U_Miia04 'Blog

Beranda » ARTIKEL » B. PEMBAHASAN Lanjutan

B. PEMBAHASAN Lanjutan

Calendar

Oktober 2013
J S M S S R K
« Agu   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Like This Blog


2. Kajian Teknik

Salah satu jenis tanaman sayuran yang di budidayakan di Kelompok Tani Tranggulasiadalah spinach ( Spinacia oleracea ). Kebutuhan spinach yang harus dipenuhi per bulannya yaitu 500-700 kg/ bulan. Data total pengiriman sayur per tanggal 31 Agustus 2012 sejumlah 0,5 ton. Adapun harga spinach per tanggal 31 April  2013 yaitu Rp. 11.000,00/ kg. Untuk harga spinach yang diekspor Rp. 17.500,00 /kg.

Adapun luasan lahan yang digunakan untuk berbudidaya sayuran secara organik seluas 16.5 ha, sedangan lahan yang digunakan untuk budidaya spinach organik pada saat ini hanya sekitar 600 m2. Pada lahan 600 m2 tersebut digunakan 2 macam teknik budidaya yang berbeda. Lahan tersebut dibagi menjadi 2 dimana 500m2 digunakan untuk budidaya spinach yang akan di ekspor dengan kriteria umur kurang dari 35 hari. Sedangkan untuk 100 m2 digunakan untuk membudidayakan spinach untuk memenuhi kebutuhan lokal, sehingga umur panen sesuai dengan ketentuan yang berlaku yaitu dipanen pada saat umur 35 – 40 hari.

Dalam pelaksanaan produksispinachselalu mengutamakan kualitas produk. Adapun teknik budidaya spinach secara organik dilakukan sudah sesuai dengan SOP sehingga dapat dikatakan bahwa teknik budidaya spinach sesuai dengan standar yang berlaku sehingga produk yang dihasilkan benar-benar dapat dipertanggung jawabkan keorganikannya, bermutu, berdaya saing, aman dikonsumsi, ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Dalam menentukan lokasi tanam di sesuaikan dengan persyaratan tumbuhnya. Menurut Pierce (1987), Suhu yang baik untuk perkembangan tanaman spinach yaitu 18-20 0 C, dirasa persyaratan suhu tersebut sudah terpenuhi karena suhu minimal di Desa Batur rata-rata 18-20 0 C. Adapun lahan yang digunakan bebas dari cemaran limbah beracun. Kelompok Tani Tranggulasi ini mulai menanam sayuran secara organik dimulai sejak tahun 1999 dan baru tahun 2004 memproklamirkan pertanian  organik ke publik. Sehingga dapat dikatakan bahwa jangka waktu konversi lahan telah diterapkan di kelompok tani ini. Selain itu hasil panen selama masa konversi tersebut belum berani dikatakan sebagai produk organik. Adapun tujuan dari konversi lahan ini yaitu untuk membersihkan tanah dari sisa-sisa residu pupuk dan bahan-bahan kimia sintetik lainnya sebelum lahan tersebut digunakan untuk budidaya sayuran organik.

Dalam pertanian organik, umumnya hama hanya menyerang daun tua saja, berbeda halnya dengan konvensional, dimana hama menyerang daun muda. Musuh alami sangat diperlukan dalam pertanian organik untuk mengendalikan hama selain pestisida nabati. Pengendalian hama dan penyakit dilaksanakan secara terpadu dengan menggunakan semua elemen pengendalian yaitu cara mekanis dilakukan dengan cara mengambil hama yang menyerang tanaman dan membersihkan bagian tanaman yang terserang penyakit, cara biologis dilakukan dengan cara memanfaatkan musuh alami baik predator, parasit maupun patogen, menggunakan pestisida nabati yang berfungsi sebagai insektisida, fungisida dan bakterisida.

Pencegahan dan pemberantasan hama merupakan tindakan perlindungan tanaman dari ancaman kerusakan yang ditimbulkan. Denganteknologi pertanian yang diterapkan yaitu dengan pestisida nabati Ces Pleng (CP) yang dibuat sendiri, setidaknya telah berhasil mengurangi kehilangan hasil dibawah ambang kerugian secara ekonomi.Meskipun teknologi yang telah ada tersebut belum 100% mampu menghilangkan hama tanaman. Dalam pengaplikasiannya tidak menemui masalah atau kesulitan yang begitu berarti, selain keadaan alam /musim (agroklimatologi). Untuk hal tersebut kita dapat menggunakan peramalan cuaca dan ketepatan kapan kita mulai menanamdan sebagainya.Bahan yang digunakan untuk pestisida yaitu biji dari bengkuang yang mempunyaikandungan zat Pachyrrizid (Rotenoid). Adapun fungsi zat tersebut sebagai Insektisida yang bekerja sebagai racun yang menghambat metabolisme dan sistem saraf  yang bekerja perlahan.

Teknik budidayalain yang membedakan yaitu dalam pembuatan lubang pemupukan. Di Kelompok Tani Tranggulasi dilakukan dengan cara mencangkul bedengan sedalam 30 cm untuk tempat pupuk sedangkan pada teknik budidaya lainnya pupuk dasar disebar merata pada saat pengolahan lahan (Susila, 2006). Untuk kebutuhan pupuk kandang di Kelompok Tani Tranggulasi per 1000 m2 diperlukan pupuk kandang ± 4,5 ton atau 45 ton per hektar.  Hal ini sangat jauh bila dibandingkan dengan pustaka, Bandini (1997) mengatakan bahwa dosis pupuk kandang untuk budidaya bayam organik sekitar 10 ton per hektar. Pemupukan dasar yang diberikan pada lubang pemupukan tersebut dapat digunakan untuk 4 periode tanam. Sedangkan untuk pemupukan dasar pada teknik budidaya pada umumnya hanya digunakan untuk 1 kali periode tanam saja.

Pada pengolahan lahan di kelompok tani ini dilakukan juga penyebaran krinyu diatas pupuk dasar dan penyemprotan power.Untuk cacahan krinyu yang digunakan hanya bagian batang, ranting dan daunnya saja, bagian akar tidak digunakan karena akan memicu tumbuhnya tanaman krinyu sebagai gulma. Krinyu ini digunakan sebagai pengganti pupuk kimia.

Adapun peran biomasa krinyu terhadap sifat fisik tanah diantaranya untuk meningkatkan kemampuan tanah menahan air, warna tanah menjadi coklat hingga hitam, merangsang granulasi agregat dan memantapkannya, meningkatkan populasi mikroorganisme tanah.

Adapun peran biomasa krinyu terhadap sifat kimia tanah diantaranya meningkatkan daya jerap dan kapasitas tukar kation (KTK). Peningkatan KTK menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur- unsur hara.Biomasa krinyu mampu menyumbangkan unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman, seperti N, P, K, Cu dan Zn. Menurut hasil penelitian Handayani, Prawito dan Muktamar (2002) menyatakan bahwa seresah krinyu mengandung (C = 32.50 %, N = 1.72 %, C/N = 32.94, Protein = 24.40 %, lignin = 8.3 %, dan selulosa = 26,43 %). Selain itu juga, menurut penelitian Suntoro dkk. (2005) pangkasan krinyu dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik untuk meningkatkan ketersediaan P, K, Ca, Mg dan N dimana  biomasanya mengandung hara N = 2.65 %, P = 0.53 %, K = 1.9 %. Ditambah hasil penelitian Ahmadi (2007) kompos krinyu mengandung  C = 23.54 %, N = 3.58 %, C/N = 9, P = 1.37 %, K = 1.87 %, Cu = 13.3 ppm, dan Zn = 1.3 ppm.

Selain itu biomasa krinyu juga berperan terhadap sifat biologi tanah yaitu dengan meningkatkan jumlah dan aktivitas metabolik organisme pada tanah. Secara umum, pemberian biomasa krinyu sebagai bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme. Adapun kegiatan jasad mikro dalam membantu dekomposisi bahan organik juga akan meningkat. Bahan organik segar yang ditambahkan ke dalam tanah akan dicerna oleh berbagai jasad renik yang ada dalam tanah dan selanjutnya didekomposisisi jika faktor lingkungan mendukung terjadinya proses tersebut.

Power diberikan dengan tujuan untuk mempercepat proses pelapukan dan mempercepat degradasi krinyu dan pupuk kandang. Power ini juga berfungsi sebagai ZPT, Fermentor dan Pupuk. Untuk waktu aplikasinya sebaiknya dibawah jam 10 pagi dan diatas jam 6 pagi. Baru selanjutnya penutupan bedengan. Jadi terlihat perbedaan yang sangat mendasar pada teknik budidaya di Kelompok Tani Tranggulasi ini dengan teknik budidaya pada umumnya.

Kegiatan pembibian spinach untuk  memenuhi kebutuhan lokal di Kelompok Tani Tranggulasi dilakukan dengan 3 cara yang berbeda yaitu dengan menebar benih secara alur di bak persemaian, mengempal bibit ketika berumur ± 2 minggu dan persemaian menggunakan polibag. Ketiga perlakuan tersebut, masing – masing mempunyai kelemahan maupun keuntungan sendiri – sendiri. Tujuan dari pengempalan tanah pada akar benih ini yaitu untuk menggantikan fungsi dari polibag.Ketikadilakukan pindah tanam bibit tersebut akan mudah melakukan penyesuaian diri dengan lahan budidaya. Sehingga menghemat tenaga untuk pengisian polibag dan lebih murah karena tidak memerlukan biaya untuk pembelian polibag kecil. Untuk penyemaian di bak polibag saja dan langsung yang dilakukan pindah tanam kelemahannya akan membutuhkan banyak bibit karena dimungkinkan bibit banyak yang mati karena sulit beradaptasi. Cara ini adalah cara yang paling mudah namun memiliki resiko yang lebih tinggi dibanding dengan 2 cara yang lain. Penyemaian dipolibag dirasa mempunyai keuntungan yang sama dengan teknik pengempalan bibit menggunakan tanah namun dengan menggunakan polibag dirasa membutuhkan biaya yang sedikit mahal dibanding ke 2 teknik yang lain. Dengan berbagai penjelasan tersebut, cara yang sering digunakanpetani mengingat efektivitas dan efisien waktu maupun tenaga yang dibutuhkan untuk melakukan penyemaian benih spinach yaitu menggunakan cara pengempalan bibit menggunakan tanah.

Penanaman yang dilakukan Kelompok Tani Tranggulasi ini dibagi menjadi 2 macam teknik penanaman. Hal tersebut dikarenakan kebutuhan dan permintaan pasar yang berbeda. Untuk baby spinach dilakukan dengan cara menabur benih pada barisan yang telah dibuat. Hal tersebut berbeda dengan pernyataan Susila (2006), yang menyatakan bahwa benih yang akan ditabur perlu dicampurkan dengan abu dengan perbandingan 1 bagian benih : 10 bagian abu untuk penaburan benih merata dan tidak bertumpuk-tumpuk. Di Kelompok Tani Tranggulasi benih spinach yang akan di tanam untuk kebutuhan ekspor bukan disebar melainkan ditata satu persatu.

Dengan adaya kelompok tani ini menjadikan anggota merasa diuntungkan dengan adanya penaikan nilai jual. Harga Spinach yang dijual di pasar lokal yaitu Rp.7.000,00/kg sedangkan bila dijual di Kelompok Tani seharga  Rp. 11.000,00/ kg (per tanggal 31 April  2013)Dengan adanya Kelompok Tani ini menjadikan anggota merasa diuntungkan dengan adanya penaikan nilai jual. Harga Spinach yang dijual di pasar lokal yaitu Rp.7.000,00/kg sedangkan bila dijual di Kelompok Tani seharga  Rp. 11.000,00/ kg (per tanggal 31 April  2013)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: