik terhadap kompetisi yang semakain meningkat. Tumbuh-tumbuhan dan hewan terutama jenis-jenis sessile, dengan jenis menunjukan mortalitas dan prastisitas ukuran. Banyak juga yang menunjukan suatu jenis respon ekstrinsik. Dikotomi tersebut dikaburkan oleh fakta bahwa respon intrinsic, seperti batang-batang yang terlalu tinggi dapat menimbulkan ketinggian melebihi individu-individu di sekelilingnya, yaitu suatu interaksi ekstrinsik. Evolusi tipe-tipe respon tergantung pada kemampuan individu-individu utuk mempengaruhi situasi kompetisi dengan pemilihan tempat dan tergantung pada sifat-sifat sumber yang terbatas. Cahaya harus diperebutkan dengan pemerolehan energi dan menjaga agar individu-individu lain tidak menggunakan atau berusaha mendapatkan sumber itu. Makanan merupakan sumber yang paling banyak sdiperebutkan dengan cara menyingkirkan individu-individu dari suplai sumber,pengambilan secara tepat, atau kemampuan untuk mempertahankan persediaan makanan yang sedikit.(Naughton,1992)

Mengingat pentingnya mengengetahui jarak tanaman ideal untuk pertumbuhan tanaman ini, maka dilakukan praktikum tentang kompetisi yang terjadi pada tanaman yang sejenis maupun yangberbeda spesies. Hal inilah yang melatar belakangi dilakukannya pengamatan kompetisi pada tanaman ini.

 B.     Tujuan

Untuk memahami persaingan intraspesifik dengan mempelajari pengaruh jarak tanaman ( kerapatan ) populasi terhadap laju pertumbuhan tanaman.

II.                   TINJAUAN PUSTAKA

Klasifikasi Pakchoy

Divisi               : Spermatophyta

Subdivisi         : Angiospermae

Kelas               : Dicotyledonae

Ordo                : Rhoeadales (Brassicales)

Famili              : Cruciferae (Brassicaceae)

Genus              : Brassica

Spesies            : Brassica rapa L.

Manfaat Pakchoy

Produksi utama pakchoy adalah daun. Pakchoy dikomsumsi dalam berbagai bentuk antaralain dilalap, digoreng, disayur lodeh atau ditumis. Oleh orang Korea, pakchoy umum diawetkandalam bentuk asinan disebut “Kimchee“ (Widiastuti 2000).

Syarat Tumbuh

Iklim

Pakchoy bukan tanaman asli Indonesia, menurut asalnya di Asia. Karena Indonesiamempunyai kecocokan terhadap iklim, cuaca dan tanahnya sehingga dikembangkan di Indonesiaini. Tanaman pakchoy dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawadingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipundemikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi. Tanaman pakchoytahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur.

Media Tanam

Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah gembur, banyak mengandunghumus, subur, serta pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman (pH) tanah yang optimumuntuk pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7.

Ketinggian

Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan1.200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yangmempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl. Berhubung dalam pertumbuhannyatanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasanalembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang menggenang. Dengandemikian, tanaman ini cocok bils di tanam pada akhir musim penghujan

Di alam persaingan dapat terjadi antara individu-individu dalam satu jenis (intraspesifik) ataupun dari jenis yang berbeda (interspesifik). Persaingan tersebut terjadi karena individu-individu mempunyai kebutuhan yang sama terhadap faktor-faktor yang tersedia dalam jumlah yang terbatas di dalam lingkungan seperti tempat hidup, cahaya, air dan sebagainya. Persaingan yang dialkukan oleh hewan sangat berbeda dengan persaingan pada tumbuhan. Pada dasarnya persaingan pada tumbuhan tidak dilakukan secara fisik tetapi akibat dari persaingan tersebut mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas keduanya.

Persaingan terjadi ketika organisme baik dari spesies yang sama maupun dari spesies yang berbeda menggunakan sumber daya alam. Di dalam menggunakan sumber daya alam, tiap-tiap organisme yang bersaing akan memperebutkan sesuatu yang diperlukan untuk hidup dan pertumbuhannya. Menurut Gopal dan Bhardwaj (1979), persaingan yang dilakukan organisme-organisme dapat memperebutkan kebutuhan ruang (tempat), makanan, unsure hara, air, sinar, udara, agen penyerbukan, agen dispersal, atau factor-faktor ekologi lainnya sebagai sumber daya yang dibutuhkan oleh tiap-tiap organisme untuk hidup dan pertumbuhannya.(Indriyanto,2006)

Harper(1961) dalam Dede Setiadi,1989, menyatakan bahwa persaingan antar jenis digunakan untuk menggambarkan adanya persaingan antara individu-individu tanaman yang sejenis. Persaingan antar jensi terdiri atas:

1. persaingan aktivitas dan

2. persaingan sumberdaya alam.

Kershan(1973), mengemukakan bahwa persaingan antar jenis yang terdiri atas fase sedling sangat menentukan jumlah tanaman yang dapat hidup sampai tingkat dewasa.(Dede Setiadi,1989)

 

Kompetisi

Kompetisi dapat didefenisikan sebagai salah satu bentuk interaksi antar tumbuhan yang saling memperebutkan sumber daya alam yang tersedia terbatas pada lahan dan waktu sama yang menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan hasil salah satu jenis tumbuhan atau lebih. Sumber daya alam tersebut, contohnya air, hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh (Kastono, 2005).

Definisi kompetisi sebagai interaksi antara dua atau banyak individu apabila (1) suplai sumber yang diperlukan terbatas, dalam hubungannya dengan permintaan organisme atau (2) kualitas sumber bervariasi dan permintaan terhadap sumber yang berkualitas tinggi lebih banyak. Organisme mungkin bersaing jika masing-masing berusaha untuk mencapai sumber yang paling baik di sepanjang gradien kualitas atau apabila dua individu mencoba menempati tempat yang sama secara simultan. Sumber yang dipersaingkan oleh individu adalah untuk hidup dan bereproduksi, contohnya makanan, oksigen, dan cahaya (Noughton, 1990).

Secara teoritis ,apabila dalam suatu populasi yang terdiri dari dua spesies , maka akan terjadi interaksi diantara keduanya. Bentuk interaksi tersebut dapat bermacam-macam, salah satunya adalah kompetisi. Kompetisi dalam arti yang luas ditujukan pada interaksi antara dua organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Kompetisi antar spesies merupakan suatu interaksi antar dua atau lebih populasi spesies yang mempengaruhi pertumbuhannya dan hidupnya secara merugikan. Bentuk dari kompetisi dapat bermacam-macam. Kecenderungan dalam kompetisi menimbulkan adanya pemisahan secara ekologi, spesies yang berdekatan atau yang serupa dan hal tersebut di kenal sebagai azaz pengecualian kompetitif ( competitive exclusion principles ) (Ewusie,1990).

Macam-macam Kompetisi

Kompetisi dibedakan menjadi empat macam, yaitu:

  1. intraspesifik yakni persaingan antara organisme yang sama dalam lahan yang sama
  2. Kompetisi interspesifik yakni persaingan antara organisme yang beda spesies dalam lahan yang sama
  3. Intraplant competition yakni persaingan antara organ tanaman, misalnya antar organ vegetatif atau organ vegetatif lawan organ generatif dalam satu tubuh tanaman
  4. Interplant competition yakni persaingan antar dua tanaman berbeda atau bersamaan spesiesnya (dapat pula terjadi pada intra maupun interplant competition) (Kastono , 2005)

Persaingan intraspesifik

Persaingan intraspesifik pada tumbuhan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:

1. Jenis tanaman

Sifat-sifat biologi tumbuhan, sistem perakaran, bentuk pertumbuhan serta fisiologis tumbuhan mempemngaruhi pertumbuhan tanaman. Misal sistem perakaran tanaman ilalang yang menyebar luas menyebabkan persaingan dalam memperebutkan unsur hara. Bentuk daun yang lebar seperti daun talas menyebabkan persaingan dalam memperebutkan air.

2. Kepadatan tumbuhan

Jarak yang sempit antar suatu tanaman pada suatu lahan menyebabkan persainagn terhadap zat-zat makanan. Hal ini karena unsur hara yang tersedia tidak mencukupi bagi pertumbuhan tanaman.

3. Penyebaran tanaman

Penyebaran tanaman dapat dilakukan melalui penyebaran biji dan melalui rimpang (akar tunas). Tanaman yag penyebarannya dengan biji mempunyai kemampuan bersaing yang lebih tinggi dari tanaman yang menyebar daengan rimpang. Namun demikian, persaingan penyebaran tanaman tersebut sangat dipengaruhi faktor-faktor lingkunganlain seperti suhu, cahaya, oksigen dan air.

4. Waktu

Hal lain yang mempengaruhi adalah lamanya tanaman sejenis hidup bersama. Periode 20-30% pertama dari daur tanaman merupakan periode yang paling peka terhadap kerugian yang disebabkan oleh persaingan.

III.                   METODOLOGI

 

 A.  Tempat dan waktu pengamatan

Pengamatan ini dilakukan di Laboratorium Ilmu tanah ,Universitas Mercu Buana Yogyakarta dan Kebun percobaan Gunung bulu, Sedayu. Praktikum mulai dilaksanakan pada tanggal 26 April 2012 – 21 Juni 2012.

 B.  Alat dan Bahan

Bahan :

  1. Benih sawi sendok (pakcoy atau bok choy)
  2. Pupuk organik
  3. Pupuk anorganik (Urea, TSP, KCl)
  4. Pestisida (Furadan 3G, insektisida, fungisida lain)

Alat :

  1. Cangkul
  2. Koret
  3. Tugal
  4. Meteran
  5. Gembor
  6. Hand sprayer
  7. Timbangan
  8. Oven

Cara Kerja

  1. Setiap kelompok menyiapkan dan melakukan budidaya pada 2 bedengan
  2. Pembibitan : lakukan pembibitan dengan bedengan atau poli bag. Jika dengan bedengan pemibitan, berukuran ± (1m x 1m), tinggi bedengan 20-30 cm. Dua minggu sebelum ditabur benih, bedengan pembibitan ditaburi dengan pupuk kandang lalu di tambah 20 gram urea, 10 gram TSP dan 7,5 gram KCl. Cara melakukan pembibitan adalah benih ditabur, lalu ditutupi tanah setebal 1-2 cm, lalu disiram dengan sprayer, kemudian diamati 3-5 hari. Benih akan tumbuh setelah berumur 3-4 minggu sejak disemaikan dan tanaman dipindahkan ke lahan.
  3. Buat lubang tanam dengan cara membuat lubang dengan ukuran ± (3 cm x 6 cm). Pilihlah bibit yang baik, pindahkan bibit dengan hati-hati. Buatlah dengan 2 macam jarak tanam yaitu (40cm x 40cm) dan (20cm x 20 cm)
  4. Beri sedikit furadan pada setiap lubang tanam.
  5. Tutup lubang tanam (tandai larikan lubang tanam).
  6. Berikan pupuk urea 200 kg/ha, TSP 100 kg/ha, KCl 75 kg/ha. Pemberian dengan cara membuat lubang/alur sedalam 10 cm pada jarak sekitar 3-7 cm dari tanaman. Pemupukan tambahan diberikan setelah 3 minggu tanam, yaitu urea 50 kg/ha.
  7. Lakukan penyiraman setelah tanam, dan selanjutnya sesuai kondisi lahan. Bila tidak terlalu panas penyiraman dilakukan sehari cukup sekali sore atau pagi hari.
  8. Buat label setiap bedengan meliputi formasi : kelompok, tanggal tanam, jarak tanam dan varietas.
  9. Tentukan 5 tanaman sampel dan berilah tanda.
  10. Pada minggu pertama setelah pindah tanam, lakukan penyulaman ialah tindakan penggantian tanaman yang mati atau terserang hama dan penyakit diganti dengan tanaman yang baru.
  11. Penyiangan biasanya dilakukan 2-4 kali selama masa pertanaman sawi, disesuaikan dengan kondisi keberadaan gulma pada bedeng penanaman. Biasanya penyiangan dilakukan 1 atau 2 minggu setelah penanaman. Apabila perlu dilakukan penggemburan dan pengguludan bersamaan dengan penyiangan.
  12. Lakukan pengendalian bila terjadi serangan hama atau penyakit.
  13. Panen sawi sendok dilakukan pada umur sekitar 50-60 hari setelah tanam. Selain telah memasuki umur panen, juga perlu diamati terlebih dahulu fisik tanaman seperti warna, bentuk dan ukuran daun telah memenuhi kriteria panen, antara lain panjang daun sekitar 17 cm.
  14. Cara panen ada dua macam yaitu mencabut seluruh tanaman beserta akarnya dan memotong bagian pangkal batang yang berada di atas tanah dengan pisau tajam.
  15. Pasca panen sawi yang perlu diperhatikan adalah pencucian dan pembuangan kotoran serta sortasi.
  16. Amati variabel pertumbuhan seperti tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar dan bobot kering tanaman. Catat pada label pengamatan. Tinggi tanaman dan jumlah daun diamati setiap satu minggu sekali, dimulai saat pindah tanam. Sedangkan bobot segar dan bobot kering diamati setelah panen.
  17. Sedangkan untuk variabel hasil adalah bobot segar hasil panen setelah dipotong bagian pangkal batang yang berada di atas tanah.
  18. Lakukan tukar data dengan kelompok lain, sehingga apabila ada 4 kelompok, diperoleh 4 ulangan.
  19. Dibuat laporan

    IV.                   HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 A.           HASIL

JARAK TANAM 20 X 20 Cm

Ulangan 1

SAMPLE

VARIABEL PENGAMATAN

VARIABEL HASIL

MINGGU I

(31/05/2012)

MINGGU II

(7 /06/2012)

MINGGU III

(14/06/2012)

MINGGU IV

(21/06/2012)

BOBOT+AKAR (gr)

BOBOT TANPA AKAR (gr)

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

I

9.1

4

1.4

7

20.1

9

27.5

11

95.4

94

II

8

5

12.5

5

17

9

23

11

38.5

35

III

6.9

4

14.2

7

15.5

10

27.8

12

86

83.6

Rata-rata

8.00

4.33

9.37

6.33

17.53

9.33

26.10

11.33

73.30

70.87

Ulangan 2

SAMPLE

VARIABEL PENGAMATAN

VARIABEL HASIL

MINGGU I

(31/05/2012)

MINGGU II

(7 /06/2012)

MINGGU III

(14/06/2012)

MINGGU IV

(21/06/2012)

BOBOT+AKAR (gr)

BOBOT TANPA AKAR (gr)

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

I

6

3

9.5

8

16

10

19

10

33

15.5

II

6

4

10.8

9

21

14

21

19

96.5

74.5

III

5

3

7

5

15

8

20

13

38.5

22

Rata-rata

5.67

3.33

9.10

7.33

17.33

10.67

20.00

14.00

56.00

37.33

JARAK TANAM 40 X 40 Cm

Ulangan 1

SAMPLE

VARIABEL PENGAMATAN

VARIABEL HASIL

MINGGU I

(31/05/2012)

MINGGU II

(7 /06/2012)

MINGGU III

(14/06/2012)

MINGGU IV

(21/06/2012)

BOBOT+AKAR (gr)

BOBOT TANPA AKAR (gr)

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

I

9.2

5

14.2

6

16.6

8

19.3

11

63.5

59.5

II

5.6

3

10.5

7

18

11

22.5

13

118.9

101.5

III

5

4

14

9

20

10

28.4

15

143.5

133

Rata-rata

6.60

4.00

12.90

7.33

18.20

9.67

23.40

13.00

108.63

98.00

Ulangan 2

SAMPLE

VARIABEL PENGAMATAN

VARIABEL HASIL

MINGGU I

(31/05/2012)

MINGGU II

(7 /06/2012)

MINGGU III

(14/06/2012)

MINGGU IV

(21/06/2012)

BOBOT+AKAR (gr)

BOBOT TANPA AKAR (gr)

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

Tinggi

Jml Daun

I

6.1

3

11

8

17

9

20

15

62.3

57.2

II

4.7

4

11

6

18

9

23

14

82.4

76.5

III

6.4

5

8

6

15

7

21.5

15

66.4

59.6

Rata-rata

5.73

4.00

10.00

6.67

16.67

8.33

21.50

14.67

70.37

64.43

RERATA

Perlakuan

Jarak tanam 20 x 20 cm

Ulangan

Tinggi Tanaman

Jumlah Daun

BOBOT+AKAR (gr)

BOBOT TANPA AKAR (gr)

Minggu 1

1

8.00

4.33

73.30

70.87

Minggu 2

9.37

6.33

Minggu 3

17.53

9.33

Minggu 4

26.10

11.33

Rata – rata

 

15.25

7.83

73.3

70.87

Minggu 1

2

5.67

3.33

56.00

37.33

Minggu 2

9.10

7.33

Minggu 3

17.33

10.67

Minggu 4

20.00

14.00

   

13.025

8.8325

56

37.33

Perlakuan

Jarak tanam 40 x 40 cm

Ulangan

Tinggi Tanaman

Jumlah Daun

BOBOT+AKAR (gr)

BOBOT TANPA AKAR (gr)

Minggu 1

1

6.60

4.00

108.63

98.00

Minggu 2

12.90

7.33

Minggu 3

18.20

9.67

Minggu 4

23.40

13.00

Rata – rata

 

15.275

8.5

108.63

98

Minggu 1

2

5.73

4.00

70.37

64.43

Minggu 2

10.00

6.67

Minggu 3

16.67

8.33

Minggu 4

21.50

14.67

   

13.475

8.4175

70.37

64.43

Perlakuan

 

Ulangan

Tinggi Tanaman

Jumlah Daun

BOBOT+AKAR (gr)

BOBOT TANPA AKAR (gr)

Jarak tanam 20 x 20 cm

1

15.25

7.83

73.3

70.87

2

13.025

8.8325

56

37.33

Jarak tanam 40 x 40 cm

1

15.275

8.5

108.63

98

2

13.475

8.4175

70.37

64.43

INTERSPESIFIK

B.           PEMBAHASAN

Pemanfaatan potensi sumberdaya lahan setempat secara optimal bagi tujuan pembangunan pertanian berkelanjutan dan salah satunya adalah dengan penerapan teknologi pengaturan jarak tanam. Keunggulan sistem ini dapat mempengaruhi populasi tanaman, efesien dalam penggunaan cahaya, menekan perkembangan hama penyakit dan mengurangi kompetisi tanaman dalam penggunaan air dan unsur hara (Musa et.al, 2007).

Upaya peningkatan produksi tanaman perluasan tertentu dapat dilakukan dengan meningkatkan populasi tanaman dengan jarak tanam turut mempengaruhi produk-tifitas tanaman. Kerapatan atau ukuran populasi tanaman sangat penting untuk memperoleh hasil yang optimal, tetapi bisa terjadi persaingan dalam hara, air dan ruang tumbuh serta mengurangi perkembangan tinggi dan kedalaman akar tanam-an (Musa et.al, 2007).

Pengaturan populasi tanaman melalui pengaturan jarak tanam pada suatu tanaman akan mempengaruhi keefisienan tanaman dalam memanfaatkan matahari dan pesaingan tanaman dalam peman-faatan hara dan air yang pada akhirnya akan mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman Dengan pengaturan jarak tanam yang baik, maka pemanfaatan ruang yang ada bagi pertumbuhan tanaman dan kapasitas penyangga terhadap peristiwa yang merugikan dapat diefesienkan. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka perlu melakukan kajian untuk mengetahui pengaruh sistem jarak tanam terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman (Musa et.al, 2007).

Percobaan yang dilakukan dengan tujuan melihat perbedaan pengaruh jarak tanam dilakukan dengan melakukan penanaman sawi pada dua bedeng yang berbeda dimana pada bedeng pertama penanaman sawi dilakukan pada jarak tanam 20×20 cm sedangkan pada bedeng yang kedua penanaman sawi dilakukan pada jarak tanam 40×40 cm. Dilakukan penyiangan gulma tanaman dan pengambilan hama tanaman yang mengganggu sehingga pada percobaan ini perlakuan yang membedakan antara dua bedeng tersebut adalah perbedaan jarak tanam saja. Selama proses penanaman sawi dilakukan pemberian pupuk dan furadan dengan dosis yang sama pada kedua bedeng sehingga diharapkan pertumbuhan yang terjadi tidak dibedakan karena pengaruh dosis pupuk.

Selama proses praktikum didapatkan beberapa kendala di lapangan yaitu pada saat proses penyemaian benih kedtika benih sudah tumbuh terjadi etiolasi pada bibit sawi dan diduga terjadi karena bibit sawi selama penyemaian di tempatkan didalam ruangan sehingga kurang mendapatkan cahaya matahari. Setelah pemindahan bibit dari tempat penyemaian ke dalam lahan tanam ada beberapa tanaman sawi yang mati sehingga dilakukan penyulaman pada bibit tanaman sawi yang mati. Penyulamnan dilakukan pada hari ke tiga sehingga tanaman sulam diharapkan datanya masih sama dengan tanaman yang asli dan belum terjadi perbedaan data karena pengaruh perlakuan.

Dari hasil percobaan yang dilakukan didapatkan data tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot tanaman baik dengan akar ataupun tanpa akar. Dari setiap perlakuan menunjukjan hasil data yang berbeda dan dari praktikum yang dilakukan  menunjukan bahwa pada jarak tanam 40×40 cm tanaman sawi yang dihasilkan tinggi tanamannya lebih tinggi pertumbuhannya dari tanaman sawi yang ditanam pada jarak tanam 20×20 cm. Bobot sawi siap jual atau yang akarnya telah dipotong dari percobaan perlakuan jarak tanam ini juga menunjukan bahwa pada jarak tanam 40×40 cm bobot sawi yang dihasilkan lebih berat dari pada sawi yang ditanam pada jarak tanam 20×20 cm.Dari data yang diperoleh dapat diolah kedalam bentuk grafik dan dari grafik yang diperoleh menunjukan bahwa penanaman sawi pada jarak 40x40cm menghasilkan hasil tanaman yang lebih baik jika dilihat dari indicator bobot tanaman siap jual,tinggi tanaman, dan jumlah daunnya.

Dari data-data yang diperoleh dapat menunjukan persaingan intra spesifik telah terjadi pada praktikum penanaman sawi dengan dua perlakuan jarak tanam yang berbeda. Pada jarak tanaman yang rapat yaitu jarak tanam 20 x 20 cm diduga telah terjadi persaingan perebutan unsure hara pada tanaman sawi dengan tanaman sawi sekitarnya sehingga pertumbuhannya tidak lebih baik dari tanaman sawi yang ditanam pada jarak 40×40 cm yang ketika jarak tanamnya berjauhan maka kesempatan tanaman sawi untuk mendapatkan unsure hara lebih besar.

 V.         KESIMPULAN

Dari hasil percobaan persaingan intraspesifik tanaman dengan penanaman sawi pakcoy pada perlakuan  pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman sawi dapat disimpulkan telah terjadi persaingan intraspesifik tanaman dan dapat dilihat hasil data yang diperoleh yaitu tanaman sawi yang ditanam pada jarak tanam 40×40 cm berdasarkan indicator pengamatan tinggi tanaman,jumlah daun, dan bobot tanaman siap jual menunjukan data yang lebih tinggi dan hasil tanaman yang lebih baik dari tanaman sawi yang ditanam pada jarak 20x20cm.

Perbedaan jarak tanam mempengaruhi laju pertumbuhan tanaman. Semakin rapat jarak tanam maka semakin terjadi persaingan antar tanaman dan semakin lebar jarak tanam maka semakin besar kesempatan tanaman untuk memenuhi unsur hara.

DAFTAR PUSTAKA

 

Budi,Astuti.1998.Penggunaan Triakontanol dan jarak tanam pada tanaman kacang hijau.

Ewusie. 1990. Ekologi Tropika . ITB . Bandung.

http://bioryzacollage.blogspot.com/2011/04/persaingan-intra-spesifik.htmlDiposkan oleh ~WaLid~ di 03:45

http://rinaningtyasbiology.blogspot.com/2011/01/i_3079.htmlDiposkan oleh Miss.Biology di 04:58

Indriyanto.2006.Ekologi Hutan.Jakarta:Bumi Aksada

Kastono. 2005. Ilmu Gulma, Jurusan Pengantar Budidaya Pertanian. UGM. Yogyakarta.

Michael. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium. UI Press . Jakarta.

Musa Y., Nasaruddin, M.A. Kuruseng, 2007. Evaluasi produktivitas jagung melalui pengelolaan populasi ta-naman, pengolahan tanah, dan dosis pemupukan. Agrisistem 3 (1): 21 – 33.

Naughton. 1998. Ekologi Umum, edisi kedua. UGM Press . Yogyakarta.

Odum. 1993. Dasar-dasar Ekologi. UGM Press. Yogyakarta.

S.J.MC.Naughton,Larry L. Wolf.1992. Ekologi Umum. Yogyakarta: UGM-Press

Setiadi,Dede.1989.Dasar-Dasar Ekologi. Departemen Pendidikan & Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat

Wijiyanti,Fahma.2008.Penuntun Praktikum Ekologi. Fak. Sains dan Tekhnologi UIN Jakarta;


4 Komentar

  1. […] PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SAWI […]

  2. Rizal mengatakan:

    misi mbak..
    mau nanya ini Daftar Pustaka “Musa Y., Nasaruddin, M.A. Kuruseng, 2007. Evaluasi produktivitas jagung melalui pengelolaan populasi ta-naman, pengolahan tanah, dan dosis pemupukan. Agrisistem 3 (1): 21 – 33.”
    buku atau jurnal..???
    makasi mbak..

  3. -Umiie- mengatakan:

    Itu jurnal Agrisistem mz..🙂

    Makasih kunjungannya

  4. Rizal mengatakan:

    boleh tau link asli nya kaga..
    udah cari tapi ga dapat-dapat..
    saya perlu beberapa dasar teori dari situ..
    makasi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: