U_Miia04 'Blog

Beranda » ARTIKEL » BUDIDAYA TANAMAN JAHE

BUDIDAYA TANAMAN JAHE

Calendar

Oktober 2013
J S M S S R K
« Agu   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Like This Blog


  1. I.         PENDAHULUAN

 

  1. A.      Latar Belakang

Jahe merupakan salah satu tanaman yang memiiki banyak sekali manfaat dan fungsi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Telah lama di negara Indonesia mengenal tanaman jahe. Dari zaman sebelum masa penjajahan, Indonesia adalah salah satu negara pengahasil rempah-rempah yang sangat baik kwalitasnya di dunia,salah satu rempah rempah tersebut  adalah jahe. Tanaman jahe sangat baik tumbuh dan berkembang d Indonesia. Karena tanah dan iklim yang cocok, curah hujan yang cukup dapat menunjang pertumbuhan jahe dengan baik.

Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah yang subur, gembur dan banyak mengandung humus. Tekstur tanah yang baik adalah lempung berpasir, liat berpasir. Tanah di Indonesia memiliki tesktur tanah yang gembur dan memiliki kandungan humus yang besar, karena di Indonesia banyak memiliki gunung berapi yang limpahan dan luberan dari gunung merapi mengandung banyak humus.  Jahe  tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0- 2.000 m dpl Di Indonesia pada umumnya ditanam pada ketinggian 200 – 600 m dpl. Rata-rata lahan pertanian di Indonesia sekitar 10-2000 m dpl,jadi sangat cocok dalam budidaya tanaman jahe.

Karena jahe memiliki syarat hidup yang cocok di Indonesia dan perawatan yang mudah,banyak pekarangan rumah  yang di tanami jahe sebagai tanaman herbal. Jahe dimanfaatkan untuk salah satu bumbu dapur atau pun untuk obat tradisional seperti jamu. Jahe biasa di tanam di pekarangan rumah dengan sistem  tumpang sari yang di campur dengan tanaman sayur lainnya. Jadi pekarangan keluarga dapat dijadikan taman herbal yang memiliki banyak fungsi,juga dapat memperindah pekaranga rumah. Karena kebutuhan akan komoditas jahe tiap tahun meningkat dan harga jahe juga stabil, maka para petani di Indonesia dapat menggunakan jahe untuk komoditas pertanian yang akan di budidayakan.  Kebutuhan akan jahe meningkat di karenakan mulai berkembangnya usaha-usaha kecil sampai menengah yang menggunakan jahe sebagai produk olahan’nya. Seperti usaha dodol jahe yang sekarang lagi  banyak di minati karena memiliki pasar yang luas. Selain itu juga usaha pembuatan minuman tradisional,usaha jamu, bumbu-bumbu masakan yang instan, juga untuk obat-obat tradisional yang di kemas secara modern.

Jahe merupakan salah satu komoditas ekspor yang sangat digemari di kawasan eropa dan jepang serta harga komoditas ini bisa melambung d kawasan internasional, jadi sangat menggiurkan bila kita usaha dalam budidaya jahe putih pada khususnya. Serta dapat menambah devisa bagi negara. Dari deskripsi di atas, maka kelompok kami memilih jahe untuk dijadikan acuan dalam pemilihan komoditas yang terdapat di laporan kami.

 

  1. B.     Tujuan

Tujuan dari praktikummata kuliah tanaman rempah dan obat acara Budidaya Jahe adalah agar praktikan (mahasiswa) dapat mengetahui cara budidaya tanaman jahe dengan baik dan benar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. II.      TINJAUAN PUSTAKA
  2. A.    Sejarah Singkat

Jahe merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak dan obat-obatan tradisional. Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae), se-famili dengan temu-temuan lainnya seperti temu lawak (Cucuma xanthorrizha), temu hitam (Curcuma aeruginosa), kunyit (Curcuma domestica), kencur (Kaempferia galanga), lengkuas (Languas galanga) dan lain-lain. Nama daerah jahe antara lain halia (Aceh), beeuing (Gayo), bahing (Batak Karo), sipodeh (Minangkabau), jahi (Lampung), jahe (Sunda), jae (Jawa dan Bali), jhai (Madura), melito (Gorontalo), geraka (Ternate), dsb.

 

  1. B.  Uraian Tanaman

Jahe(Zingiber officinale), adalah tanaman rimpang yang sangat populer sebagai rempah-rempah dan bahan obat. Rimpangnya berbentuk jemari yang menggembung di ruas-ruas tengah. Rasa dominan pedas disebabkan senyawa keton bernama zingeron.

Klasifikasi

Divisi                    : Spermatophyta

Sub-divisi             : Angiospermae

Kelas                    : Monocotyledoneae

Ordo                     : Zingiberales

Famili                   : Zingiberaceae

Genus                   : Zingiber

Species                 : Zingiber officinale

 

  1. C.    Deskripsi

Jahe (Zingiber officinale Rosc) adalah tanaman yang tumbuh tegak  berbatang semu, tinggi 30 cm sampai 1 m, rimpang bila dipotong berwarna kuning atau jingga. Daun sempit, panjang 15 – 23 mm, lebar 8 – 15 mm ; tangkai daun berbulu, panjang 2 – 4 mm ; bentuk lidah daun memanjang, panjang 7,5 – 10 mm, dan tidak berbulu; seludang agak berbulu. Perbungaan berupa malai tersembul dipermukaan tanah, berbentuk tongkat atau bundar telur yang sempit, 2,75 – 3 kali lebarnya, sangat tajam ; panjang malai 3,5 – 5 cm, lebar 1,5 – 1,75 cm ; gagang bunga hampir tidak berbulu, panjang 25 cm, rahis berbulu jarang ; sisik pada gagang terdapat 5 – 7 buah, berbentuk lanset, letaknya berdekatan atau rapat, hampir tidak berbulu, panjang sisik 3 – 5 cm; daun pelindung berbentuk bundar telur terbalik, bundar pada ujungnya, tidak berbulu, berwarna hijau cerah, panjang 2,5 cm, lebar 1 – 1,75 cm ; mahkota bunga berbentuk tabung 2 – 2,5 cm, helainya agak sempit, berbentuk tajam, berwarna kuning kehijauan, panjang 1,5 – 2,5 mm, lebar 3 – 3,5 mm, bibir berwarna ungu, gelap, berbintik-bintik berwarna putih kekuningan, panjang 12 – 15 mm ; kepala sari berwarna ungu, panjang 9 mm ; tangkai putik 2

 

  1. D.    Jenis Tanaman

Jahe dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya. Umumnya dikenal 3 varietas jahe, yaitu :

  1. Jahe putih/kuning besar atau disebut juga jahe gajah atau jahe badak Rimpangnya lebihbesar dan gemuk, ruas rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jaheini bias dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segarmaupun jahe olahan.
  2. Jahe putih/kuning kecil atau disebut juga jahe sunti atau jahe emprit Ruasnya kecil, agakrata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua.Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas,disamping seratnya tinggi. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau untuk diekstrakoleoresin dan minyak atsirinya.
  3. Jahe merah. Rimpangnya berwarna merah dan lebih kecil dari pada jahe putih kecil samaseperti jahe kecil, jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga memiliki kandungan minyakatsiri yang sama dengan jahe kecil, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan.

 

  1. E.     Manfaat Tanaman

Rimpang jahe dapat digunakan sebagai bumbu masak, pemberi aroma dan rasa padamakanan seperti roti, kue, biskuit, kembang gula dan berbagai minuman. Jahe juga dapatdigunakan pada industri obat, minyak wangi, industri jamu tradisional, diolah menjadi asinanjahe, dibuat acar, lalap, bandrek, sekoteng dan sirup. Dewasa ini para petani cabemenggunakan jahe sebagai pestisida alami. Dalam perdagangan jahe dijual dalam bentuk segar, kering, jahe bubuk dan awetan jahe.

Disamping itu terdapat hasil olahan jahe seperti:minyak astiri dan koresin yang diperoleh dengan cara penyulingan yang berguna sebagaibahan pencampur dalam minuman beralkohol, es krim, campuran sosis dan lain-lain.

Adapun manfaat secara pharmakologi antara lain adalah sebagai karminatif (peluruh kentut),anti muntah, pereda kejang, anti pengerasan pembuluh darah, peluruh keringat, anti inflamasi,anti mikroba dan parasit, anti piretik, anti rematik, serta merangsang pengeluaran getahlambung dan getah empedu.

 

  1. F.     Sentra Penanaman

Terdapat di seluruh Indonesia, ditanam di kebun dan di pekarangan. Pada saat ini jahe telah banyak dibudidayakan di Australia, Srilangka, Cina, Mesir, Yunani, India, Indonesia, Jamaika, Jepang, Meksiko, Nigeria, Pakistan. Jahe dari Jamaika mempunyai kualitas tertinggi, sedangkan India merupakan negara produsen jahe terbesar, yaitu lebih dari 50 % dari total produksi jahe dunia.

 

  1. G.    Syarat Pertumbuhan

Iklim

  1. Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relatif tinggi, yaitu antara 2.500-4.000 mm/tahun.
  2. Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih tanaman jahe memerlukan sinar matahari.
  3. Dengan kata lain penanaman jahe dilakukan di tempat yang terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari.
  4. Suhu udara optimum untuk budidaya tanaman jahe antara 20-35 oC.

Media Tanam

  1. Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah yang subur, gembur dan banyakmengandung humus.
  2. Tekstur tanah yang baik adalah lempung berpasir, liat berpasir dan tanah laterik.
  3. Tanaman jahe dapat tumbuh pada keasaman tanah (pH) sekitar 4,3-7,4. Tetapi keasamantanah (pH) optimum untuk jahe gajah adalah 6,8-7,0.

Ketinggian Tempat

  1. Jahe tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0 – 2.000 m dpl.
  2. Di Indonesia pada umumnya ditanam pada ketinggian 200 – 600 m dpl.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III. METODE PRAKTIKUM

 

  1. A.    Tempat dan waktu pelaksanaan

Praktikum budidaya tanaman jahe  ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Agroteknologi, Fakultas Agroindustri Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

  1. B.     Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan :

  1. Bibit jahe
  2. Pupuk kandang
  3. Pupuk TSP
  4. Pupuk Urea
  5. Pupuk SP36

Alat yang digunakan:

  1. Cangkul
  2. Ember
  3. Cetok
  4. Garu

 

  1. C.    Cara Kerja
    1. Pembibitan
      1. bibit dipilih yang memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologis dan mutu fisik.bibit lama
      2. pilih bibit jahe baru dan bibit baru yang memenuhi syarat tersebut, dari tanaman yang sehat, kulit rimpang tidak terluka.
      3.  potong jahe yang telah dipilih menjadi bagian kecil memiliki sekitar 3-5 mata tunas.
      4. Pengolahan media tanam
        1. persiapan lahan

untuk mendapatkan hasil panen yang optimal harus diperhatikan syarat-syarat tumbuh yang dibutuhkan tanaman jahe.

  1. pembukaan lahan

pengolahan tanah dengan dibajak sedalam kurang lebih 30 cm dengan tujuan untuk mendapatkan kondisi tanah yang gembur atau remah dan membersihkan dari tanaman penganggu.pengolahan lahan budidaya jahe

  1. pembentukan bendengan

bedengan yang di buat dengan ukuran 3 meter x 2 meter dan di ratakan dengan cangkul. Tanah juga di gemburkan supaya halus agar mempermudah untuk menanam.

  1. Teknik penanaman
    1. pembuatan jarak tanam

pengukuran dengan menggunakan rafia, di buat dengan jarak tanam 40 cm x 20 cm.

  1. pembuatan lubang tanam

untuk menghindari pertumbuhan jahe yang jelek, karena kondisi air tanah yang buruk maka di buat bedengan , dan masing-masing kelompok mendapatkan 2 bedengan. Selanjutnya buat lubang-lubang kecil sedalam 3 cm – 7,5 cm untuk menanam bibit.

  1. cara penanaman

cara penanaman dilakukan dengan cara melekatkan bibit rimpang secara rebah ke dalam lubang tanam yang telah di siapkan dan di beri furadan pada saat penanaman.penanaman

  1. Pemiliharaan tanaman
    1. penyulaman

sekitar 2 – 3 minggu setelah tanam, hendaknya diadakan untuk melihat rimpang yang mati.

  1. penyiangan

penyiangan di lakukan pada saat praktikum dengan pengamatan langsung, jangan sampai tanaman penganggu yang menonjol pada bedengan tersebut sehinnga tidak mengalahkan pertumbuhan jahe tersebut.

  1. pembubunan

tanaman jahe memerlukan tanah yang peredarann udara dan air dapat berjalan dengan baik, maka tanah harus digemburkan. Disamping itu tujuan pembubunan untuk menimbun rimpang jahe yang kadang- kadang muncul keatas permukaan tanah. Apabila tanaman jahe masih muda, cukup tanah di cangkul tipis disekeliling rumpun dengan jarak kurang lebih 30 cm.

  1. Pemupukan
  2. Pengairan dan penyiraman

Tanaman jahe tidak memerlukan air yang terlalu banyak untuk pertumbuhannya.

  1. Pengamatan

Dilakukan setiap praktikum di amati tanaman jahe yang tumbuh tunasnya dan di catat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.    Hasil

Deskripsi Bibit baru :

  1. Berat 111,5 gram
  2. Jumlah mata tunas sedikit
  3. Kadar air banyak
  4. Ukuran tidak seragam
  5. Aroma tajam
  6. Kulit terlihat segar

 

Deskripsi Bibit lama :

  1. Berat 55 gram
  2. Jumlah mata tunas banyak
  3. Kadar air sedikit
  4. Ukuran tidak seragam
  5. Aroma tidak tajam
  6. Kulit terlihat layu

No

Pertumbuhan

Bibit Baru

Bibit Lama

1 1 tanaman Tidak ada (0%)

  1. B.     Pembahasan

Praktikum mata kuliah acara budidaya jahe ini dilakasanakan di Kebun Percobaan Agroteknologi, Fakultas Agroindustri Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Pada praktikum ini dilaksanakan menggunakan bahan yaitu bibit jahe dengan dua tipe yaitu bibit yang masih baik dari segi tampilan dan umurnya dan bibit yang memiliki umur lebih atau melewati masa tanam optimal. Melalui pembandingan ini diharapkan memberikan hasil yang berbeda pula atau bahkan memiliki hasil panen yang sama sehingga praktikan mengetahui jangka waktu maksimal penyimpanan bibit jahe tersebut.

Pada praktikum ini meliputi beberapa tahapan dalam penanamannya yaitu persiapan lahan dengan menyiapkan lahan sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan dengan ukuran bedengan 2×3 dilanjutkan dengan pembersihan gulma dari bedengan tersebut, setelah bedengan bersih kemudian pemupukan per bedengan dan kemudian diteruskan dengan pembuatan lubang tanam sesuai dengan jarak tanam yang telah diberikan yaitu 2×3 setelah lubang tanam dibuat lalu dilakukan penanaman oleh praktikan. Setelah penanaman selesai dilakukan penyiraman dan penyulaman bila terdapat tanaman yang tidak tumbuh dalam 1 MST.

Penyulaman dilakukan apabila terdapat tanaman yang tidak tumbuh atau hidup pada 1 MST yang biasanya dikarenakan oleh hama pengganggu atau keadaan cuaca yang tidak mendukung kehidupan bibit tersebut, seperti hujan yang menyebabkan bibit menjadi busuk atau ayam yang biasanya ikut mengganggu kehidupan jahe tersebut. Tahapan berikutnya dalam budidaya tanaman jahe adalah perawatan yaitu meliputi penyiangan gulma, penyiraman apabila tanaman kekurangan air dan pemupukan.

Praktikum diakhiri dan idealnya jahe masih dalam masa pertumbuhan, berdasarkan data lapangan menunjukan bahwa semua tanaman tidak tumbuh dikarenakan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi seperti cuaca pada saat masa pertumbuhan, perawatan yang kurang maksimal dan bibit yang kurang terlalu baik.

Pada saat praktikum dilaksanakan yaitu pada saat penanaman bisa dikatakan curah hujan tidak terlalu tinggi atau bisa dikatakan lahan dalam keadaan kering yang mana perlu dilakukan penyiraman sesuai dengan kebutuhan lahannya. Dalam awal pertumbuhan jahe memerlukan air yang cukup banyak untuk mengaktifkan hormon-hormon yang menunjang perakaran dan penunasan, penyediaan air yang kurang saat awal tanam menyebabkan tanaman tidak mampu tumbuh, karena bibit yang ditanam dilapangan telah terpapar lama oleh pengaruh suhu lingkungan yang cukup tinggi karena musim kemarau sehingga dapat menyebabkan kadar air bibit berkurang dan endosperm mati. Keadaan lahan yang mana kecepatan tumbuh gulmanya bisa dikatakan relatif cepat sehingga terjadi faktor kompetisi perebutan makanan oleh tanaman tinggi bila tidak dilakukan penyiangan yang berkala. Faktor kecepatan daya tumbuh gulma ini bisa disebabkan oleh riwayat lahan yang telah mendapatkan hara yang cukup tinggi dari budidaya tanaman sebelumnya. Gulma tertentu dapat mengeluarkan senyawa alelopat sehingga ini juga dapat menjadi faktor penghambat pertumbuhan jahe. Bisa dikatakan hara yang ada pada tanah mungkin relatif tinggi namun hara yang tersedia atau dapat diserap oleh tanaman belum tentu tersedia cukup banyak dimana gulma yang didominasi oleh rumput tekian memiliki umbi yang banyak berada ditanah yang ada sebelum tanaman jahe ditanam sehingga terhambatnya pertumbuhan jahe dapat disebabkan oleh faktor gulma dan cuaca tersebut.

Faktor selanjutnya adalah bibit, pada praktikum kali ini digunakan bahan tanam bibit jahe yang bagus dan tidak  bagus dilihat dari lama penyimpanan dan penampakan bibitnya. Bibit yang digunakan seharusnya dari kebun pembibitan langsung bukan bibit dari pasar. Idealnya terdapat beda nyata baik secara hasil maupun tampilan tanaman, namun tidak terjadi bisa disebabkan oleh faktor bibit yang tidak terlalu bagus sehingga menyebabkan daya tumbuh antara keduanya tidak menunjukan perbedaan yang signifikan atau bahkan dari kedua bahan tersebut tidak tumbuh dengan baik. Bibit yang digunakan juga berasal dari pasar sehingga tidak dikettahui umur pasti bibit, bibit yang tidak memenuhi kriteria umur bibit yang baik tidak akan dapat tumbuh apabila ditanam dilapangan. Hal ini berkaitan dengan persediaan cadangan makanan yang ada serta kandungan kimia yang menunjang untuk pertumbuhan tersebut tidak memenuhi syarat. Dari semua hal tersebut diatas sudah menunjukan faktor yang relatif menghambat tumbuhnya tanaman jahe dan ditambah dengan faktor perawatan yang kurang makasimal dari praktikan menambah besar persentase kegagalan dalam budidaya jahe ini, jika perawatan dilakukan dengan initensif dan lebih sering dilakukan pemantauan terhadap tanaman dimungkinkan dapat meminimalisir kegagalan praktikum budidaya tanaman jahe tersebut dan hal ini menjadi koreksi bagi praktikan (mahasiswa) untuk lebih teliti dan intensif terhadap tanaman budidaya dalam praktikum selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V. KESIMPULAN

 

Berdasarkan hasil yang didapat dari pembahasan yang dilakukan diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain yaitu :

  1. Perlakuan menggunakan dua macam bahan tanam tidak memberikan hasil yang bebeda nyata. Yaitu bibit yang sudah lama dan yang masih bagus
  2. Pada tahap awal pertumbuhan bibit jahe memerlukan air yang cukup banyak sehingga pada tahap awal pertumbuhan pengairan perlu diperhatikan untuk memastikan jahe mendapatkan lingkungan yang menunjang untuk pertumbuhan.
  3. Asal usul bibit harus jelas untuk memastikan kualitas bibit begitu juga dengan umur bibit yang mana akan mempengaruhi sifat kimia bibit yang digunakan untuk penunasan ataupun pengakaran saat ditanam.
  4. Budidaya yang baik hendaknya memperhatikan musim yang ada, apabila musim kurang cocok maka memerlukan pekerjaan yang lebih, sehingga ini akan menjadikan kurang efisien.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonymous,a.2011. jahe. http://id.wikipedia.org/jahe/ ( diakses pada 29 Januari 2013 )

Anonymous,b.2011. budidaya jahe. ( diakses pada 29 Januari 2013 )

http://luqmanmaniabgt.blogspot.com/2012/10/makalah-kultur-jahe.htmlg (diakses 5 february 2013)

http://wirausaha.blog.unsoed.ac.id/files/2012/05/Panduan-Budidaya-Jahe.pdf( diakses pada 30 Januari 2013 )

http://www.google.com/jahe-budidaya( diakses pada 30 Januari 2013 )

http://www.scribd.com/doc/64566496/MAKALAH-JAHE (diakses 5 february 2013)

Soetajie,S.1993.  Budidaya jahe. Sari Ilmu. Yogyakarta

Sumarno,M. 1991. Jahe. Guna Dharma Karya. Bandung.

 


1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: