U_Miia04 'Blog

Beranda » ARTIKEL » Bayam jepang (Spinacia Oleracea L.)

Bayam jepang (Spinacia Oleracea L.)

Calendar

Mei 2014
J S M S S R K
« Feb   Agu »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Like This Blog


Bayam jepang (Spinacia Oleracea L.) adalah tanaman setahun yang ditanam diwilayah beriklim sedang, khusus untuk diambil daunnya. Sistem perakaran spinasi terdiri atas banyak akar serabut lateral dangkal, berkembang dari akar tunggang gemuk yang memiliki beberapa akar lateral besar. Segera setelah fase kecambah, tanaman mencapai pola pertumbuhan roset dengan banyak daun berdaging yang melekat pada batang pendek. Jarak tanam dan kondisi lingkungan berpengaruh terhadap jumlah dan ukuran daun. Bentuk lembar daun berkisar dari bulat telur atau mendekati segitiga hingga panjang dan bentuk kepala panah sempit, bentuk yang terakhir adalah panah yang berbentuk primitif. Sembir daun rata atau bergelombang dan permukaan daun rata, agak keriput, hingga sangat keriput. Penampakan melepuh jaringan keriput disebabkan oleh perbedaan pertumbuhan jaringan parenkina diantara vena daun. Tangkai daun biasanya sama panjang dengan lebar daun, dan sering menjadi berongga ketika daun telah berkembang penuh. Pola pertumbuhan daun beragam dimulai dari merayap hingga tegak, sebagian dipengaruhi oleh jarak tanam, kemiringan dan kerapatan. (Rubatzky dan Mas’amaguchi,1998)

img_3716Adapun klasifikasi tanaman bayam jepang adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae
Division  : Magnoliophyta
Class        : Magnoliopsida
Ordo        : Caryophyttales
Family     : Chenopodiaceae
Genus      : Spinacia
Species    : C. oleracea L.
(Munro, 1997)

Spinasi dikelompokkan sebagai tanaman berumah dua yang tidak sepenuhnya benar, karena terdapat variasi tipe kelamin. Tipe tanaman terdiri atas jantan, betina, atau sekaligus jantan betina, tingkat keberumah-satuan (monociousness) dipengaruhi secara genetik dan lingkungan. Bunga hermaprodit ( berkelamin ganda) kadang-kadang juga terlihat. (Decoteu,2000)

Berdasarkan bijinya, ada dua tipe tanaman, yaitu tanaman dengan biji berbentuk bundar rata, dan yang berbentuk bijinya tidak beraturan dan berduri. Kultivar berbiji berduri dianggap sebagai tipe musim dingin, dan yang berbiji bundar sebagai tipe musim panas. Kultivar biji berduri jarang ditanam. Sebelum masa Linnaeus, ahli taksonomi mengidentifikasi tipe bundar dan tipe berduri sebagai species yang berbeda, yaitu sebagai S. spinosa dan S. inermis. Di yakini bahwa tipe biji berduri terbentuk sebelum tipe biji bundar. (Rubatzky dan Mas’amaguchi,1998)

Pertumbuhan terbaik spinasi adalah bila suhu rata-rata 18-20 C, pada suhu 10 C pertumbuhan berlangsung lambat. Suhu juga mempengaruhi kualitas daun; suhu rendah cenderung mempertebal daun tetapi mengurangi ukuran dari
kerataannya. (Pierce, 1987)

Kedinian panen berkaitan dengan laju pertumbuhan, kultivar umur-genjah tumbuh cepat. Petani memilih kultivar disesuaikan dengan kondisi pertumbuhan agar diperoleh pertumbuhan cepat dan hasil tinggi, sambil menghindari bolting. Spinasi dapat tumbuh pada berbagai macam tipe tanah, tanaman ini menyukai tanah yang dapat menahan air dengan sangat baik dan berdrainase baik. Tanaman ini agak toleran terhadap salinitas, tetapi peka terhadap keasaman; kisaran pH yang sesuai adalah 6,5-8,0. persyaratan lengan biasanya tidak terlalu tinggi karena transpirasi berlangsung rendah selama musim dingin, saat tanaman spinasi biasanya ditanam; sekitar 250 mm sering dianggap cukup untuk satu tanaman. Namun, karena sistem perakarannya dangkal, tanaman ini dapat dengan mudah tercekam akibat kelengasan yang tidak mencukupi. Tanah tergenang juga pengaruh buruk tanaman. (Decoteu, 2000)

Pemupukan dengan Nitrogen umumnya meningkatkan produksi spinasi yang ditanam selama musim dingin karena rendahnya nitrifikasi pada suhu tanah yang rendah. Spinasi biasanya dipupuk dengan baik untuk meningkatkan kerimbunannya, dan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan yang sangat cepat, yang terjadi dalam waktu yang singkat sebelum panen. Sekitar dua pertiga biomassa dihasilkan selama sepertiga terakhir priode pertumbuhannya. Untuk memenuhi kebutuhan ini, penjadwalan pemupukan yang tepat sangat diperlukan.(Rubatzky dan Mas’amaguchi,1998)

IMG_5872Perkecambahan benih spinasi sudah optimum pada suhu 20 C, dan perkecambahan berlangsung lebih baik pada suhu rendah (5-10 C) ketimbang pada suhu tinggi (25 C), benih sering ditanam dalam barisan ganda atau dalam alur sempit (lebar 10 cm), pada guludan atau bedengan yang ditinggikan dengan kedalaman 1-3 cm. Jumlah benih per hektar beragam dengan tujuan penanaman yang diiginkan. Kerapatan tanaman untuk dijual segar rata-rata sekitar 60 tanaman per m2. Tanaman untuk dijual segar jarang dijarangkan; penjarangan dilakukan pada tanaman untuk pengolahan karena memerlukan banyak tenaga kerja.(Decoteau, 2000)

Pengelolaan gulma adalah faktor yang sangat berpengaruh, khususnya bagi pertanaman untuk pengolahan, karena gulma adalah kontaminan, dan beberapa jenis memiliki penampakan yang mirip spinasi sehingga sulit dipisahkan. ((Rubatzky dan Mas’amaguchi,1998)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: