U_Miia04 'Blog

Beranda » ARTIKEL » II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA

Calendar

Oktober 2013
J S M S S R K
« Agu   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Like This Blog


II. TINJAUAN PUSTAKA

A.    Asal Tanaman Spinach

Spinach diduga berasal dari daerah yang dekat dengan Iran, tanaman ini telah dibudidayakan kurang lebih 2000 tahun. Di Afrika dan Eropa budidaya tanaman spinach sudah dimulai sekitar tahun 1000. Tipe liar sekerabatnya adalah S .tetranda dan S. turkestanica yang kemungkinan besar adalah nenek moyangnya (Rubatzky, 1998).


B.     Klasifikasi Tanaman Spinach

Adapun klasifikasi tanaman spinach adalah sebagai berikut (Tutin, 1993):

Kingdom       : Plantae

Sub kingdom : Tracheobionta

Super divisi    : Spermatophyta

Division         : Magnoliophyta

Class              : Magnoliopsida

Subclass         : Caryophyllidae

Order                         : Caryophyllales

Family            : Chenopodiaceae

Genus            : Spinacia

Species           : Spinacia oleracea L

C.    Botani Tanaman Spinach

Spinach (Spinacia oleracea L.) merupakan tanaman setahun yang ditanam di wilayah beriklim sedang, khusus untuk diambil daunnya. Sistem perakaran spinach terdiri atas banyak akar serabut lateral dangkal, berkembang dari akar tunggang gemuk yang memiliki beberapa akar lateral besar. Setelah fase kecambah, tanaman mencapai pola pertumbuhan roset dengan banyak daun berdaging yang melekat pada batang pendek (Rubatzky, 1998).

Jarak tanam dan kondisi lingkungan berpengaruh terhadap jumlah dan ukuran daun. Tangkai daun biasanya sama panjang dengan lebar daun dan sering menjadi berongga ketika daun telah berkembang penuh. Pola pertumbuhan daun beragam dimulai dari merayap hingga tegak, sebagian dipengaruhi oleh jarak tanam, kemiringan dan kerapatan (Rubatzky,1998).

 D.    Persyaratan iklim, tanah dan unsur hara

Spinach tumbuh baik bila suhu rata-rata 18-20 0C, pada suhu 100C pertumbuhan berlangsung lambat. Suhu juga mempengaruhi kualitasdaun, suhu rendah cenderung mempertebal daun tetapi mengurangi ukuran dari kerataannya (Pierce, 1987).

Kedinian panen berkaitan dengan laju pertumbuhan, varietas berumur genjah atau tumbuh cepat. Petani memilih varietas disesuaikan dengan kondisi pertumbuhanagar diperoleh pertumbuhan cepat dan hasil tinggi.Spinach dapat tumbuh pada berbagai macam tipe tanah, tanaman ini menyukai tanah yang dapat menahan air dengan sangat baik dan berdrainase baik. Tanamanini toleran terhadap salinitas, tetapi peka terhadap keasaman, dengan kisaran pH yang sesuai adalah 6,5-8,0. Persyaratan jarak tanam biasanya tidak terlalu tinggi karenatranspirasi berlangsung rendah selama musim dingin. Tanamanspinachbiasanya ditanam dengan jarak tanam sekitar 25 cm yang dianggap cukup untuk satu tanaman. Namun, karena sistem perakarannya dangkal, tanaman ini dapat dengan mudahtercekam akibat kelengasan yang tidak mencukupi. Tanah tergenang juga pengaruh buruk tanaman (Decoteu, 2000).

Perkecambahan benih spinach optimum pada suhu 20 0C dan perkecambahan berlangsung lebih baik pada suhu rendah (5-10 0C) dari pada suhu tinggi (25 0C), benih sering ditanam dalam barisan ganda atau dalam alur sempit (lebar 10 cm), pada guludan atau bedengan yang ditinggikan dengankedalaman 1-3 cm. Jumlah benih per hektar beragam dengan tujuan penanamanyang diiginkan. Kerapatan tanaman untuk dijual segar rata-rata sekitar 60 tanamanper m2. Tanaman untuk dijual segar jarang dijarangkan, penjarangan dilakukanpada tanaman untuk pengolahan karena memerlukan banyak tenaga kerja (Decoteau, 2000).

 E.     Cara Budidaya Tanaman Spinach

Teknik budidaya organik merupakan teknik budidaya yang aman,lestari dan mensejahterakan petani dan konsumen. MenurutSusila (2006)beberapa tahapteknik budidaya spinach (Spinachia oleracea L.)yaitu:

  1. Penanaman
    • Pengolahan tanah, pemberian pupuk dasar dan pembuatan bedengan. Pengolahan tanah untuk semua jenis spinach hampir sama. Namun untuk spinach tahunan sedikit berbeda karena memiliki akar lebih panjang dari spinach cabut sehingga pencangkulan lubang lebih dalam.
    • Pemberian pupuk dasar dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah. Bedengan penanaman dibuat dengan ukuran 1m x 5m. Sebaliknya bedengan dibuat agak tinggi untuk mencegah keluarnya benih spinachpada saat disiram. Diantara bedengan dibuat parit untuk memudahkan penyiraman.
    • Sebelum benih ditabur perlu dicampurkan dengan abu dengan perbandingan 1 bagian benih : 10 bagian abu untuk penaburan benih merata dan tidak bertumpuk-tumpuk. Benih spinachdapat ditaburkan pada guritan yang dibuat menurut barisan sepanjang bedengan dengan jarak antar barisan sekitar 20 cm. Untuk keperluan benih 1 ha sekitar 5-10 kg benih.
    • Benih yang ditabur segera ditutup tanah tipis secara merata kemudian disiram dengan menggunakan gembor penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore kecuali turun hujan.
  2. Pemeliharaan
    • Penanaman spinach biasanya dilakukan dibawah sungkup plastik untuk melindungi dari air hujan.
    • Aspek penting adalah penyiangan, penggemburan, pemberian pupuk susulan dan pengendalian hama penyakit.
    • Penyiangan dan penggemburan dilakukan 2 MST selanjutnya dua minggu sekali.
    • Menurut Bandini dan Azis (1997) mengatakan bahwa dosis pupuk kandang untuk budidaya bayam organik  sekitar 10 ton per hektar.
  3. Pemanenan
    Pemanenan dilakukan ketika tanaman telah mencapai ukuran yang layak dipasarkan. Pemanenan dapat dilakukan paling cepat 30 hari dan selambatnya 80 hari setelah tanam serta dapat mencapai 150 hari pada musim dingin. Sebagian besar tanaman yang layak panen yaitu tanaman yang sudah memiliki 5-8 daun yang telah tumbuh sempurna. Untuk dijual segar, tanaman umumnya dicabut dengan tangan atau dipotong dibawah pangkal batang. Beberapa tanaman utuh dibersihkan dari daun tua dan diikat menjadi satu ikatan dan dikemas, namun tidak semua spinach yang dipanen dijual dalam bentuk ikatan. Untuk meminimalkan kerusakan daun spinach dipanen  sudah berkurang pada sore hari ketika kesegarannya (turgiditasnya) sudah berkurang (Rubatzky,1998).

F.     Penaganan Pasca Panen

Spinach bersifat sukulen ( berair ) dan lebih mudah rusak ( perisable ) sehingga diperlukan penanganan pasca panen yang lebih baik agar kualitasnya tidak menurun. Menurut Rukmana (1983), Penanganan pasca panen spinach meliputi kegiatan pengumpulan, penyortiran , penyimpanan, pengemasan

  1. Pengumpulan
    Pengumpulan dilakukan setelah panen dengan cara meletakkan spinach di suatu tempat yang teduh agar tidak terkena sinar matahari secara langsung, karena dapat menjadikan daun layu.
  2. Penyortiran
    Penyortiran dilakukan dengan cara memisahkan spinach yang rusak dan busuk dengan spinach yang  baik dan segar, kemudian penggolongan terhadap spinach yang daunnya besar dan kecil.
  3. Penyimpanan
    Penyimpanan untuk menjaga kesegaran spinach dapat diperpanjang dari 12 jam tempat terbuka (suhu kamar) menjadi 12-14 hari dengan perlakuan suhu dingin mendekati 00 C.
  4. Pengemasan
    Pengemasan spinach dilakukan dengan membungkus spinach dengan plastik pembungkus kemudian diletakkan pada keranjang. Pengemasan dilakukan untuk melindungi kerusakan mekanik dan memudahkan dalam proses pengiriman.

G.    Pemasaran tanaman spinach

Dalam kegiatan pemasaran spinach, petani biasanya melakukan dua cara, yaitu pedagang sebagai pembeli langsung dikebun petani dan petani mengantarkan ke pelanggan di pasar tradisional dan pasar swalayan yang ada ( BPTP, 2007).

BPTP (2007) menyatakan bahwa pola pemasaran sayuran yang biasa dilakukan petani adalah:

  1. Petani – konsumen
  2. Petani – Pedagang Pengumpul Desa (PPD) – konsumen
  3. Petani – Pedagang Pengumpul Desa (PPD) – pengecer – konsumen
  4. Petani – swalayan – konsumen

Pola pemasaran petani – konsumen , petani sebagai penghasil produk langsung menjual sayurannya ke pasar tradisional yang ada dengan cara transaksi langsung dengan kosumen. Keuntungan dalam pola ini adalah sebagai penghasil produk langsung memasarkan sayurannya ke konsumen akhir, sehingga tingkat pendapatan yang diperoleh lebih tinggi.

Pola kedua, petani sebagai penghasil produk menjual ke Pedagang Pengumpul Desa (PPD) yang ada di kampung mereka. Pedagang Pengumpul Desa(PPD) langsung membawa hasil dagangannya ke pasar. Pada pola ini, Pedangang Pengumpul Desa (PPD) langsung bertindak sebagai pengecer. Pedagang ini kebanyakan mengurangi jumlah dari hasil ikatannya dengan tidak mengurangi harga yang dibeli ditingkat petani.

Pola ketiga, Pedagang Pengumpul Desa (PPD) datang membeli produk langsung di kebun setelah spinach diikat oleh petani. Pedagang Pengumpul Desa (PPD) membawa barang dagangannya ke pasar dalam daerah dan ke pasar diluar daerah tersebut kemudian dijual kepedagang pengecer dan dibeli konsumen sebagai pengguna akhir.

Pola keempat, pihak pasar swalayan yang datang langsung ke lahan petani untuk membeli produk dengan kesepakatan, produk yag dibeli lebih baik jika dibanding dengan produk yang dibeli Pedagang Pengumpul Desa (PPD). Dalam pola ini menarik untuk dilanjutkan di masa datang, yaitu dengan kesepakatan dan kewajiban antara petani sebagai penghasil adalah berkesinambungan ( continue ) dan tingkat kualitas baik dan seragam.

 H.    Pestisida Nabati Dari Biji Bengkuang

Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tumbuhan atau bagian tumbuhan seperti akar, daun, batang atau buah. Bahan-bahan ini diolah menjadi berbagai bentuk, antara lain bahan mentah berbentuk tepung, ekstrak atau resin yang merupakan hasil pengambilan cairan metabolit sekunder dari bagiantumbuhan atau bagian tumbuhan dibakar untuk diambil abunya dan digunakan sebagai pestisida (Budiman et al., 2011).

Biji bengkuang (Pachyrrizus erosus) merupakan insektisidanabati yang alami. Sebagian besarsusunan molekulnya terdiri dari karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen yang mudah terurai menjadi senyawa yang tidak membahayakan lingkungan. Biji bengkuang mempunyai kandungan lemak nabati tinggi dan kualitasnya bagus, selain itu juga mengandung rotenon tinggi (komponen: 0,5-1 % rotenol , 0,5-15 rotenoids dan saponin). Material aktif ini dapat digunakan sebagai insektisida, racun ikan, zat penolak makan dan racun kontak (Sari, 2011).

Rotenon, yang merupakan insektisida penghambat metabolisme. Semua bagian tanaman bengkuang kecuali umbi mengandung rotenon, kandungan pada batang adalah 0,03%, daun 0,11%, polong 0,02%, dan biji 0,66%. Kandungan rotenon murni pada biji yang telah masak berkisar 0,5-1,0% (Sari, 2011).

 I.       Tanaman Krinyu (Chromolaema odorata.)

Krinyu (Chromolaema odorata.) termasuk dalam familia Asteraceae, sub familia Lactucoideae dan termasuk dalam genus Chromolaena, merupakan tanaman perdu parenial dengan tinggi sampai 3 meter, bercabang banyak dan bentuk ranting bulat. Bentuk daun belah ketupat dengan pangkal menyempit sepanjang tangkai dan ujung daun runcing, umumnya bergerigi kasar, memiliki 3 urat daun yang menonjol dan bau yang tajam dari daun-daun bila dihancurkan dan duduk berhadapan dan tersebar pada batang dan ranting. Memiliki bunga majemuk dengan malai rata dan barwarna putih, terbungkus dalam bongkol dan tiap bongkol memilki 9 – 16 bunga (Steenis, 1978).

Menurut Suntoro (2001), krinyu memiliki potensial untuk digunakan sebagai pupuk organik karena tanaman krinyu memiliki kandungan kalium (K), kalsium(Ca), dan magnesium (Mg) yang tinggi, bahkan lebih tinggi dibanding dengan pupuk kandang. Tanaman ini bila dibenamkan dalam tanah sebagai pupuk hijau, akan melepaskan asam-asam organik hasil dari proses dekomposisinya. Asam-asam organik tersebut berperan aktif melepaskan unsur hara fosforus (P) sehingga meningkatkan ketersediaan P tanah untuk diserap oleh tanaman.Hasil penelitian Suntoro (2001), menunjukkan bahwa dalam waktu enam bulan krinyu mampu menyediakan biomassa sebesar 11 ton/ha.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: