U_Miia04 'Blog

Beranda » ARTIKEL » AKLIMATISASI BIBIT ANGGREK HASIL KULTUR IN VITRO

AKLIMATISASI BIBIT ANGGREK HASIL KULTUR IN VITRO

Calendar

Oktober 2013
J S M S S R K
« Agu   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Like This Blog


 

LAPORAN PRAKTIKUM

 

FLORIKULTUR DAN LANSEKAP

 

 

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Praktikum Florikultur Dan Lansekap

 

logo umby

                                                                                                               

 

Praktikan:

UMIARSIH   ( 10011001 )

 

 

 

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS AGROINDUSTRI

UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

2013

 

ACARA 2. AKLIMATISASI BIBIT ANGGREK HASIL KULTUR IN VITRO

 

2. 1. Dasar teori

Anggrek Dendrobium

Botani Tanaman

Anggrek Dendrobium merupakan jenis Anggrek asli Indonesia yang mempunyai banyak warna, bentuk dan aroma yang khas, serta bunga Anggrek Dendrobium dapat bertahan kurang lebih 2 mingguan. Anggrek Dendrobium adalah salah satu genus Anggrek terbesar yang terdapat pada dunia ini. Diperkirakan Anggrek ini terdiri dari 1600 spesies (Amalia, 2007)

Anggrek epifit mempunyai akar yang menempel pada batang atau dahan tanaman lain. Akar yang menempel umumnya berbentuk agak mendatar mengikuti bentuk permukaan batang, sedangkan rambut akarnya pendek-pendek. Akar ini mempunyai jaringan velamen yang memudahkan akar menyerap air hujan yang jatuh pada kulit pohon inang. Velamen juga berfungsi sebagai alat pernapasan. Velamen terdiri dari jaringan bunga karang dengan selubung luar berupa selaput bewarna putih dan keadaan biasa sel-selnya hanya berisi udara (Widhiastuti, dkk,2007).

Anggrek Dendrobium termasuk anggrek simpodial yaitu memiliki pola tumbuh horisontal seperti tumbuhan merambat. Batang tumbuhnya disebut rhizome. Rhizome tumbuh secara horisontal pada permukaan tanah dan akar-akarnya tumbuh disepanjang rhizome dengan arah menyamping dan membentuk batang vertikal yang disebut umbi semu (pseudobulb) (Agromedia, 2006).

Bentuk daun tanaman anggrek menyerupai jenis tanaman monokotil pada umumnya, yakni memanjang seperti pedang dan ukuran panjang daunnya bervariasi. Selain itu, daun juga mempunyai ketebalan berbeda sesuai dengan jenisnya (Ashari, 1995).

Anggrek Dendrobium yang tumbuh secara simpodial berbunga saat batang semunya telah dewasa dan dengan cadangan makanan yang memadai sehingga pembungaannya terpacu. Begitu selesai mengalami proses pembungaan, segera tumbuh tunas vegetatif baru yang akan berubah menjadi bunga setelah tunas serabut dewasa. Proses pembungaan dapat terpacu lebih cepat jika jumlah batang semu dan daun dendrobium dewasa sudah cukup banyak (Sandra, 2001).

Setelah bunga diserbuki dan dibuahi, sekitar 3-9 bulan kemudian muncul buah yang sudah tua. Kematangan buah sangat tergantung pada jenis anggreknya. Misalnya pada dendrobium akan matang dalam 3-4 bulan. Buah anggrek merupakan buah lantera, artinya buah akan pecah ketika matang. Bagian yang membuka adalah bagian tengahnya, bukan diujung atau di pangkal buah (Iswanto, 2002).

 

Syarat Tumbuh

Iklim

Secara umum dapat dikatakan bahwa Anggrek Dendrobium memerlukan sinar sebanyak 50-60 %, ini berarti bahwa jenis anggrek tersebut menyukai tipe sinar yang agak teduh. Anggrek Dendrobium merupakan jenis anggrek epifit, sehingga keteduhan yang diperlukannya diperoleh dengan selalu berada di bawah dedaunan pohon yang ditumpanginya tersebut (Gunadi, 1985).

Kelembaban nisbi (RH) yang diperlukan untuk anggrek berkisar antara 60–85%. Fungsi kelembaban yang tinggi bagi tanaman antara lain untuk menghindari penguapan yang terlalu tinggi. Pada malam hari kelembaban dijaga agar tidak terlalu tinggi, karena dapat mengakibatkan busuk akar pada tunas-tunas muda. Oleh karena itu diusahakan agar media dalam pot jangan terlampau basah. Sedangkan kelembaban yang sangat rendah pada siang hari dapat diatasi dengan cara pemberian semprotan kabut (mist) di sekitar tempat pertanaman dengan bantuan sprayer (Suhu maksimum untuk anggrek ialah 400C dan minimum 100C. suhu berhubungan erat dengan intensitas cahaya dan mempengaruhi proses asimilasi. Intensitas cahaya yang tinggi akan lebih cepat meningkatkan suhu. Proses asimilasi pada anggrek akan meningkat melampaui titik optiumnya. Pembungaan jenis anggrek tertentu dipengaruhi oleh suhu malam hari kira-kira 200 C. anggrek Cymbidium sp yang berbunga besar membutuhkan suhu malam 15 – 17 0 C. pada dendrobium, suhu malam yang tinggi menyebabkan terbentuknya anakan pada ujung batang (Ginting, 1990).

Tempat Tumbuh

Jenis-jenis tanaman anggrek berdasarkan habitat dan tempat hidupnya Dari tempat tumbuh dan habitatnya tanaman anggrek dapat dibedakan menjadi lima pengelompokan jenis,yaitu:

1.      Anggrek epifit (ephytis) adalah jenis anggrek yang menumpang pada batang/pohon lain tetapi tidak merusak/merugikan tanaman yang ditumpangi (tanaman inang). Alat yang dipakai untuk menempel adalah akarnya, sedangkan akar yang fungsinya untuk mencari makanan adalah akar udara. Anggrek epifit membutuhkan naungan dari cahaya matahari. Di habitas aslinya, anggrek ini kerap menempel dipohon-pohon besar dan rindang. Contoh anggrek epifit antara lain: Dendrobium, Cattleya, Ondocidium, dan Phalaenopsis.

2.      Anggrek semi epifit adalah jenis anggrek yang juga menempel pada pohon/tanaman lain yang tidak merusak yang ditumpangi. Pada anggrek semi epifit, selain untuk menempel pada media, akar lekatnya juga berfungsi seperti akar udara yaitu untuk mencari makanan untuk berkembang. Contoh anggrek semi epifit antara lain :Epidendrum, Leila, dan Brassavola.

3.      Anggrek tanah (anggrek terestris) adalah jenis anggrek yang hidup di atas permukaan tanah. Anggrek jenis ini membutuhkan cahaya matahari penuh atau cahaya matahari langsung. Contoh anggrek teresterial antara lain Vanda, Renanthera, Arachnis dan Aranthera.

4.      Anggrek saprofit, adalah anggrek yang tumbuh pada media yang mengandung humus atau daun-daun kering. Anggrek saprofit dalam pertumbuhannya membutuhkan sedikit cahaya matahari. Contoh jenis ini antara lain: Goodyera sp

5.      Anggrek litofit adalah jenis anggrek yang tumbuh pada batu-batuan. Anggrek jenis ini biasanya tumbuh dibawah sengatan cahaya matahari penuh. Contoh jenis ini antara lain: Dendrobium dan Phalaenopsis (Iswanto, 2002).

 

Aklimatisasi

Aklimatisasi atau penyesuaian terhadap lingkungan baru dari lingkungan yang terkendali ke lingkungan yang relatif berubah. Bibit anggrek hasil perbanyakan secara in vitro membutuhkan proses adaptasi sebelum tumbuh besar menjadi tanaman (http://lcnursery.wordpress.com, 2008).

Penyesuaian terhadap iklim pada lingkungan baru yang dikenal dengan aklimatisasi merupakan masalah penting apabila membudidayakan tanaman menggunakan bibit yang diperbanyak dengan teknik kultur jaringan. Masalah ini dapat terjadi karena beberapa faktor antara lain : 1. Pada habitatnya yang alami, anggrek epifit biasanya tumbuh pada pohon atau ranting. Oleh karena itu, pemindahan tanaman dari botol ke media dalam pot sebenarnya telah menempatkan tanaman pada lingkungan yang tidak sesuai dengan habitatnya. 2. Tumbuhan yang dikembangkan menggunakan teknik kultur jaringan memiliki kondisi lingkungan yang aseptik dan senyawa organik yang digunakan tanaman sebagian besar didapat secara eksogenous. Oleh karena itu, apabila dipindahkan kedalam pot, maka tanaman dipaksa untuk dapat membuat sendiri bahan organik secara endogenous (Adiputra, 2009).

Masa aklimatisasi merupakan masa yang kritis karena pucuk atau planlet yang diregenerasikan dari kultur in vitro menunjukan beberapa sifat yang kurang menguntungkan, seperti lapisan lilin (kutikula tidak berkembang dengan baik, kurangnya lignifikasi batang, jaringan pembuluh dari akar ke pucuk kurang berkembang dan stomata sering kali tidak berfungsi (tidak menutup ketika penguapan tinggi). Keadaan itu menyebabkan pucuk-pucuk in vitro sangat peka terhadap transpirasi, serangan cendawan dan bakteri, cahaya dengan intensitas tinggi dan suhu tinggi. Oleh karena itu, aklimatisasi pucuk-pucuk in vitro memerlukan penanganan khusus, bahkan diperlukan modifikasi terhadap kondisi linkungan terutama dalam kaitannya dengan suhu, kelembaban dan intensiitas cahaya. Disamping itu, medium tumbuh pun memiliki peranan yang cukup penting khususnya bila puucuk-pucuk mikro yang diaklimatisasikan belum membentuk sistem perakaran yang baik (Zulkarnain, 2009).

Kriteria planlet siap aklimatisasi

Adapun criteria planlet yang siap Untuk diaklimatisasi adalah sebagai berikut:

a.       Organ planlet lengkap ( akar, batang, daun )

b.      Warna pucuk batang hijau mantap artinya  tidak tembus pandang

c.       Pertumbuhannya kekar

d.      Akar memenuhi media

e.       Ukuran tinggi tanaman 3 – 4 cm  ( tergantung jenis tanaman )

f.       Umur tanaman ( anggrek 4 bulan)

Prosedur aklimatisasi  aklimatisasi

1.      Menyiapkan wadah

Wadah merupakan tempat yang brisi media tumbuh tanaman hasil kultur. Jenis wadah yang dapat digunakan meliputi ; Pot terbuat dari tanah liat atau plastik, sabut kelapa tua, tempurung kelapa tua dan batang pakis. Wadah yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

FHarus memiliki lubang pembuangan air (draenase)

FHarus memiliki kemampuan untuk mempertahankan kelembaban media tanam

FTidak mudah lapuk

FHarus bersih dan bebas dari berbagai penyakit

FMudah diperoleh dan harganya murah

2.      Menyiapkan media

Media merupakan tempat tumbuh dan berdiri tegaknya tanaman. Persyaratan Media tanam Untuk aklimatisasi adalah :

>Mampu mengikat air dan unsur hara secara baik

>Harus memiliki kemampuan untuk menjaga kelembaban

>Mempunyai aerasi yang baik

>Tahan lama /Tidak mudah lapuk

>Tidak menjadi sumber penyakit

>Derajat keasaman (pH) 5 – 6

>Mudah didapat dan harganya murah

Media yang biasa digunakan Untuk tanaman hasil kultur meliputi ; Pakis ( anggrek ), Moss, Potongan kayu pinus, Arang sekam (pisang), Pasir steril ( Jati) dan Sabut Kelapa. Sebelum digunakan media tersebut harus diseterilkan selama 4 jam agar serangga, mikroba, serta biji-bijian gulma mati.

3.      Menyiapkan tempat

Tempat yang digunakan Untuk memelihara tanaman hasil kultur harus mempunyai Intensitas cahaya matahari : 35 – 45%, Suhu : malam 18-240 C, siang 21-320 C, Ketinggian tempat : 0 – 700 meter DPL, Kelembaban : 60 – 85% dan mempunyai Aerasi / sirkulasi udara. Dalam memilih tempat harus memperhatikan hal-hal berikut :

>Lingkungan harus bersih dan bebas dari segala hama dan penyakit

>Kondisi lingkungan disesuaikan dengan kondisi tanaman: suhu, kelembaban dan cahaya

 

Media Tumbuh

Tanaman juga memerlukan akar untuk menyerap hara agar dapat tumbuh dengan baik, sehingga dalam tahap aklimatisasi ini diperlukan suatu media yang dapat mempermudah pertumbuhan akar dan dapat menyediakan hara yang cukup bagi tanaman (planlet) yang diaklimatisasi tersebut. Media yang remah akan memudahkan pertumbuhan akar dan melancarkan aliran air, mudah mengikat air dan hara, tidak mengandung toksin atau racun, kandungan unsur haranya tinggi, tahan lapuk dalam waktu yang cukup lama (Waluya, 2009).

Media harus bersifat menyimpan air dan tidak mudah memadat. Media padat menyebabkan air tergenang sehingga aerasi udara rendah. Gejala yang tampak, daun dan batang menjadi layu. Akar sehat biasanya bewarna putih dan memiliki rambut-rambut halus. Jika aerasi rendah, akar yang putih berubah jadi coklat lalu menghitam. Jumlah rambut akar berkurang bahkan tak ada. Padahal ia berfungsi untuk menyerap hara. Selain masalah aerasi, media padat juga mengundang bakteri dan cendawan penyebab busuk (www.DuniaFlora, 2008).

Pakis baik untuk media anggrek karena memiliki daya mengikat air, serta aerasi dan draenase yang baik. Pakis juga sangat awet karena melapuk secara perlahan-lahan dan mengandung unsur hara yang dibutuhkan anggrek untuk pertumbuhannya. Arang merupakan media yang cukup baik untuk digunakan karena tidak cepat lapuk dan tidak mudah ditumbuhi cendawan dan bakteri. Namun, arang sukar mengikat air dan miskin zat hara. Serabut kelapa mudah melapuk dan mudah busuk, sehingga dapat menjadi sumber penyakit tetapi daya menyimpan air sangat baik dan mengandung unsur-unsur hara yang diperlukan serta mudah didapat dan murah harganya.(Agromedia, 2006).

 

2.2. Bahan dan alat

Alat :

1.    Pinset, 

2.    Hand sprayer

3.    Pot Penampan

Bahan :

1.    Air

2.    12 plantet tanaman anggrek hasil kultur in vitro

3.    Akar pakis

4.    Arang kayu

 

2.3. Teknik pelaksanaan aklimatisasi

Adapun teknik yang digunakan dalam aklimatisasi adalah sebagai berikut :

a.       Dikeluarkan bibit dari botol

>Diisi air ke dalam bibit botolan, kocok-kocok dan membuang  air serta media agar

>Bibit dikeluarkan dari botol menggunakan pinset / kawat pengait satu persatu

>Dicuci bibit hingga bersih dari media agar

>Akar-akar yang terlalu panjang dipotong dengan gunting        

bibit anggrekpemisahan bibit                                                                

b.      Direndam bibit dalam larutan fungisida

>Bibit direndam selama 5 menit

>Ditiriskan bibit di hamparan kertas koran

>Bibit dikelompokkan berdasarkan ukurannya

perendaman bibit dalam fungisida

c.       Diisi media dalam wadah

>Media sebelum digunakan direndam dalam larutan fungisida

>Pot diisi dengan  media ¾ tinggi pot

media tanam anggrek

d.      Ditanam bibit dalam pot

>Bibit ditanam dengan bantuan pinset, letakkan secara tegak

>Bibit ditanam 8 tanaman per pot

e.       Diletakkan pot bibit dalam green house / ruang aklimatisasi

 

2.4. Hasil Pengamatan

Hasil :

Data pengamatan plantet hasil aklimatisasi :

  hasil

2.5. Pembahasan

Berdasarkan hasil praktikum kali ini dalam acara aklimatisasi Anggrek Dendrobium dapat dilihat bahwa Anggrek hasil aklimatisasi mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan, Meskipun sebagian kecil ada yang mengalami kelayuan.

Penyesuaian terhadap iklim pada lingkungan baru yang dikenal dengan aklimatisasi merupakan masalah penting apabila membudidayakan tanaman menggunakan bibit yang diperbanyak dengan teknik kultur jaringan.  Masalah ini dapat terjadi karena beberapa faktor :

1.      Pada habitatnya yang alami, anggrek epifit biasanya tumbuh pada pohon atau ranting. Oleh karena itu, pemindahan tanaman dari botol ke media dalam pot sebenarnya telah menempatkan tanaman pada lingkungan yang tidak sesuai dengan habitatnya.

2.      Tumbuhan yang dikembangkan menggunakan teknik kultur jaringan memiliki kondisi lingkungan yang aseptik dan senyawa organik yang digunakan tanaman sebagian besar didapat secara eksogenous.  Oleh karena itu, apabila dipindahkan kedalam pot, maka tanaman dipaksa untuk dapat membuat sendiri bahan organik secara endogenous.

Perbedaan faktor lingkungan antara habitat asli dan habitat pot atau antara habitat kultur jaringan dengan habitat pot memerlukan penyesuaian agar faktor lingkungan tidak melewati batas kritis bagi tanaman.  Faktor lingkungan yang diperlukan oleh anggrek Phalaenopsis menurut Deptan adalah:

1.       Temperatur 28 ± 2o C dengan temperatur minimum 15oC.

2.       Kelembaban nisbi (RH) berkisar antara 60-85%.

3.       Intensitas penyinaran adalah 30%. 

Disamping ketiga faktor tersebut, faktor lingkungan lain yang juga cukup penting terutama bagi tanaman yang baru dipindahkan dari botol adalah sirkulasi udara yang baik.

Tumbuhan adalah organisme autotrofik, mensintesa sendiri senyawa organik yang diperlukan untuk tumbuh dari senyawa anorganik.  Untuk dapat melakukan kehidupan autotrofik ini, tumbuhan dilengkapi dengan sistem penyerapan unsur hara dan sistem biosintesis yang bertugas untuk mengubah senyawa anorganik yang diserap menjadi senyawa organik. Pada tumbuhan tinggi, sistem penyerapan unsur hara biasanya berupa suatu organ yang dikenal sebagai akar dan sistem pemanenan energy sinar matahari untuk mensintesa senyawa organik karbohidrat dikenal dengan daun.  Pada beberapa spesies, sistem ini mengalami adaptasi struktur yang disesuaikan dengan lingkungan hidupnya.

Menurut Trubus (2005) ciri-ciri bibit yang berkulitas baik yaitu planlet tampak sehat dan tidak berjamur, ukuran planlet seragam, berdaun hijau segar, dan tidak ada yang menguning. Selain itu planlet tumbuh normal, tidak kerdil, komposisi daun dan akar seimbang, pseudobulb atau umbi semu mulai tampak dan sebagian kecil telah mengeluarkan tunas baru, serta memiliki jumlah akar serabut 3 – 4 akar dengan panjang 1,5 – 2,5 cm. Prosedur pembiakan dengan kultur in vitro baru bisa dikatakan berhasil jika planlet dapat diaklimatisasi ke kondisi eksternal dengan keberhasilan yang tinggi. Aklimatisasi bertujuan untuk mempersiapkan planlet agar siap ditanam di lapangan. Tahap aklimatisasi mutlak dilakukan pada tanaman hasil perbanyakan secara in vitro karena planlet akan mengalami perubahan fisiologis yang disebabkan oleh faktor lingkungan. Hal ini bisa dipahami karena pembiakan in vitro (dalam botol) semua faktor lingkungan terkontrol sedangkan di lapangan faktor lingkungan sulit terkontrol (Herawan, 2006; Yusnita, 2004).

Di dalam botol kultur, kelembapan hampir selalu 100%. Aklimatisasi merupakan tahap kritis karena kondisi iklim mikro di rumah kaca, rumah plastik, rumah bibit, dan lapangan sangat jauh berbeda. Kondisi di luar botol berkelembapan nisbi jauh lebih rendah, tidak aseptik, dan tingkat intensitas cahayanya jauh lebih tinggi dari pada kondisi di dalam botol.planlet atau tunas mikro lebih bersifat heterotrofik karena sudah terbiasa tumbuh dalam kondisi berkelembaban sangat tinggi, aseptik, serta suplai hara mineral dan sumber energi berkecukupan.

Pada tahap ini (aklimatisasi) diperlukan ketelitian karena tahap ini merupakan tahap kritis dan seringkali menyebabkan kematian planlet. Pada praktikum kali ini diperoleh tanaman anggrek hidup semua meskipun agak layu karena kurang penyiraman.

Kondisi mikro planlet ketika dalam botol kultur adalah dengan kelembaban 90-100 %. Beberapa sumber menuliskan penjelasan yang berkaitan dengan hal tersebut. Bibit yang ditumbuhkan secara in vitro mempunyai kutikula yang tipis dan jaringan pembuluh yang belum sempurna. Kutikula yang tipis menyebabkan tanaman lebih cepat kehilangan air dibanding dengan tanaman yang normal dan ini menyebabkan tanaman tersebut sangat lemah daya bertahannya. Walaupun potensialnya lebih tinggi, tanaman akan tetap menjadi layu karena kehilangan air yang tidak terbatas. Kondisi tersebut menyebabkan tanaman tidak dapat langsung ditanam dirumah kaca

Disamping itu, tanaman tersebut memperlihatkan gejala ketidaknormalan, seperti bersifat sangat sukulen, lapisan kutikula tipis, dan jaringan vasikulernya tidak berkembang sempurna, morfologi daun abnormal dengan tidak berfungsinya stomata sebagaimana mestinya, struktur mesofil berubah, dan aktivitas fotosintesis sangat rendah.

Aklimatisasi dilakukan dengan mengkondisikan planlet dalam media pengakaran ex vitro. Media yang kita gunakan dalam proses aklimatisasi pada anggrek  adalah pakis dan arang kayu. Selain itu juga kelembapan tempat aklimatisasi di atur tetap tinggi pada minggu pertama, menurun bertahap pada minggu–minggu berikutnya hingga tumbuh akar baru dari planlet. Cahaya diatur dari intensitas rendah, meningkat secara bertahap. Sebaiknya suhu tempat  aklimatisasi dijaga agar tidak melebihi 32oC.

 

2.6. Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum Aklimatisasi Bibit Anggrek Hasil Kultur In Vitro diperoleh hasil sebagai berikut:

1.      Kurangnya perawatan pada tanaman anggrek hasil kultur jaringan, menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak efektif, kurang nutrisi, dan air.

2.      Tanaman tidak dapat menyesuaikan diri untuk bertahan sehingga ada sebagian yang layu, tapi kemungkinan besar masih bisa hidup dibandingkan dengan tanaman yang dirawat di greenhause.

3.      Suhu tempat  aklimatisasi dijaga agar tidak melebihi 32oC dan cahaya juga menjadi faktor penting dalam aklimatisasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Adriana. 2010. Aklimatisasi Anggrek. http://kasopondok.blogspot.com/2010/03/aklimatisasi-anggrek.html 24 Januari 2013

Chapter II.pdf – USU Institutional Repositoryhttp://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20928/4/Chapter%20II.pdf diakses pada 28 Januari 2013

Gunardi, Tom. 1985. Anggrek untuk pemula. Penerbit Angkasa, Bandung.

Juliatri, Dian. 2010. Aklimatisasi Planlet Anggrek http://mynameisdianjuliatri.blogspot.com/2010/01/aklimatisasi-planlet-anggrek.html

Luri, S. 2011. Tahapan-Tahapan dalam Kultur Jaringan .http://kultur- jaringan.blogspot.com/2009/08/tahapan-tahapan-kultur-jaringan.htmlDiakses: 23 Juni 2012

Rahardja, PE. 1988. Kultur Jaringan Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Modern . Penebar Swadaya. Jakarta.

Sulistyowati , Ayu . 2012. Aklimatisasi http://ayusulistyowati.blogspot.com/2012/01/aklimatisasi.html 23 Januari 2013

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: