U_Miia04 'Blog

Beranda » ARTIKEL » PENANGANAN PANEN DAN PASCA PANEN SALAK PONDOH (Salacca zalacca Gaertner Voss.)

PENANGANAN PANEN DAN PASCA PANEN SALAK PONDOH (Salacca zalacca Gaertner Voss.)

Calendar

Oktober 2013
J S M S S R K
« Agu   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Like This Blog


salak pondoh

PANEN

Tanaman salak pondoh memiliki kemampuan berbunga sepanjang tahun apabila pemeliharaan dilakukan secara intensif. Musim panen raya terjadi pada musim hujan yaitu bulan November-Januari, masa panen kecil terjadi pada bulan Februari-April dan musim panen sedang terjadi pada bulan Mei-Juli. Pada bulan Agustus-Oktober buah yang ada di kebun sangat sedikit bahkan tidak ada.

Tanaman salak mulai berbuah setelah berumur 2 tahun jika tanamanberasal dari cangkok dan 3-4 tahun jika tanaman berasal dari biji. Buah salak termasuk buah non klimakterik sehingga hanya dapat dipanen jika benar-benar telah matang di pohon.Umur buah salak dari saat penyerbukan sampai buah siap panen adalah 24-25 minggu atau sekitar 5-7 bulan setelah penyerbukan dengan cara memotong tandan buah.

Adapun Ciri-ciri buah salak pondoh yang siap panen yaitu permukaan kulit bersih mengkilap, susunan sisiknya tampak lebih renggang, bila dipegang terasa lunak dan kulitnya tidak kasar, duri-duri kecil di permukaan kulit buah sudah tidak terlihat, dan mengeluarkan aroma salak. Sebagian besar petani mengetahui kriteria panen buah salak pondoh dari tandan, penampilan buah, dan aroma buah. Menurut Purnomo (2001), Salak yang telah matang kulitnya tampak bersih, mengkilat dan apabila dipegang tidak terasa kasar. Ujung kulit yang menempelpada tongkol terasa lunak jika ditekan.

Peralatan yang digunakan untuk memanen salak pondoh yaitu pisau, sabit, dan pahat yang tajam. Pemanenan dilakukan dengan cara memotong tandan buah dengan pisau atau sabit apabila buah dalam tandan matang keseluruhan. Jika buah matang hanya sebagian maka panen dilakukan dengan cara memuntir buah yang yang telah matang. Petani salak pondoh menggunakan keranjang bambu untuk menampung buah setelah panen.

Panen dilakukan pada pagi hari (pukul 08.00-10.00) saat buah sudah tidakberembun. Jika panen dilakukan terlalu pagi dan buah masih berembun makabuah akan mudah kotor dan bila luka sangat rentan terserang penyakit. Bila panendilakukan pada siang hari, buah akan mengalami penguapan sehingga susut lebih banyak.

PASCA PANEN

Penanganan pasca panen merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukanterhadap suatu jenis komoditas buah setelah selesai panen untuk mengurangi kerusakan dan mempertahankan kualitas serta umur simpan buah tersebut.

Tahap penanganan pasca panen secara umum meliputi pembersihan, penyortiran dan pengkelasan, pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan.

  1. A.   Pembersihan

Buah yang telah dipanen dibersihkan dari serasah dan sisa-sisa seludang yang masih melekat atau tangkai tandan yang terlalu panjang, serta dari sisa-sisaduri. Pembersihan dilakukan menggunakan sikat atau kuas dengan gerakan searahsusunan sisik.Kebersihan salak berpengaruh terhadap masa simpan buah salak (Siregar, 2007).

  1. B.   Penyortiran dan pengkelasan

Sortasi dilakukan cukup ketat untuk menghindari tercampurnya kualitas buah. Sortasi bertujuan untuk menghindarkan kerusakan akibat kontak atausentuhan antara buah yang sehat dengan buah yang berpenyakit atau busuk, sertauntuk memisahkan antara buah yang harus dipertahankan dalam satu tandan buahdan yang perlu dilepas dari tandan.

Menurut Siregar(2007) ,Sortasi bertujuan untuk memilih buah yang baik, tidak cacat, dandipisahkan dari buah yang busuk, pecah, tergores, atau tertusuk. Selain itu jugaberguna untuk membersihkan buah salak dari kotoran, sisa-sisa duri, tangkai, danranting.

Standar mutu salak Indonesia tercantum pada Standar Nasional Indonesia(SNI) 01-3167-1992. Salak dibagi dalam 2 (dua) kelas mutu, yaitu mutu I danmutu II (Tabel 2). Ukuran berat dibagi atas ukuran besar untuk salak yangberbobot 61 gram atau lebih per buah, ukuran sedang berbobot 33 – 60 g/buah,dan ukuran kecil berbobot 32 g atau kurang per buah.

Tabel 1. Kelas Mutu Salak Berdasarkan SNI 0- 3167-1992

Kriteria

Kelas Mutu

Mutu I

Mutu II

Ketuaan

Seragam tua

Kurang seragam

Kekerasan

Keras

Keras

Kerusakan kulit buah

Utuh

Kurang utuh

Ukuran

Seragam

Seragam

Busuk

1%

> 1%

Kotoran

Bebas

Bebas

Sumber: Deputi Menegristek, 2000

  1. C.   Pengemasan

Buah salak biasanya dikemas dalam keranjang bambu, peti kayu, kardus(kotak karton gelombang) atau kemasan tradisional khas sentra produksi, sepertisalak sidimpuan yang dikemas dalam karung anyaman pandan. Beberapa jeniskemasan salak pondoh untuk tujuan pasar lokal yang umum digunakan yaitukeranjang dari anyaman bambu sedangkan untuk tujuan pasar swalayan dikemasdengan polyetylene atau bungkus plastik (Siregar, 2007).

Tujuan pengemasan adalah untuk melindungi buah salak dari kerusakan,mempermudah dalam penyusunan, baik dalam pengangkutan maupun dalamgudang penyimpanan, dan untuk mempermudah. Jenis kemasan ada duajenis yaitu kemasan transportasi dan kemasan konsumen. Kemasan transportasiyaitu kemasan dengan kapasitas besar yang digunakan oleh pedagang selamamenuju tempat penjualan. Kemasan konsumen yaitu kemasan dengan kapasitaskecil untuk pemilihan, pengemasan, dan penimbangan produk yang dibeli oleh konsumen.

Pengemasan dengan keranjang bambu memiliki kelemahan yaitu anyamanbambu mudah lepas sehingga tidak cukup untuk melindungi buah, mudah berubahbentuk karena konstruksinya lemah, banyak buah memar akibat benturan sesamabuah dan daya simpan buah rendah.

Kendala yang sering dijumpai dalam pengemasan yaitu sering terjadi pencampuran buah yang berbeda tingkat kematangannya maupun kualitasnya. Buah yang matang apabila dicampur dengan buah yang tidak terlalu matang akan mempercepat proses pematangan, karena buah yang matang menghasilkan etilen.

  1. D.   Penyimpanan

Kegiatan penyimpanan biasanya dilakukan oleh pedagang pengumpul, pedagang pemasok, dan pedagang pengecer.Produk yang telah dikemas di dalam karung atau keranjang kemudian disimpandalam gudang penyimpanan atau disimpan di dalam rumah karena menunggupembeli selama 1-2 hari.

Ada pula Penyimpanan yang bertujuan untuk memperpanjang daya gunanya dan dalam keadaan tertentu memperbaiki mutunya, menghindarkan banjirnya produk ke pasar, meningkatkan keuntungan produsen, membantu pemasaran yang teratur, pengendalian laju transpirasi dan repirasi, serta infeksi penyakit (Pantastico, 1986).

  1. E.    Pengangkutan

Komoditas hortikultura memiliki sifat meruah dan sulit diangkut sehinggabiaya pengangkutan mahal (Harjadi, 1989). Faktor utama dalam sistempengangkutan ialah bahwa sistem itu harus mampu mendistribusikan buah-buahandan sayuran dalam lingkungan yang terkendali secara cepat dari daerah-daerahpenghasil utamanya ke konsumen. Pemilihan kendaraan angkutan bergantungpada taksiran umur komoditi, waktu dan jarak ke pasar, nilai komoditi, biayapengangkutan, dan tersedianya cara-cara pengangkutan itu (Pantastico, 1986)

Pengangkutan buah untuk tujuan luar kota dilakukan pada pagi hari (pukul 03.00–06.00) untuk menghindari panas matahari karena selama pengangkutanmenggunakan mobil pick-up produk hanya ditutup dengan terpal. Sinar mataharidapat menyebabkan kulit buah salak segar cepat mengering sehingga kulit lengket pada daging buah dan sukar dikupas serta masa simpan pendek.Pengangkutan pada sore atau malam hari menggunakan truk dilakukan apabilakondisi cuaca cerah dan menuju kota–kota besar.

  1. F.    Pemasaran

Pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalamnya individu ataukelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan denganmenciptakan, menawarkan dan secara bebas mempertukarkan produk yangbernilai dengan pihak lain (Kotler, 2002).

Menurut Limbong dan Sitorus (1987) lembaga pemasaran yang ada diIndonesia berasal dari petani kemudian disalurkan lewat tengkulak, Koperasi UnitDesa (KUD) maupun pedagang besar dan biasanya produk-produk pertanian yangdipasarkan berasal dari banyak produsen (petani).

  1. G.   Kehilangan Hasil

Kehilangan pasca panen adalah perubahan kuantitas dan kualitas produksetelah panen yang mengurangi kegunaan yang diharapkan atau menurunkan nilaiproduk tersebut. Kehilangan pasca panen dapat disebabkan cara panen yang tidaktepat, penanganan pasca panen yang kurang baik, transportasi yang buruk,kemasan yang kurang sesuai dan patogen (Kays, 1991).Kehilangan pasca panen yang terjadi pada buah-buahan dan sayur-sayuransegar dalam pertanian di daerah tropika mencapai jumlah yang besar. Infeksimelalui luka yang terjadi selama atau sesudah pemanenan merupakan sumberkerugian utama melalui pembusukan (Pantastico, 1986).

Salak pondoh mengalami kerusakan mekanis sebesar 6.5% setelahdiangkut dari Yogyakarta ke Malang. Sedangkan kerusakan tingkat petani padasaat panen di mencapai 4-5%, kerusakan ini disebabkan karena buah yang sudahterserang penyakit pada saat sebelum dipanen, buah tergores alat panen dan buahbusuk karena terlalu matang di pohon (Siregar, 2007).

  1. H.   Harga

Harga salak pondoh yang fluktuatif dipengaruhi oleh tingkat produksi dankualitas buah. Pada saatmusim panen raya harga salak cenderung turun, namun pada musim panen sedang(Februari-April) dan panen kecil (Mei-Juli) harga salak lebih tinggi. Harga salakpondoh bervariasi pada masing-masing pelaku pemasaran. Harga di tingkat petanipaling murah sebab jumlah petani lebih banyak dibanding jumlah pedagangsehingga harga pada umumnya ditetapkan oleh pedagang.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Deputi Menegristek. 2000. Salak. http://www.ristek..go.id/. [10 Februari 2008].

Harjadi, S. S. 1989. Dasar – Dasar Hortikultura. Fakultas Pertanian IPB. Bogor. 500 hal.

Kays, S. J. 1991. Postharvest Physiology of Perishable Plant Products. Van Nostrand Reinhold. New York. 532 p.

Kotler, P. 2002. Manajemen Pemasaran. PT. Prenhallindo. Jakarta. 412 hal.

Limbong, W. H. dan P. Sitorus. 1987. Tata Niaga Pertanian. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 124 hal.

Pantastico, Er. B. 1986. Fisiologi Pascapanen. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. 409 hal.

Purnomo, H. 2001. Budidaya Salak Pondoh. Aneka Ilmu. Semarang. 70 hal.

Sari, Oktafianti Kumara.2008.  Studi Budidaya Dan Penanganan Pasca Panen Salak Pondoh (Salacca zalacca Gaertner Voss.) Di Wilayah Kabupaten Sleman. Skripsi. Program Studi Hortikultura.Institut Pertanian Bogor. Bogor. 83 hal.

Siregar, W. L. S. 2007. Perancangan Kemasan Transportasi Buah Salak (Salacaaedulis) Berbahan Baku Pelepah Salak. Tesis. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 151 hal.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: